Investor Asing Masih Was-was Masuk RI Meski Ada Reformasi Pasar Modal

CNN Indonesia
Rabu, 24 Jun 2026 10:55 WIB
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjungkal 9,19 persen pada Selasa (8/4) atau perdagangan perdana setelah libur panjang Lebaran 2025. Berdasarkan RTI Business, IHSG turun drastis sebesar 598,55 poin atau 9,19 persen ke level 5.912. CNN Indonesia/S
Investor asing ternyata masih khawatir masuk ke Indonesia meski OJK, BEI dan KSEI telah melakukan reformasi bursa saham RI. (Foto: CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia --

Investor asing ternyata masih khawatir masuk ke pasar modal RI meskipun Otoritas Jasa Keuangan (OJK), PT Bursa Efek Indonesia (BEI), dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) telah melakukan reformasi pasar saham Tanah Air.

Kekhawatiran investor internasional itu terungkap dalam Lembaga penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) bertajuk MSCI 2026 Market Classification Review yang dirilis hari ini (24/6).

Dalam tinjauannya, MSCI menyebut investor asing menyampaikan kekhawatiran menyoroti kurangnya transparansi yang berkelanjutan dalam struktur kepemilikan saham. Investor global juga mencurigai adanya praktik perdagangan yang terkoordinasi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut MSCI, kedua persoalan tersebut secara signifikan membatasi kemampuan investor untuk menilai jumlah saham beredar bebas (free float) yang sebenarnya dan mengandalkan harga pasar yang terbentuk untuk keperluan penyusunan portofolio maupun replikasi indeks.

"Untuk Indonesia, pelaku pasar menyampaikan kekhawatiran yang mendalam terkait kelayakan investasi (investability) yang bersumber dari berbagai persoalan tersebut," tulis MSCI.

MSCI juga mengakui reformasi transparansi pasar modal RI yang baru-baru ini diumumkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), PT Bursa Efek Indonesia (BEI), dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menuju arah yang tepat.

Reformasi tersebut antara lain peningkatan keterbukaan informasi pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1 persen, klasifikasi investor yang lebih rinci, penerapan kerangka High Shareholding Concentration (HSC) atau Konsentrasi Kepemilikan Saham Tinggi, serta peta jalan untuk menaikkan batas minimum saham beredar bebas (free float) menjadi 15 persen.

MSCI menyebut meskipun berbagai langkah perbaikan itu menuju arah yang tepat, tetapi bagi investor internasional hal tersebut belum cukup.

"Bagi investor internasional yang terpenting adalah implementasi yang konsisten, juga dampak berkelanjutan dari kebijakan-kebijakan tersebut di seluruh pasar," ujar tinjauan MSCI.

Selain itu, MSCI akan terus menilai cakupan, konsistensi, dan efektivitas jangka panjang dari langkah-langkah tersebut, baik dalam konteks penentuan free float maupun penilaian kelayakan investasi secara lebih luas.

MSCI mewanti-wanti status Indonesia bisa turun kelas dari emerging market ke frontier market jika pada tinjauan November tidak ada perbaikan yang seharusnya.

"Apabila hingga MSCI Index Review November 2026 tidak terlihat kemajuan yang memadai, MSCI akan mempertimbangkan berbagai opsi terkait perlakuan yang tepat terhadap pasar Indonesia. Opsi tersebut berpotensi mencakup konsultasi untuk mengubah klasifikasi Indonesia dari Pasar Berkembang (Emerging Markets) menjadi Pasar Frontier (Frontier Markets),"pungkasnya.

[Gambas:Video CNN]

(fln/pta) Add as a preferred
source on Google