Presiden Sambut Sukses Swasembada Pangan Nasional, Bantu Negara Lain

Kementan | CNN Indonesia
Kamis, 25 Jun 2026 11:29 WIB
(Foto: dok Kementan)
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa capaian sektor pertanian yang dipimpin Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman menunjukkan bahwa Indonesia berada di jalur yang tepat menuju swasembada pangan yang kokoh. Terlebih, Indonesia kini mulai mampu membantu negara lain melalui surplus produksi dan pasokan sarana produksi pertanian.

Ia menilai, Indonesia kini berada pada posisi yang semakin kuat dalam menjaga ketahanan pangan, serta membantu memenuhi kebutuhan pangan dunia tengah ancaman krisis pangan global.

Hal itu disampaikan Presiden saat menghadiri puncak Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII Tahun 2026 di Gorontalo, Rabu (24/6). Prabowo mengungkapkan, Perdana Menteri Australia pun menghubunginya secara langsung untuk membeli surplus pupuk Indonesia.

"Saya ditelepon Perdana Menteri Australia. Beliau berterima kasih karena Indonesia punya surplus pupuk dan bertanya apakah bisa membeli pupuk dari Indonesia. Saya bilang silakan, kirim ke mereka," kata Prabowo.

Saat ini, persoalan pangan diakui Prabowo merupakan isu paling mendasar bagi setiap negara. Menurutnya, berbagai lembaga internasional telah memperingatkan potensi peningkatan jumlah penduduk dunia yang kelaparan akibat krisis global.

"Alhamdulillah sekarang kita sudah mulai ekspor, kita membantu negara-negara lain. Banyak negara meminta pupuk dari kita, meminta beras dari kita, meminta jagung dari kita," katanya.

Di hadapan lebih dari 100 ribu petani, nelayan, penyuluh, dan pelaku usaha pertanian yang menghadiri PENAS XVII, Prabowo kemudian menegaskan komitmen pemerintah untuk menjaga dan memperkuat swasembada pangan nasional secara berkelanjutan.

Lebih lanjut, ia meminta agar keberhasilan pangan ini tidak membuat pemerintah lengah, antara lain setiap kebijakan pertanian yang harus tetap berorientasi pada kesejahteraan petani.

"Asal harganya benar. Petani jangan rugi," katanya.

Presiden juga menyinggung tentang pengembangan hilirisasi kelapa sawit melalui program B50 yang akan diluncurkan pada Juli mendatang. Program tersebut diyakini akan memperkuat nilai tambah sektor pertanian, serta mendukung kemandirian energi nasional.

NTP 127, Tertinggi dalam 34 Tahun

Pada kesempatan yang sama, Mentan Amran melaporkan capaian keberhasilan kebijakan di sektor pertanian selama pemerintahan Presiden Prabowo. Kesejahteraan petani Indonesia mencatat capaian tertinggi dalam 34 tahun terakhir, ditandai dengan Nilai Tukar Petani (NTP) yang mencapai 127.

"Izin, Bapak Presiden, NTP atau Nilai Tukar Petani sebagai indikator kesejahteraan petani mencapai 127, tertinggi dalam 34 tahun terakhir. Kemudian pertumbuhan ekonomi sektor pertanian mencapai 5,74 persen, tertinggi dalam 25 tahun terakhir," ujar Amran.

Selain itu, ekspor sektor pertanian meningkat hingga Rp166 triliun, sementara impor turun Rp41 triliun. Dengan berbagai capaian tersebut, total manfaat ekonomi yang dinikmati petani diperkirakan mencapai Rp200 triliun.

Mewakili petani Indonesia, Amran juga menyampaikan apresiasi atas kebijakan Presiden seperti penurunan harga pupuk sebesar 20 persen yang untuk pertama kalinya terjadi sejak Indonesia merdeka.

"Kami mengucapkan terima kasih mewakili petani Indonesia. Harga pupuk yang selama ini sejak Indonesia merdeka selalu naik, pada masa kepemimpinan Bapak Presiden justru turun 20 persen. Ini belum pernah terjadi sebelumnya," ujarnya.

Lalu, pemerintah juga melakukan deregulasi dan penyederhanaan distribusi pupuk sehingga akses petani terhadap sarana produksi menjadi lebih mudah dan cepat. Program hilirisasi komoditas strategis seperti kakao, mete, dan tebu seluas 870 ribu hektare yang diproyeksikan menciptakan sedikitnya 3 juta lapangan kerja hingga tahun 2029 pun terus digenjot.

"Bibit gratis, pengolahan lahan gratis, penanaman gratis. Ini merupakan arahan langsung dari Bapak Presiden untuk meningkatkan kesejahteraan petani," kata Amran.

Sementara itu, di sektor perkebunan, Mentan melaporkan harga tandan buah segar (TBS) sawit yang sempat turun kini kembali normal, bahkan berpotensi naik hingga 10 persen seiring peningkatan harga CPO dunia.

Untuk melindungi petani sawit, Kementerian Pertanian bersama Polri melakukan pengawasan terhadap 274 perusahaan sawit yang sebelumnya tidak menyesuaikan harga TBS.

"Kita harus menjaga kesejahteraan 15 juta petani sawit Indonesia. Karena itu, jika ada pihak yang tidak menaikkan harga TBS sesuai ketentuan, akan dilakukan pemeriksaan," ujar Amran.

Adapun Ketua KTNA Nasional, Mohammad Yadi Sofyan Noor menyampaikan apresiasi atas keberpihakan Presiden terhadap petani dan nelayan Indonesia.

"Kami dari KTNA menyampaikan penghargaan kepada Bapak Presiden atas perhatian, kepedulian, dukungan, dan keberpihakan beliau kepada petani dan nelayan Indonesia," ujarnya.

Sebagai bentuk penghargaan, KTNA menganugerahkan Lencana Emas Adibakti Tani Nelayan Maha Utama kepada Presiden Prabowo Subianto atas kontribusi dan komitmennya memajukan sektor pertanian, serta mendorong kesejahteraan petani dan nelayan Indonesia.

(rea/rir)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK