Profil Pontjo Sutowo, Pengusaha yang Rebutan Hotel Sultan Lawan Negara

CNN Indonesia
Kamis, 18 Jun 2026 18:50 WIB
Nama Pontjo Sutowo kembali menjadi sorotan setelah Hotel Sultan di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, resmi dikosongkan pada Kamis (18/6). (CNN Indonesia/Taufiq Hidayatullah).
Jakarta, CNN Indonesia --

Nama Pontjo Sutowo kembali menjadi sorotan setelah Hotel Sultan di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, resmi dikosongkan pada Kamis (18/6).

Pengosongan itu menjadi babak akhir sengketa panjang antara negara dan PT Indobuildco, perusahaan milik Pontjo, terkait pengelolaan lahan Hotel Sultan yang telah berlangsung sejak awal 2000-an.

Perselisihan bermula dari perbedaan tafsir mengenai status hak atas lahan Hotel Sultan di kawasan GBK.

PT Indobuildco mengklaim telah memperpanjang Hak Guna Bangunan (HGB) yang berakhir pada 2003, sementara pemerintah berpegang pada Hak Pengelolaan Lahan (HPL) yang dimiliki negara melalui Sekretariat Negara.

Konflik tersebut bahkan sempat dibawa Pontjo ke jalur hukum pada 2006 dengan menggugat sejumlah pihak, mulai dari Badan Pertanahan Nasional (BPN), Menteri Sekretaris Negara, hingga Kantor Pertanahan Jakarta Pusat.

Lantas, siapa sebenarnya Pontjo Sutowo?

Pontjo Sutowo merupakan Presiden Direktur PT Indobuildco, perusahaan yang selama ini mengelola Hotel Sultan. Ia juga dikenal sebagai putra mendiang Ibnu Sutowo, tokoh militer sekaligus mantan petinggi Pertamina yang mendirikan perusahaan tersebut.

Pontjo lahir di Palembang pada 17 Agustus 1950. Ia merupakan anak keempat dari tujuh bersaudara pasangan Ibnu Sutowo dan Zaleha.

Saat masih kecil, Pontjo mengikuti sang ayah pindah ke Jakarta. Masa mudanya berlangsung ketika karier Ibnu Sutowo terus menanjak hingga menjadi salah satu figur paling berpengaruh di sektor minyak dan gas Indonesia pada era Orde Baru.

Pontjo sempat mengenyam pendidikan di Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan teknik mesin. Namun, ia tidak menyelesaikan studinya dan memilih terjun ke dunia usaha.

Karier bisnis Pontjo dimulai pada awal 1970-an saat mendirikan PT Adiguna Shipyard bersama kakaknya, Adiguna Sutowo. Perusahaan itu bergerak di bidang galangan kapal dan berkembang seiring meningkatnya aktivitas industri maritim nasional.

Usaha tersebut menjadi salah satu fondasi kerajaan bisnis keluarga Sutowo di luar sektor energi.

Nama Pontjo mulai erat dikaitkan dengan Hotel Sultan pada awal 1980-an. Saat itu, hotel yang sebelumnya bernama Jakarta Hilton International menghadapi berbagai tantangan operasional.

Pada 1982, Pontjo mengambil alih kepemimpinan PT Indobuildco dan mulai mengelola langsung bisnis perhotelan keluarga. Sejak saat itu, ia menjadi sosok utama di balik operasional Hotel Sultan.

Pengalamannya di sektor pariwisata juga membawanya aktif di berbagai organisasi industri. Ia pernah menjabat Ketua Umum Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) pada periode 1989 hingga 2001.

Selain itu, Pontjo juga dikenal aktif dalam berbagai organisasi bisnis dan kemasyarakatan, termasuk pernah memimpin Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) dan kini menjabat Ketua Umum Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan dan Putra-Putri TNI/Polri (FKPPI).

Meski tidak terlibat langsung dalam pembangunan Hotel Sultan pada awal 1970-an, Pontjo menjadi figur yang paling identik dengan hotel tersebut selama lebih dari empat dekade terakhir.

Di bawah kepemimpinannya, PT Indobuildco terus mempertahankan klaim atas lahan Hotel Sultan yang berada di kawasan GBK. Sengketa dengan pemerintah terkait status hak atas lahan itu bergulir sejak awal 2000-an dan berujung pada serangkaian proses hukum.

Setelah berbagai putusan pengadilan memenangkan negara, Hotel Sultan akhirnya dikosongkan pada Kamis (18/6). Peristiwa itu menandai berakhirnya penguasaan PT Indobuildco atas aset yang selama ini menjadi salah satu simbol bisnis keluarga Sutowo.

(lau/sfr)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK