Survei: Banyak Bank Sentral Dunia Mulai 'Jauhi' Dolar AS

CNN Indonesia
Rabu, 01 Jul 2026 08:10 WIB
(Foto: CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia --

Survei mengungkap semakin banyak bank sentral di dunia yang berencana mengurangi alokasi aset dalam dolar AS dibandingkan yang ingin menambahnya dalam satu dekade mendatang.

Rencana pemangkasan cadangan dolar AS itu dilakukan seiring meningkatnya risiko politik yang terkait dengan mata uang Amerika Serikat tersebut.

Survei itu dilakukan Official Monetary and Financial Institutions Forum (OMFIF) terhadap investor publik yang dirilis kemarin. Respondennya adalah bank sentral, dana pensiun publik, dan dana kekayaan negara (sovereign wealth funds). OMFIF merupakan lembaga pemikir yang berbasis di London dan didirikan pada 2010

Para responden survei, yang secara kolektif mengelola aset sekitar US$10 triliun, semakin memandang volatilitas pasar sebagai kondisi permanen dan mulai menguji berbagai pendekatan baru untuk menghadapinya, termasuk memanfaatkan AI.

"Asumsi lama bahwa investor publik bisa menunggu hingga kondisi kembali normal kini terlihat semakin tidak realistis," tulis Ekonom Senior OMFIF, Yara Aziz, dalam laporan tersebut.

Hingga kini belum ada alternatif yang benar-benar mampu menggantikan dolar AS. Mata uang tersebut bahkan menguat sekitar 3 persen sepanjang tahun ini, didorong oleh suku bunga AS yang lebih tinggi, tingginya minat terhadap aset-aset AS, serta arus investasi ke aset aman akibat perang AS-Iran.

Namun, sekitar 79 persen bank sentral dan 60 persen dana publik meyakini sistem moneter global sedang bergerak menuju dunia yang lebih 'multipolar'.

Mata uang di luar delapan mata uang utama dunia perlahan mulai memperoleh porsi lebih besar dalam cadangan devisa. Bank sentral tercatat meningkatkan alokasi terhadap krone Norwegia dan dolar Selandia Baru, serta menunjukkan minat yang lebih besar terhadap poundsterling Inggris.

Meski responden juga mempertahankan rencana untuk menambah kepemilikan euro dan yuan China, mereka menilai kedua mata uang tersebut masih menghadapi tantangan struktural yang menghambat perannya.

Meski demikian, hampir seluruh responden menganggap yuan sebagai instrumen diversifikasi portofolio yang efektif.

Sementara itu, emas yang telah mencetak serangkaian rekor harga tertinggi dan kini dimiliki oleh 82 persen bank sentral, dinilai telah menjadi pusat strategi pengelolaan cadangan devisa.

Dalam jangka pendek, emas menjadi aset yang paling banyak direncanakan untuk ditambah kepemilikannya oleh bank sentral. Secara neto, 30 persen responden berencana meningkatkan alokasi emas dalam satu hingga dua tahun mendatang.

Ini merupakan pertama kalinya survei yang dilakukan OMFIF menunjukkan pergeseran minat bank sentral global terhadap dolar AS.

Temuan OMFIF tersebut sejalan dengan perdebatan global mengenai peran dolar AS sebagai mata uang cadangan utama dunia, yang dipicu oleh ketidakpastian kebijakan AS dan meningkatnya risiko geopolitik.

Di kalangan dana publik, permintaan terhadap aset fisik seperti infrastruktur dan properti melampaui kelas aset lainnya. Hampir 60 persen responden berencana meningkatkan alokasi ke sektor tersebut dalam satu hingga dua tahun ke depan.

Survei juga menunjukkan perubahan persepsi terhadap pasar negara berkembang. Sebanyak 38 persen dana publik global berencana meningkatkan investasi di negara berkembang, naik dari 27 persen pada tahun lalu.

Minat untuk meningkatkan investasi di pasar negara berkembang kini melampaui minat untuk menambah investasi di negara maju, yang turun menjadi 25 persen dari 47 persen pada tahun sebelumnya.

Menurut survei tersebut, pasar yang paling menarik bagi investor publik tetap Amerika Serikat dan China, sebagian karena peran kedua negara tersebut dalam ledakan perkembangan teknologi AI.

(pta/ins)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK