BI Rate Naik ke 5,75 Persen, Allo Bank Tak Langsung Kerek Bunga Kredit

CNN Indonesia
Kamis, 25 Jun 2026 20:11 WIB
Allo Bank menyatakan kenaikan BI Rate menjadi 5,75 persen tidak otomatis membuat perusahaan menaikkan bunga kredit kepada nasabah. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Adi Ibrahim).
Jakarta, CNN Indonesia --

PT Allo Bank Indonesia Tbk menyatakan kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) dan tingkat bunga penjaminan (TBP) simpanan oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) tidak otomatis membuat perusahaan menaikkan bunga kredit kepada nasabah.

Komisaris Utama Independen Allo Bank Aviliani mengatakan penetapan bunga kredit tetap mempertimbangkan biaya dana (cost of fund) dan profil risiko nasabah, bukan semata-mata mengikuti pergerakan suku bunga acuan.

"Dengan BI Rate, tidak otomatis kita menaikkan (bunga kredit), tetapi tetap melihat cost yang kita keluarkan. Jadi kalau dilihat sebenarnya cost kita sangat efektif, cukup rendah," ujar Aviliani usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Allo Bank di Jakarta, Kamis (25/6).

Pernyataan itu disampaikan setelah Bank Indonesia kembali menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) 17-18 Juni 2026. Kenaikan tersebut merupakan yang ketiga dalam kurun waktu sekitar satu bulan terakhir.

Di sisi lain, LPS pada Kamis (25/6) juga mengumumkan kenaikan tingkat bunga penjaminan simpanan rupiah di bank umum menjadi 3,75 persen untuk periode 1 Juli hingga 30 September 2026.

Menanggapi kebijakan tersebut, Aviliani mengatakan setiap bank memiliki strategi berbeda dalam menentukan tingkat bunga simpanan. Penyesuaian bunga harus mempertimbangkan keseimbangan antara penyaluran kredit dan penghimpunan dana pihak ketiga.

"Sebenarnya kalau kita melihat penyesuaian antara berapa kredit yang kita berikan dengan dana. Jadi memang beda-beda setiap bank. Yang penting tetap sesuai dengan batasan LPS," katanya.

Ia menambahkan bank digital memiliki karakteristik berbeda dibandingkan bank konvensional dalam mengelola dana masyarakat. Karena itu, ruang penyesuaian suku bunga simpanan juga akan disesuaikan dengan kebutuhan likuiditas masing-masing bank.

"Kita melihat berapa kredit yang kita berikan tentunya disesuaikan dengan dana," ujar Aviliani.

Aviliani mengatakan fokus bisnis Allo Bank pada 2026 adalah memperluas kerja sama dengan mitra bisnis untuk mendorong pertumbuhan pembiayaan, terutama melalui produk paylater.

Menurutnya, strategi tersebut dipilih karena dinilai mampu menekan risiko kredit bermasalah dibandingkan penyaluran pinjaman langsung kepada individu.

"Kalau kita hanya melakukan pinjaman kepada perorangan tanpa ada mitra bisnis, itu akan sulit. Biasanya tingkat NPL-nya juga cukup besar," katanya.

Ia menilai kerja sama dengan mitra bisnis memungkinkan bank melihat pola transaksi dan perilaku belanja calon nasabah sebelum memberikan fasilitas pembiayaan.

"Kita tetap ekspansi, tetapi tetap berhati-hati dalam pemberian kredit. Dengan mitra bisnis, kita bisa melihat tren belanja nasabah sehingga profil risikonya lebih terukur," ujar Aviliani.

Allo Bank sebelumnya membukukan laba bersih Rp574,26 miliar sepanjang 2025 atau naik 23 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Dalam RUPST 2026, pemegang saham menyetujui pembagian dividen tunai sebesar Rp286,97 miliar atau setara 50 persen dari laba bersih tahun buku 2025.

(lau/pta)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK