Bahlil Tahan Ekspor Batu Bara Demi Listrik PLN
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menahan ekspor batu bara demi memastikan pasokan ke PT PLN (Persero) terpenuhi. Bahlil mengatakan atas perintah Presiden Prabowo Subianto kejadian pemadaman listrik jangan sampai terulang lagi.
Menurutnya kebutuhan batu bara untuk pembangkit listrik tahun ini masih kurang 13 juta metrik ton.
Bahlil menyebutkan total kebutuhan batu bara PLN selama setahun sebesar 154 juta metrik ton. Namun, saat ini baru terpenuhi 141 juta metrik ton (MT).
Padahal, harusnya dengan kebijakan kewajiban pemenuhan pasar domestik (Domestic Market Obligation/ DMO) pasokan PLN tak ada masalah, bahkan melebihi kebutuhan.
Sebab, perusahaan batu bara yang berkomitmen dan bersedia untuk menyuplai ke PLN itu dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) sebanyak 160 juta MT-170 juta MT.
"Artinya dari 1 Januari sampai dengan bulan Juni, dari 154 juta kurang 141 juta. Itu kan berarti tinggal 13 juta, masak batubara habis di bulan enam (Juni)? Ini ilmu Abu Leke apalagi gitu loh," ujar Bahlil dalam Energy Forum CNBC Indonesia, Kamis (25/6).
Bahlil mencurigai ada sesuatu yang membuat perusahaan tidak melaksanakan komitmennya. Oleh sebab itu, pemerintah memutuskan untuk menahan sementara ekspor batu bara.
"Karena seperti itu, maka atas arahan Bapak Presiden, kami tidak ingin kejadian ini terulang lagi, sekarang kan sudah jalan normal ini sekarang, dari beberapa yang harus ekspor keluar kita tahan, kebutuhan dalam negeri," jelasnya.
Selain itu, Bahlil menekankan akan membentuk tim pengadaan energi primer dengan melibatkan Inspektorat Jenderal Kementerian ESDM, PLN, serta berada dalam pengawasan aparat penegak hukum guna memastikan proses pengadaan berjalan transparan dan tidak lagi memunculkan masalah yang sama setiap tahun.
"Bagaimanapun, PLN ini menyangkut hajat hidup orang banyak, dan karena itu menjadi kewajiban kita khususnya pemerintah dan PLN untuk menjaga dan memastikan agar masyarakat dapat dilayani dengan baik," pungkasnya.
(ldy/sfr)