Pendiri ESQ Nilai Program SEHATI BPJPH Dorong Ekonomi Halal Nasional
ESQ Corp menilai Program Sertifikasi Halal Gratis (SEHATI) telah membantu pengembangan usaha mikro dan kecil (UMK) secara nyata, serta meningkatkan kesejahteraan para pendamping proses produk halal (P3H) di seluruh Indonesia. Di sepanjang 2026. sebanyak lebih dari satu juta pelaku usaha menerima manfaat SEHATI.
Pada acara penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) Kerja Sama Jaminan Produk Halalendiri, pendiri ESQ Corp, Ary Ginanjar Agustian mengatakan, keberhasilan BPJPH dalam memperkuat ekosistem halal nasional perlu dipertahankan melalui kepemimpinan yang kuat, budaya organisasi yang sehat, serta pengelolaan talenta yang tepat.
"Tentu keberhasilan tersebut harus dipertahankan dengan leadership yang sangat baik, corporate culture yang kuat, dan manajemen talenta yang presisi sehingga pencapaiannya terus meningkat dan menjadi salah satu faktor unggulan dalam mendorong target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen," kata Ary di Kantor Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), Jakarta pada Kamis (18/6).
Ia berharap, BPJPH terus menjaga semangat dan komitmen dalam menjalankan tugasnya serta memiliki visi besar untuk masa depan Indonesia.
"Ke depan, BPJPH harus terus semangat, sungguh-sungguh, dan memiliki misi yang kuat untuk menjadikan BPJPH sebagai lokomotif menuju Indonesia Emas 2045," ujarnya.
Lebih lanjut, ia turut menyampaikan apresiasi Presiden Prabowo Subianto atas komitmen memperkuat ekosistem halal nasional melalui SEHATI.
"Saya mengapresiasi Bapak Presiden Prabowo yang memberikan satu juta sertifikat halal gratis untuk pengusaha UMK. Ini merupakan pencapaian yang luar biasa. Kita juga patut bersyukur karena halal value chain telah memberikan kontribusi hingga 27 persen terhadap Produk Domestik Bruto nasional. Ini adalah capaian yang perlu kita apresiasi bersama," ujar Ary.
Dalam sambutannya, Kepala BPJPH Ahmad Haikal Hasan menegaskan bahwa halal kini telah menjadi instrumen strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Ia menjelaskan, halal berfungsi sebagai mesin pendorong pertumbuhan ekonomi melalui penguatan daya saing produk, perluasan akses pasar, serta peningkatan kepercayaan konsumen di tingkat nasional maupun global.
"Kontribusi industri halal terhadap perekonomian nasional sangat besar 27 persen bagi PDB nasional. Ini menunjukkan bahwa halal bukan hanya urusan sertifikasi, tetapi juga menjadi bagian penting dalam pembangunan ekonomi Indonesia," ujar Haikal.
Saat ini, berbagai negara maju telah memiliki perspektif positif terhadap industri halal. Amerika Serikat memandang halal sebagai simbol kesehatan, sementara Korea Selatan menilai halal sebagai standar kebersihan berlapis, China melihat halal sebagai peluang ekonomi, dan Inggris mengaitkannya dengan keberlanjutan lingkungan.
(rea/rir)