Pertamina Ungkap Nasib Dua Kapal Tanker di Hormuz Usai AS-Iran Damai
PT Pertamina (Persero) mengungkap nasib dua kapal tanker yang tertahan di Selat Hormuz setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) perjanjian damai.
Dua kapal tanker yang tertahan di Selat Hormuz itu milik PT Pertamina International Shipping (PIS), yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro.
Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron menyambut baik penandatanganan MoU perjanjian damai tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pertamina menyambut positif setiap perkembangan yang mengarah pada terciptanya stabilitas dan perdamaian di kawasan Timur Tengah, termasuk pembukaan jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz sebagai jalur distribusi energi strategis dunia," katanya kepada CNNIndonesia.com, Jumat (19/6).
Melalui PIS, Baron mengatakan Pertamina terus melakukan pemantauan secara intensif terhadap perkembangan situasi keamanan di kawasan.
Pertamina disebut juga berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri, KBRI, otoritas setempat, dan mitra internasional guna memastikan keselamatan pelayaran dan kesiapan operasional armada.
Ia mengatakan saat ini dua kapal PIS masih berada di kawasan Teluk Arab dan dalam kondisi aman.
"Terkait rencana melintasi Selat Hormuz, keputusan operasional akan dilakukan berdasarkan hasil asesmen risiko terkini, rekomendasi otoritas terkait," ujar Baron.
Pertamina tetap mengedepankan aspek keselamatan awak kapal dan keamanan asset sebagai prioritas utama dalam setiap pengambilan keputusan operasional.
AS dan Iran menandatangani MoU yang menjadi cikal bakal perjanjian damai pada Rabu (17/6). MoU itu diteken Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian secara terpisah. Trump menandatanganinya di Prancis, sedangkan Pezeshkian di Iran.
Kesepakatan itu berisi 14 poin, di antaranya mengenai kesepakatan untuk menghentikan perang di semua front, termasuk di Lebanon.
Sejak perang AS-Israel vs Iran pecah, Lebanon selatan turut menjadi target serangan karena keterlibatan kelompok milisi Hizbullah. Hingga kini, Israel masih menyerbu Lebanon, walau kedua pihak sudah sepakat gencatan senjata pada April lalu.
Dalam MoU, AS dan Iran juga sepakat untuk membuka kembali Selat Hormuz yang ditutup Teheran usai diserang pada 28 Februari.
Pembukaan kembali Selat Hormuz akan dimulai dengan pembersihan ranjau selama 30 hari sejak kesepakatan diteken, dan dilanjutkan dengan perjalanan aman secara gratis bagi kapal-kapal komersial.
MoU juga mencakup janji Washington untuk mencabut blokade angkatan lautnya terhadap Teheran. Pasukan AS juga disebut akan mundur dari wilayah sekitar Iran dalam 30 hari setelah perjanjian final ditandatangani.
(dhz/pta) Add
as a preferred source on Google
