Metode Modern Dobelkan Cuan Petani, Ongkos Tanam Susut Rp2,4 Juta

CNN Indonesia
Sabtu, 04 Jul 2026 19:20 WIB
Metode tanam modern diklaim bisa dobelkan pendapatan petani dan biaya tanam susut Rp2,4 Juta per hektare. Foto: CNN Indonesia/Dela Naufalia
Merauke, CNN Indonesia --

Harapan meningkatkan hasil panen tak lagi hanya bergantung pada benih atau pupuk. Di Kampung Candra Jaya, Distrik Kurik, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, perubahan justru dimulai dari cara menanam padi.

Melalui program Pertanian Modern Advanced Agricultural System (PM-AAS) yang dikembangkan Kementerian Pertanian, petani mulai meninggalkan metode tanam konvensional dan beralih menggunakan drum seeder atau yang dikenal sebagai metode paralon.

Pemerintah mengklaim perubahan pola tanam tersebut tidak hanya mampu memangkas biaya produksi, tetapi juga berpotensi menggandakan pendapatan petani lewat lonjakan produktivitas.

Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kementan Fadjry Djufry mengatakan PM-AAS merupakan hasil pengembangan selama dua tahun terakhir setelah mempelajari praktik budidaya padi di sejumlah negara, seperti Amerika Serikat (AS), Vietnam, dan China.

Menurutnya, metode tersebut telah diuji melalui sejumlah proyek percontohan di Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Lampung hingga Sukamandi. Dari uji coba itu, produktivitas padi disebut mampu mencapai sekitar 8 hingga 10,4 ton per hektare, lebih tinggi dibanding rata-rata produktivitas nasional yang sekitar 5,2 ton per hektare.

"Dengan hitungan-hitungan itu, kalau hasilnya mencapai 10 ton per hektare, petani bisa memperoleh sekitar Rp5 juta per bulan selama empat bulan. Dari sebelumnya sekitar Rp2 juta sampai Rp3 juta, jadi memang bisa dobel," ujar Fadjry saat ditemui di lokasi tanam Distrik Kurik, Jumat (3/7).

Ia menjelaskan peningkatan tersebut dihitung dari kombinasi kenaikan hasil panen dan efisiensi biaya budidaya. Dalam PM-AAS, populasi tanaman ditingkatkan melalui pengaturan jarak tanam yang dikombinasikan dengan sistem tanam jajar legowo (jarwo) sehingga jumlah rumpun tanaman dapat meningkat dari sekitar 250 ribu-600 ribu rumpun menjadi sekitar 800 ribu hingga satu juta rumpun per hektare.

Di saat yang sama, kebutuhan benih juga berkurang dari sekitar 100 kilogram menjadi sekitar 70-80 kilogram per hektare. Biaya tanam pun turun karena penggunaan drum seeder menggantikan metode tanam pindah yang selama ini membutuhkan lebih banyak tenaga kerja.

"Kalau kebutuhan hara terpenuhi dan pengelolaannya baik, produksinya bisa dobel. Itu yang sudah kami buktikan dalam dua musim tanam," katanya.

Ongkos tanam turun drastis


Bagi Abdul Rokim, petani di Kampung Candra Jaya, manfaat pertama yang dirasakan justru berasal dari efisiensi biaya, bahkan sebelum musim panen tiba.

Ia mengatakan metode tanam menggunakan drum seeder membuat pekerjaan di sawah menjadi lebih sederhana. Tanaman terlihat lebih rapi, pertumbuhannya lebih seragam, dan perawatannya lebih mudah dibanding metode sebelumnya.

"Kalau sekarang pakai program dari kementerian memakai drum seeder atau paralon. Dari sisi perawatan lebih mudah, lebih rapi. Dari pertumbuhannya juga kelihatan lebih bagus. Tanamannya lebih sehat, anakannya lebih banyak," ujarnya.

Perbedaan paling besar, kata Abdul, terlihat pada biaya tanam.

Sebelumnya, metode tanam pindah membutuhkan ongkos sekitar Rp2 juta per hektare hanya untuk proses tanam, ditambah sekitar Rp800 ribu untuk pencabutan bibit. Total biaya yang harus dikeluarkan mendekati Rp3 juta per hektare. Kini, dengan metode drum seeder, biaya tersebut turun menjadi sekitar Rp600 ribu per hektare.

"Kalau pakai metode paralon cuma Rp600 ribu. Jadi kita bisa menghemat sekitar Rp2,4 juta per hektare," katanya.

Abdul menggarap sekitar 3 hektare sawah. Dengan penghematan tersebut, biaya yang dapat ditekan dalam satu musim tanam diperkirakan mencapai sekitar Rp7 juta hingga Rp9 juta. Menurutnya, dana yang sebelumnya habis untuk ongkos tanam kini dapat dialihkan untuk kebutuhan lain, termasuk pembelian pupuk.

Perubahan yang dirasakan petani ternyata tidak hanya berasal dari alat tanam.

Angga Dwi Hardianto, petani lain di Kampung Candra Jaya, mengatakan PM-AAS juga memperkenalkan penggunaan teknologi seperti drone untuk penyemprotan pestisida dan pemupukan. Seluruh proses tersebut didampingi petugas dari pemerintah.

"Kemarin penyemprotan pakai drone, pemupukan juga memakai drone. Jadi hemat tenaga lebih banyak," katanya.

Ia menjelaskan metode baru itu tetap menggunakan prinsip tanam benih langsung (tabela), tetapi benih tidak lagi disebar secara acak.

Benih terlebih dahulu direndam selama sehari, kemudian ditiriskan sebelum dimasukkan ke dalam tabung drum seeder. Saat alat didorong di atas lahan, benih keluar melalui lubang-lubang yang telah diatur sehingga jarak tanam menjadi lebih seragam.

Menurut Angga, pola tersebut membuat tanaman memperoleh ruang tumbuh yang lebih baik.

"Lebih rapi, lebih rapat juga. Jadi ada legowonya. Sirkulasi udara dan cahaya matahari lebih bagus sehingga bisa membantu mencegah jamur atau penyakit lainnya," ujarnya.

Walaupun panen baru diperkirakan berlangsung pada akhir Juli hingga Agustus, ia mengaku para petani sudah dapat membaca perbedaan pertumbuhan tanaman dibanding musim-musim sebelumnya.

"Petani biasanya sudah bisa membaca. Dari pertumbuhannya sekarang kelihatan lebih bagus daripada yang biasanya," katanya.

Sebelumnya, hasil panen di wilayah itu rata-rata hanya berkisar 4,5-5,5 ton per hektare. Melalui PM-AAS, potensi produktivitas yang ditargetkan mencapai sekitar 10 ton per hektare, meski capaian akhirnya masih menunggu hasil panen.

PM-AAS sendiri tidak hanya mengubah cara menanam padi.

Model budidaya ini mengombinasikan penggunaan varietas unggul adaptif, pengelolaan hara berimbang, sistem irigasi hemat air, mekanisasi pertanian, digitalisasi, hingga manajemen pascapanen.

Pada lokasi percontohan di Merauke, teknologi tersebut juga dilengkapi penggunaan drone untuk pemupukan dan pengendalian hama serta sistem tanam yang lebih rapat dan teratur.

Fadjry mengatakan penerapan metode itu akan tetap disesuaikan dengan karakteristik setiap daerah. Di Merauke, misalnya, pola tanam dirancang mengikuti kondisi lahan pasang surut yang pada periode tertentu dipengaruhi masuknya air asin, sehingga digunakan varietas yang lebih toleran terhadap salinitas maupun penyakit tungro.

Menurutnya, setelah melalui berbagai proyek percontohan, PM-AAS mulai diterapkan lebih luas pada tahun ini di seluruh provinsi dengan skala yang berbeda-beda.

(del/sur)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK