Ekonomi Venezuela Diprediksi Rugi Rp1.795 T Imbas Gempa Dahsyat

CNN Indonesia
Kamis, 25 Jun 2026 19:15 WIB
Emergency services work at the site of a collapsed building after an earthquake in Caracas, Venezuela, June 24, 2026. (REUTERS/Leonardo Fernandez Viloria)
Dua gempa besar yang mengguncang Venezuela diperkirakan memicu kerugian ekonomi hingga US$100 miliar atau sekitar Rp1.795,92 triliun. (REUTERS/Leonardo Fernandez Viloria).
Jakarta, CNN Indonesia --

Dua gempa besar yang mengguncang Venezuela diperkirakan memicu kerugian ekonomi hingga US$100 miliar atau sekitar Rp1.795,92 triliun (asumsi kurs Rp17.943 per dolar AS).

Nilai tersebut hampir setara dengan ukuran seluruh perekonomian negara Amerika Latin itu yang selama bertahun-tahun dilanda krisis.

Berdasarkan pemodelan awal United States Geological Survey (USGS) yang dilansir CNN, kerugian ekonomi akibat gempa berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 diperkirakan berada di kisaran US$10 miliar hingga US$100 miliar, atau sekitar Rp179,53 triliun-Rp1.795,9 triliun.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gempa yang menjadi yang terkuat dalam lebih dari satu abad terakhir di Venezuela itu terjadi ketika kondisi ekonomi negara tersebut belum sepenuhnya pulih.

Produk domestik bruto (PDB) Venezuela menyusut sekitar 80 persen sejak 2013 akibat kombinasi sanksi ekonomi Amerika Serikat, hiperinflasi, korupsi, serta buruknya pengelolaan sektor minyak.

Situasi semakin berat karena bencana diperkirakan akan mengganggu upaya pemulihan ekonomi yang mulai dijalankan pemerintahan sementara di bawah Presiden Delcy Rodriguez.

Meski produksi minyak perlahan meningkat setelah sebagian sanksi AS dilonggarkan, inflasi masih tinggi dan daya beli masyarakat tetap lemah.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebelumnya memperkirakan hampir 8 juta warga Venezuela, atau sekitar sepertiga populasi, masih membutuhkan bantuan kemanusiaan sepanjang 2025.

Gempa juga diperkirakan memperburuk gangguan rantai pasok barang kebutuhan pokok yang selama ini sudah menjadi persoalan di Venezuela. Ketersediaan bahan bakar, obat-obatan, hingga kebutuhan sehari-hari disebut masih sering mengalami kelangkaan.

Selain menghancurkan bangunan, guncangan kuat juga berpotensi memicu kebakaran akibat kebocoran pipa gas maupun kerusakan sistem kelistrikan.

Ahli seismologi California Institute of Technology Lucy Jones mengatakan dampak lanjutan seperti kebakaran dapat membuat nilai kerugian ekonomi akibat gempa meningkat hingga dua kali lipat.

Di sisi lain, industri minyak Venezuela yang menjadi tulang punggung ekonomi negara itu masih membutuhkan investasi miliaran dolar AS untuk kembali mendekati tingkat produksi pada akhir 1990-an.

Pemerintah sementara Venezuela juga menghadapi tantangan besar dalam membiayai penanganan korban dan rekonstruksi.

Infrastruktur publik, mulai dari rumah sakit hingga jaringan listrik dan air bersih, dinilai belum siap menghadapi bencana berskala besar setelah bertahun-tahun mengalami minim investasi.

Hingga kini, pemerintah sementara Venezuela melaporkan sedikitnya 32 orang meninggal dunia dan sekitar 700 orang terluka akibat gempa. Jumlah korban diperkirakan masih dapat bertambah seiring proses pencarian dan evakuasi yang masih berlangsung.

Rodriguez telah menetapkan status keadaan darurat dan menyatakan seluruh jaringan layanan kesehatan publik maupun swasta dikerahkan untuk menangani para korban. Pemerintah juga membentuk satuan tugas khusus guna mengoordinasikan operasi pencarian dan penyelamatan.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyatakan Washington siap memberikan bantuan kepada Venezuela.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga mengatakan pemerintah akan mengirim tim pencarian dan penyelamatan, bantuan medis, serta bantuan kemanusiaan untuk mendukung penanganan pascagempa.

[Gambas:Video CNN]

(del/sfr) Add as a preferred
source on Google