Siswa SMA Kembangkan IndoChar untuk Olah Limbah Tani Jadi Solusi Iklim
Upaya mengatasi perubahan iklim tidak selalu lahir dari lembaga besar atau perusahaan teknologi. Di Indonesia, sebuah inisiatif yang digagas oleh tiga siswa sekolah menengah atas (SMA) mencoba menawarkan pendekatan berbeda dengan memanfaatkan limbah pertanian sebagai solusi iklim yang sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat desa.
Inisiatif tersebut bernama IndoChar. Program ini didirikan oleh siswa Jakarta Intercultural School (JIS), David N. Chung, yang kemudian mengajak Aranya Surjawirawan dari Springfield International School dan Rafael Benjamin Ali dari Jakarta Nanyang School.
Ketiganya dipersatukan oleh ketertarikan pada isu perubahan iklim dan keyakinan bahwa inovasi harus memberi manfaat nyata bagi masyarakat luas. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) turut memberikan apresiasi dan dukungan terhadap inisiatif ini sebagai bentuk dorongan terhadap kapabilitas talenta muda Indonesia.
IndoChar berfokus pada penghilangan karbon melalui pemanfaatan biochar dengan pendekatan ekonomi sirkular. Limbah pertanian dan kehutanan yang sebelumnya dibiarkan menumpuk atau dibakar diolah menjadi biochar, material kaya karbon yang meningkatkan kualitas tanah dan menyimpan karbon dalam jangka panjang.
Untuk menjaga transparansi, IndoChar membangun sistem Digital Monitoring, Reporting and Verification (DMRV). Sistem ini mencatat dan memverifikasi data produksi biochar, penggunaannya di lahan, serta proses penghilangan karbon secara digital agar dampak lingkungannya dapat ditelusuri.
Biochar yang dihasilkan dimanfaatkan petani untuk menyuburkan tanah, sementara karbon yang tersimpan permanen menghasilkan Carbon Removal Credits. Kredit ini dapat diperdagangkan kepada perusahaan yang memiliki target dekarbonisasi dan komitmen net-zero.
Inisiatif ini hadir di tengah dua tantangan besar di Indonesia, yakni limbah biomassa pertanian yang mencapai lebih dari 200 juta ton per tahun, serta kebutuhan dunia yang meningkat terhadap solusi pengurangan emisi karbon yang terukur dan dapat diverifikasi.
Gagasan mendirikan IndoChar muncul setelah David N. Chung mengikuti program magang di perusahaan konservasi Forest Carbon pada 2025, saat usianya masih 15 tahun. Selama program tersebut, ia mengunjungi sejumlah desa di Sumatera Selatan dan melihat langsung tantangan yang dihadapi masyarakat pedesaan.
Ia mengamati limbah biomassa dari aktivitas pertanian dan kehutanan kerap dibakar hingga menimbulkan emisi karbon dan polusi udara. Di sisi lain, banyak petani setempat masih menghadapi keterbatasan ekonomi.
"Yang menarik bagi kami adalah bagaimana satu solusi berkelanjutan dapat menciptakan nilai bagi banyak pihak sekaligus, petani diuntungkan, kualitas tanah meningkat, limbah berkurang, dan karbon dapat dihilangkan dari atmosfer secara bersamaan," ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (25/6).
Pemikiran itu yang mendasari lahirnya IndoChar sebagai inisiatif terintegrasi yang menggabungkan inovasi teknologi, aksi iklim, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Perjalanan IndoChar dimulai pertengahan 2025 melalui proyek percontohan di Lampung Selatan.
Dalam proyek tersebut, residu pertanian dari petani lokal diolah menjadi biochar melalui proses pirolisis menggunakan fasilitas produksi berstandar internasional. Berkat keberhasilan itu, dalam waktu kurang dari satu tahun, IndoChar mengantongi pendanaan awal dari beberapa perusahaan multinasional di bidang lingkungan.
Tonggak berikutnya tercapai pada 18 Juni 2026, saat IndoChar resmi meluncurkan proyek implementasi pertamanya di Desa Kepayang, Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Di desa berpenduduk sekitar 2.600 jiwa itu, mereka memasang lima unit fasilitas produksi untuk mengolah limbah pertanian warga di kawasan lahan gambut.
Solusi ini menjadi alternatif pengelolaan yang efektif guna menghindari praktik pembakaran terbuka yang berisiko tinggi di ekosistem gambut setempat. Kepala Desa Kepayang, Berry Andrianto, menyambut positif implementasi proyek tersebut.
"IndoChar menawarkan solusi yang tidak hanya membantu mengurangi limbah, tetapi juga menciptakan manfaat bagi masyarakat. Kami berharap program ini dapat memberikan dampak jangka panjang bagi lingkungan dan warga desa," ucap dia.
Model yang dikembangkan IndoChar dirancang agar dapat direplikasi pada berbagai komunitas pertanian dan perkebunan di Indonesia yang menghadapi tantangan serupa. Dengan memanfaatkan limbah biomassa lokal dan teknologi yang relatif sederhana, pendekatan ini berpotensi diperluas tanpa bergantung pada infrastruktur kompleks.
Dalam satu tahun ke depan, IndoChar menargetkan ekspansi ke tiga hingga lima lokasi baru di berbagai wilayah Indonesia. Bagi IndoChar, keberhasilan proyek ini bukan semata tentang menghasilkan biochar atau menghilangkan karbon.
Tujuan utamanya adalah membangun model di mana masyarakat desa menjadi bagian dari solusi perubahan iklim sekaligus memperoleh manfaat langsung. Hal ini diyakini penting agar inisiatif dapat bertahan dalam jangka panjang.
Keyakinan yang diusung adalah bahwa usia bukan batasan untuk berkontribusi. Generasi muda dinilai memiliki kesempatan besar menciptakan perubahan global melalui ilmu pengetahuan, teknologi, dan kolaborasi yang konsisten bersama masyarakat.
Melalui moto Helping Farmers, Healing Soil, Removing Carbon, IndoChar menunjukkan bahwa inovasi yang digerakkan generasi muda dapat menjawab tantangan perubahan iklim secara inklusif. Kolaborasi ini menjadi contoh model pembangunan berkelanjutan yang bermanfaat bagi masyarakat lokal dan berpotensi direplikasi di berbagai daerah di Indonesia.
(rir)