Trump Murka Harga BBM AS Belum Turun, Chevron Ungkap Biang Keroknya

CNN Indonesia
Sabtu, 27 Jun 2026 03:30 WIB
FILE PHOTO: FILE PHOTO: A Chevron gas station sign is seen in Del Mar, California, April 25, 2013. REUTERS/Mike Blake/File Photo/File Photo
Raksasa migas Amerika Serikat (AS) Chevron menjelaskan alasan harga BBM di Negeri Paman Sam belum bisa turun meski harga minyak mentah dunia sudah melemah. Ilustrasi. (REUTERS/Mike Blake).
Jakarta, CNN Indonesia --

Raksasa migas Amerika Serikat (AS) Chevron menjelaskan alasan harga bahan bakar minyak (BBM) di Negeri Paman Sam belum bisa turun meski harga minyak mentah dunia sudah melemah.

Penjelasan ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump melontarkan kritik kepada perusahaan minyak besar karena belum juga menurunkan harga BBM.

"Kami semua prihatin terhadap harga. Ada empati yang besar terhadap konsumen, baik di AS, Inggris maupun Eropa," ujar Chief Financial Officer Chevron Eimear Bonner, Kamis (25/6), melansir CNBC.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, Bonner mengatakan penurunan harga minyak mentah memang tak serta-merta langsung diikuti turunnya harga BBM di SPBU.

"Ini akan memakan waktu. Ada jeda antara penurunan harga minyak dan kapan penurunan itu terlihat di pompa bensin. Tapi kami memperkirakan harga akan turun seiring situasi terus kembali normal," ujarnya.

Sehari sebelumnya, Trump memerintahkan Departemen Kehakiman (DOJ) untuk menyelidiki perusahaan minyak besar.

Ia menuding perusahaan seperti Chevron, Exxon Mobil, Shell, dan BP mengambil keuntungan berlebihan karena harga BBM dinilai masih terlalu tinggi meski harga minyak mentah telah turun.

Berbicara di Gedung Putih, Trump mengatakan harga bensin di AS seharusnya sudah jauh lebih murah. Menurutnya, harga ideal berada di kisaran US$2,25 per galon, namun hingga kini masih berada di atas level tersebut.

Menanggapi kritik itu, Bonner mengatakan Chevron terus berupaya meningkatkan pasokan energi. Tahun ini, perusahaan menargetkan pertumbuhan produksi sekitar 7 hingga 10 persen.

"Kami telah mengoptimalkan operasi selama konflik berlangsung dan terus mengoptimalkan berbagai langkah yang kami miliki untuk memasok energi yang dibutuhkan dunia serta menghadirkan produk kepada konsumen," ujarnya.

Sementara itu, juru bicara Departemen Kehakiman AS menyatakan harga bahan bakar bukan hanya isu keamanan nasional, tetapi juga berdampak langsung terhadap pengeluaran masyarakat.

"Harga bahan bakar bukan hanya isu keamanan nasional, tetapi juga memengaruhi kantong setiap warga Amerika. Kami akan selalu berkomitmen memastikan harga tetap terjangkau," ujar juru bicara DOJ.

Harga minyak mentah dunia sendiri telah turun tajam sejak AS dan Iran menandatangani kesepakatan damai sementara pekan lalu, meski kedua negara masih berbeda pandangan mengenai sejumlah poin dalam nota kesepahaman tersebut.

Pada perdagangan Kamis, harga minyak Brent untuk kontrak Agustus turun sekitar 1,3 persen menjadi US$72,75 per barel, mendekati level sebelum pecahnya konflik di Timur Tengah pada akhir Februari.

Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) AS juga melemah sekitar 1,1 persen ke US$69,60 per barel.

[Gambas:Video CNN]

(del/sfr) Add as a preferred
source on Google