BPS Sebut Pertamax Cs hingga Tiket Pesawat Kerek Inflasi Mei 2026

CNN Indonesia
Selasa, 16 Jun 2026 04:30 WIB
Aktivitas penerbangan terlihat di landasan pacu selatan di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Kamis (28/11/2024). Pemerintah sepakat menurunkan harga tiket pesawat untuk penerbangan domestik sebesar 10 persen selama periode Natal 2024 dan Tah
Kenaikan harga BBM non-subsidi seperti Pertamax, tarif angkutan udara, hingga minyak goreng jadi faktor yang mendorong inflasi pada periode tersebut. (FOTO:ANTARA/Muhammad Iqbal).
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi pada Mei 2026 mencapai 0,28 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) dan 3,08 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi seperti Pertamax, tarif angkutan udara, hingga minyak goreng menjadi sejumlah faktor yang mendorong inflasi pada periode tersebut.

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan inflasi pada Mei tahun ini relatif lebih rendah dibandingkan periode Hari Raya Idulfitri. Menurutnya, secara historis tekanan inflasi saat momentum Hari Raya Iduladha memang cenderung lebih rendah dibandingkan saat Lebaran.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Untuk bulan Mei 2026, secara year on year kita mengalami inflasi 3,08 persen dan secara month to month inflasinya sebesar 0,28 persen. Inflasi di bulan Mei 2026 ini sudah relatif rendah dibandingkan momen Idulfitri," kata wanita yang akrab disapa Winny itu dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah, Senin (15/6).

Winny menjelaskan penyebab inflasi Mei 2026 tak hanya berasal dari kelompok pangan, tetapi juga dari komponen inti dan komponen harga yang diatur pemerintah.

Berdasarkan data BPS, komponen inti mengalami inflasi sebesar 0,22 persen dengan andil terhadap inflasi mencapai 0,14 persen. Sementara komponen harga yang diatur pemerintah mencatat inflasi 0,52 persen dengan andil sebesar 0,10 persen.

[Gambas:Youtube]

"Kalau kita perhatikan dari grafik ini yang banyak memberikan andil inflasi di bulan Mei 2026 adalah dari inflasi kelompok inti dan harga diatur pemerintah," ujar Winny.

Menurut dia, sejumlah komoditas yang mendorong inflasi pada komponen inti antara lain minyak goreng, telepon seluler, laptop atau notebook, pelumas atau oli mesin, nasi dengan lauk, serta biaya pemeliharaan dan servis kendaraan.

Kenaikan harga pelumas, kata Winny, berkaitan dengan penyesuaian harga BBM yang terjadi sebelumnya.

"Untuk komponen inflasi inti penyebabnya antara lain adalah harga minyak goreng, telepon seluler, laptop, pelumas. Karena harga BBM naik, sehingga harga pelumas atau oli mesin juga mengalami kenaikan," ujarnya.

Di sisi lain, komponen harga yang diatur pemerintah turut terdorong oleh kenaikan harga bahan bakar rumah tangga, bensin non-subsidi, tarif angkutan udara, serta rokok kretek mesin.

Data BPS menunjukkan komponen harga yang diatur pemerintah mencatat inflasi 0,52 persen pada Mei 2026, lebih tinggi dibanding komponen inti maupun komponen harga bergejolak.

"Untuk komponen harga yang diatur pemerintah, inflasi disumbang oleh naiknya bahan bakar rumah tangga, bensin terutama yang non-subsidi, serta tarif angkutan udara," kata Winny.

Sementara itu, komponen harga bergejolak (volatile food) mengalami inflasi sebesar 0,22 persen dengan andil 0,04 persen terhadap inflasi nasional. Kelompok ini didorong oleh kenaikan harga cabai merah, bawang merah, tomat, beras, dan sawi hijau.

Kendati, Winny menegaskan kontribusi kelompok pangan terhadap inflasi Mei 2026 tidak sebesar komponen inti maupun harga yang diatur pemerintah.

"Untuk komoditas pangan selama bulan Mei 2026, andilnya terhadap inflasi bulan Mei tidak setinggi komponen inti dan komponen yang harga diatur pemerintah," ujarnya.

(del/ins) Add as a preferred
source on Google