Memahami Bitcoin Lewat Data: Panduan Analis Elev8 untuk Investor

Elev8 | CNN Indonesia
Rabu, 17 Jun 2026 14:34 WIB
Ilustrasi perdagangan Bitcoin. Jakarta, Selasa, 1 Maret 2022.
Ilustrasi. (Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia --

Bitcoin kembali menjadi perhatian setelah harganya mengalami koreksi dalam beberapa bulan terakhir. Momentum penurunan ini memicu diskusi penting mengenai dasar evaluasi nilai intrinsik Bitcoin untuk jangka panjang.

Menurut CNBC, pemilik bitcoin solid secara umum menjual sekitar senilai US$2,4 miliar mata uang digital di awal Juni, dengan 26% dari penjual baru-baru ini telah membeli di harga di atas US$90.000.

Sebagai aset digital terbesar di dunia, Bitcoin masih menjadi salah satu instrumen yang paling banyak diperdebatkan. Sebagian pihak melihatnya sebagai inovasi teknologi dan alternatif penyimpan nilai, sementara yang lain menilai pergerakan harganya masih didominasi spekulasi dan sentimen pasar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam satu dekade terakhir, harga Bitcoin telah mengalami kenaikan yang sangat signifikan. Namun, perjalanan tersebut tidak berlangsung secara lurus. Sejarah menunjukkan bahwa Bitcoin beberapa kali mengalami koreksi tajam sebelum kembali mencatat kenaikan pada periode berikutnya.

Saat ini, Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$63.000, turun dari level yang lebih tinggi sebelumnya. Menurut analis pasar keuangan Elev8, Kar Yong Ang, salah satu faktor yang menekan harga adalah pergeseran arus modal ke sektor lain yang sedang menarik perhatian investor.

"Ketika modal bergegas masuk ke raksasa teknologi dan penyedia perangkat keras, itu secara efektif menyedot likuiditas penting dari aset digital," ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (17/6).

Ia menilai musim laporan keuangan perusahaan pada kuartal pertama 2026 mendorong minat investor terhadap saham teknologi, khususnya yang terkait kecerdasan buatan (AI), semikonduktor, dan perangkat keras. Di saat yang sama, kenaikan harga minyak juga ikut bersaing memperebutkan alokasi dana investasi.

Tekanan tersebut tercermin pada perilaku investor Bitcoin. Sejumlah pemegang aset digital yang sebelumnya bertahan dalam berbagai fase penurunan pasar mulai melakukan penjualan ketika harga bergerak melemah.

Selain faktor likuiditas, pergerakan Bitcoin juga sering dikaitkan dengan siklus pasar yang lebih luas. Sebagian analis melihat adanya pola historis yang berhubungan dengan kalender politik dan ekonomi Amerika Serikat, meski pola tersebut tidak selalu terulang dengan hasil yang sama.

Sentimen pasar saat ini juga cenderung berhati-hati. Indikator Crypto Fear & Greed Index sempat menunjukkan tingkat pesimisme yang tinggi, menandakan banyak pelaku pasar memilih menunggu kepastian arah pergerakan berikutnya.

Di tengah kondisi tersebut, diskusi mengenai valuasi Bitcoin kembali menguat. Berbeda dengan saham yang dapat dianalisis melalui pendapatan perusahaan atau arus kas, Bitcoin memiliki pendekatan penilaian yang berbeda sehingga sering menimbulkan perbedaan pandangan.

Sebagian investor menilai Bitcoin berdasarkan kelangkaannya, mengingat jumlah pasokannya dibatasi hingga 21 juta koin. Sebagian lainnya menggunakan indikator on-chain yang mengukur aktivitas jaringan dan perilaku pemegang aset.

Data yang dikutip Elev8 menunjukkan rasio Market Value to Realized Value (MVRV) Bitcoin saat ini berada di bawah rata-rata historisnya. Dalam analisis aset digital, indikator tersebut sering digunakan untuk melihat apakah harga pasar berada di atas atau di bawah kecenderungan historis.

Di sisi lain, terdapat pula pendekatan yang memandang Bitcoin sebagai aset alternatif dalam menghadapi risiko ekonomi global. Salah satu model yang sering dibahas adalah teori yang membandingkan Bitcoin dengan instrumen lindung nilai terhadap risiko utang pemerintah.

Meski demikian, pendekatan tersebut masih bersifat teoritis dan tidak dapat dijadikan patokan tunggal untuk menentukan harga wajar Bitcoin. Pergerakan aset digital tetap dipengaruhi banyak faktor, mulai dari kondisi ekonomi, kebijakan moneter, hingga sentimen investor.

Dalam konteks yang lebih luas, sejumlah lembaga internasional memperkirakan kebutuhan pembiayaan melalui pasar obligasi akan terus meningkat. Kondisi ini menjadi salah satu alasan mengapa sebagian investor tetap memantau peran Bitcoin sebagai aset alternatif jangka panjang.

"Meskipun pasar saham yang bullish mungkin mengalihkan likuiditas dari aset digital hari ini, tekanan yang meningkat di pasar utang global dapat menciptakan prasyarat yang tepat bagi aset cadangan non-pemerintah alternatif, seperti Bitcoin, untuk bersinar di masa depan," papar Kar Yong Ang.

Namun, prospek tersebut tidak menghilangkan berbagai risiko yang masih membayangi. Salah satunya adalah arah kebijakan suku bunga di Amerika Serikat yang berpengaruh besar terhadap aliran dana global.

Ketika suku bunga tinggi, investor cenderung memiliki lebih banyak pilihan instrumen yang menawarkan imbal hasil tetap. Kondisi tersebut dapat mengurangi daya tarik aset yang tidak menghasilkan pendapatan berkala, termasuk Bitcoin.

Kar Yong Ang mengingatkan bahwa investor perlu memperhatikan sinyal pasar dan memahami risiko yang ada sebelum mengambil keputusan.

"Meskipun peran jangka panjang Bitcoin sebagai lindung nilai terhadap utang pemerintah tetap meyakinkan, para trader harus menunggu sinyal pembalikan yang jelas sebelum mengalokasikan modal," pungkasnya.

Perdebatan mengenai nilai dan masa depan Bitcoin kemungkinan akan terus berlanjut. Namun satu hal yang semakin dipahami banyak pelaku pasar adalah bahwa aset ini tidak lagi dipandang semata sebagai instrumen spekulatif, melainkan juga sebagai aset digital yang terus berkembang dan menjadi bagian dari diskusi ekonomi global yang lebih luas.

(rir) Add as a preferred
source on Google