EDUKASI KEUANGAN

Strategi Pilih Reksa Dana dan Obligasi saat BI Rate Terus Naik

Endrapta Ibrahim Pramudhiaz | CNN Indonesia
Sabtu, 27 Jun 2026 09:00 WIB
Perencana keuangan membagikan strategi untuk investor reksa dana dan obligasi agar dapat memperoleh hasil optimal di tengah kenaikan BI rate. Ilustrasi. (iStockphoto/arthon meekodong).
Jakarta, CNN Indonesia --

Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75 persen.

Kenaikan tersebut menjadi yang ketiga dalam beberapa bulan terakhir dan memunculkan ekspektasi tren suku bunga masih akan terus naik dalam waktu dekat.

Kondisi tersebut turut memengaruhi berbagai instrumen investasi, termasuk obligasi dan reksa dana.

Lantas, bagaimana strategi yang bisa dilakukan investor agar dapat memperoleh hasil optimal sekaligus mengelola risiko?

Perencana Keuangan Zelts Consulting Ahmad Gozali mengatakan kenaikan suku bunga umumnya akan menekan harga obligasi.

Dampaknya juga akan dirasakan reksadana pendapatan tetap karena portofolionya berisi obligasi.

"Dengan suku bunga yang sedang naik maka harga obligasi akan tertekan dan reksa dana jenis pendapatan tetap juga pasti akan mengalami penurunan NAB karena portofolionya berisi obligasi," ujar Ahmad kepada CNNIndonesia.com, Jumat (26/6).

Menurut dia, investor yang ingin masuk ke reksa dana pendapatan tetap sebaiknya memilih produk yang memiliki portofolio obligasi bertenor pendek agar dampak kenaikan suku bunga tidak terlalu besar.

"Kalau mau masuk ke reksadana pendapatan tetap, mungkin baiknya mencari reksadana yang portofolionya pada obligasi yang tenornya pendek sehingga tidak terlalu tertekan dengan kenaikan suku bunga," ujar Ahmad.

Sementara bagi investor yang ingin membeli obligasi secara langsung, ia menyarankan memilih obligasi yang baru diterbitkan.

"Kalau mau beli obligasi secara langsung, boleh pilih obligasi yang baru dikeluarkan karena sudah memiliki suku bunga yang lebih tinggi," ucap Ahmad.

Ia menilai strategi tersebut lebih cocok diterapkan oleh investor dengan profil risiko rendah hingga menengah yang mengutamakan keamanan investasi dan tidak menyukai fluktuasi harga yang tinggi.

Ahmad juga mengingatkan obligasi tetap memiliki risiko, mulai dari pengurangan harga hingga risiko gagal bayar.

Untuk meminimalkan risiko, investor dapat memilih obligasi pemerintah.

Selain itu, investor perlu memahami perbedaan peran manajer investasi sebagai penerbit reksadana dan agen penjual seperti bank, perusahaan sekuritas, atau perusahaan teknologi finansial agar tidak keliru dalam berinvestasi.

"Untuk investasi, selalu sesuaikan dengan tujuan keuangan dan horison penggunaan dananya. Gunakan obligasi dan reksadana pendapatan tetap untuk horison investasi menengah, sekitar tiga sampai lima tahun," ujar Ahmad.

Perencana Keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE) Andy Nugroho mengatakan pemilihan produk investasi di saat seperti sekarang tetap harus disesuaikan dengan profil risiko masing-masing investor.

Menurut dia, investor agresif dapat mempertimbangkan reksadana saham karena berpotensi memberikan imbal hasil paling tinggi dengan risiko yang juga tinggi.

"Bila melihat data, reksadana saham justru memberikan return yang paling tinggi. Bila sesuai dengan profil risiko kita, bisa dipilih," ujar Andy ketika dihubungi terpisah.

Sementara itu, investor moderat lebih cocok memilih reksadana campuran atau pendapatan tetap. Adapun investor konservatif dapat memilih reksadana pasar uang.

"Bila masih takut dengan situasi sekarang, bisa pilih yang berbasis pendapatan tetap atau pasar uang. Berinvestasi sedikit demi sedikit secara berkala," ucap Andy.

Andy juga menyarankan investor membeli obligasi pemerintah karena memiliki risiko gagal bayar yang lebih rendah.

Ia pun mengingatkan masyarakat untuk tidak menggunakan "uang panas", yakni dana yang dibutuhkan untuk kebutuhan sehari-hari atau hasil utang, sebagai modal investasi.

Selain itu, investor juga diimbau tidak bersikap FOMO (fear of missing out) dan tidak menempatkan seluruh dana pada satu instrumen investasi saja.

"Jangan masukkan seluruh modal ke satu instrumen saja untuk manajemen risiko. Bisa dibagi, misalnya 50-50 antara reksadana dan obligasi," ujar Andy.

(sfr)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK