Badan Pangan PBB Ramal Pasar Gula Global Berbalik Surplus 3,9 Juta Ton

CNN Indonesia
Minggu, 21 Jun 2026 09:20 WIB
Pedagang menyusun bungkusan gula di Pasar Senen, Jakarta, Selasa (21/4/2020). Pedagang di pasar itu menjual gula seharga Rp19.000 per kilogram menjelang bulan Ramadhan. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/foc.
FAO memprediksi produksi gula mencapai 183,2 juta ton pada 2025/2026, sementara konsumsi sekitar 179,3 juta ton sehingga ada surplus 3,9 juta ton. (Foto: ANTARA FOTO/NOVA WAHYUDI)
Jakarta, CNN Indonesia --

Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) memperkirakan pasar gula global akan berbalik surplus 3,9 juta ton pada musim 2025/2026 setelah beberapa waktu dibayangi kekhawatiran pasokan.

Produksi gula diprediksi mencapai 183,2 juta ton, sementara tingkat konsumsi di angka 179,3 juta ton sehingga surplus 3,9 juta ton.

Badan pangan di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu menyebut kenaikan produksi di sejumlah negara produsen utama Asia diperkirakan melampaui pertumbuhan konsumsi dunia yang relatif melambat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam laporan Food Outlook edisi Juni 2026, FAO memproyeksikan produksi gula dunia mencapai 183,2 juta ton pada musim 2025/2026 (Oktober-September), naik 3,5 persen atau bertambah sekitar 6,1 juta ton dibanding musim sebelumnya.

"Pasar gula internasional diperkirakan beralih menuju surplus produksi pada musim 2025/26, mencerminkan pemulihan produksi global dan hanya pertumbuhan konsumsi yang moderat," tulis FAO dalam laporannya.

Kenaikan produksi terutama berasal dari Asia. FAO mencatat produksi gula di kawasan tersebut diperkirakan meningkat setelah tiga musim berturut-turut mengalami penurunan.

China diproyeksikan mencatat lonjakan produksi sebesar 12,3 persen berkat peningkatan produksi tebu. India juga diperkirakan kembali meningkatkan produksi meski curah hujan berlebih sempat mengganggu produktivitas tebu di sejumlah wilayah utama.

Sementara itu, Thailand diperkirakan membukukan kenaikan produksi yang kuat berkat kondisi cuaca yang mendukung.

"Produksi gula di Asia pada 2025/26 diperkirakan meningkat setelah tiga musim berturut-turut mengalami penurunan, didorong oleh kenaikan produksi di China, India, Pakistan, dan Thailand," tulis FAO.

Di sisi lain, produksi gula Brasil justru diperkirakan turun untuk tahun kedua berturut-turut. Sebagian besar tebu di negara eksportir gula terbesar dunia itu kini lebih banyak dialihkan untuk memproduksi etanol seiring meningkatnya permintaan bahan bakar nabati.

"Produksi gula Brasil diperkirakan menurun karena porsi tebu yang dialokasikan untuk produksi gula berkurang di tengah permintaan etanol yang lebih kuat," tulis FAO.

Meski demikian, penurunan produksi Brasil belum cukup untuk mengubah prospek pasokan global yang melimpah.

Lalu, FAO memperkirakan konsumsi gula dunia hanya tumbuh 0,9 persen menjadi 179,3 juta ton sepanjang musim 2025/2026. Laju konsumsi yang lebih lambat itu dipengaruhi perlambatan ekonomi global yang menekan permintaan dari industri makanan dan minuman, dua sektor yang menjadi konsumen utama gula dunia.

"Pertumbuhan konsumsi yang melambat terutama mencerminkan aktivitas ekonomi global yang lebih lemah, yang diperkirakan menekan permintaan dari sektor minuman dan pengolahan makanan," tulis FAO.

Dengan produksi yang lebih tinggi dan konsumsi yang tumbuh terbatas, FAO memperkirakan pasar gula dunia akan mencatat surplus sekitar 3,9 juta ton pada musim 2025/2026.

Prospek pasokan yang melimpah tersebut turut menekan harga gula internasional sepanjang musim berjalan. FAO mencatat harga gula global cenderung bergerak turun sejak November 2025 karena ekspektasi produksi yang membaik di Brasil, India, dan Thailand.

"Sejak November 2025, harga gula internasional secara umum bergerak menurun karena ekspektasi pasokan global yang melimpah pada musim ini," tulis FAO.

Bahkan, indeks harga gula menjadi salah satu komoditas pangan yang mengalami penurunan ketika harga minyak nabati, daging, dan serealia justru meningkat. FAO juga mencatat harga gula internasional kembali turun pada Mei 2026, menandai penurunan bulanan selama tiga bulan berturut-turut.

"Penurunan harga gula internasional pada Mei 2026 terutama didorong oleh membaiknya prospek panen 2026/27 di negara produsen utama, termasuk Brasil dan India," tulis FAO.

Selain faktor produksi, perbaikan arus logistik di Brasil turut membantu meredakan tekanan harga.

"Penurunan harga gula juga didukung oleh meredanya kemacetan logistik di pelabuhan Brasil serta pelemahan nilai tukar real Brasil terhadap dolar AS yang mendorong peningkatan ekspor," tulis FAO.

Bagaimana dengan RI?

Di tengah proyeksi surplus global tersebut, Indonesia justru diperkirakan akan meningkatkan impor gula pada musim 2025/2026. FAO menyebut kenaikan impor RI akan menjadi salah satu faktor yang menopang perdagangan gula dunia, bersama China dan Uni Eropa.

"Di Asia, peningkatan impor dari China dan Indonesia diperkirakan akan lebih dari cukup untuk mengimbangi penurunan pembelian oleh India," tulis FAO.

Meski tidak merinci volume impor Indonesia dalam laporan tersebut, FAO menilai kebutuhan impor masih diperlukan untuk memenuhi permintaan domestik yang terus tumbuh.

Secara global, perdagangan gula diperkirakan naik tipis 0,6 persen menjadi 64,1 juta ton. Kenaikan terutama didorong bertambahnya pasokan ekspor dari Thailand yang diperkirakan mampu menutupi penurunan ekspor dari Uni Eropa.

FAO juga menyoroti konflik yang terjadi di Timur Tengah sepanjang 2026 sempat mengganggu arus perdagangan gula dunia, terutama melalui Selat Hormuz yang menjadi jalur penting pengiriman gula ke pasar Asia.

"Konflik 2026 di Timur Tengah telah mengganggu arus perdagangan gula melalui Selat Hormuz, jalur maritim penting bagi pengiriman gula menuju dan dari pusat pemurnian gula di kawasan Teluk," tulis FAO.

Namun tekanan tersebut mulai mereda setelah volume pelayaran kembali stabil menjelang akhir Mei.

Ke depan, FAO memperingatkan bahwa arah pasar gula dunia masih akan dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari perkembangan produksi etanol di Brasil, potensi kemunculan El Nino yang dapat memengaruhi produksi India dan Thailand, hingga dinamika harga energi global yang berpengaruh terhadap biaya produksi dan transportasi gula.

[Gambas:Youtube]

(del/pta) Add as a preferred
source on Google