PMI Manufaktur Jatuh, Ekonom Soroti Daya Beli dan Ancaman PHK
S&P Global mencatat Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia turun menjadi 46,9 dari 50,0 per Juni 2026. Hal ini menandai pelemahan terdalam sektor manufaktur dalam setahun terakhir.
Penurunan indeks tersebut dipicu melemahnya permintaan baru yang berdampak pada lesunya volume produksi, aktivitas pembelian bahan baku, hingga penyerapan tenaga kerja.
S&P Global menyebut pesanan baru turun untuk pertama kalinya dalam tiga bulan terakhir, sekaligus jadi yang terdalam di setahun terakhir. Pelaku usaha mengaitkan kondisi tersebut dengan melemahnya daya beli pelanggan di tengah tekanan kenaikan harga.
Pengamat Ekonomi Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan penurunan angka PMI manufaktur Indonesia adalah sinyal aktivitas industri sedang kehilangan momentum.
Lihat Juga : |
Menurut Yusuf, penurunan tersebut sangat mengkhawatirkan karena PMI yang turun ke zona kontraksi pada Juni 2026 adalah level terendah sejak Juni 2025. Selain itu, indeks manufaktur tersebut juga menjadi kontraksi kedua dalam tiga bulan terakhir.
"Ini merupakan level terendah sejak Juni 2025 dan menjadi kontraksi kedua dalam tiga bulan terakhir. Artinya, pelemahan ini mulai membentuk pola, bukan lagi sekadar fluktuasi bulanan," ujar Yusuf kepada CNNIndonesia.com, Jumat (3/7).
Ia menjelaskan tekanan yang dihadapi industri berasal dari dua sisi sekaligus. Dari sisi permintaan, pesanan baru turun untuk pertama kalinya dalam tiga bulan dengan laju penurunan tercepat dalam setahun. Di saat yang sama, pesanan ekspor mencatat penurunan terdalam sejak Agustus 2021.
Sementara itu, dari sisi biaya, perusahaan justru menghadapi kenaikan harga bahan baku yang diperparah oleh pelemahan nilai tukar sehingga inflasi harga input mencapai salah satu level tertinggi sejak survei PMI dimulai pada 2011. Kombinasi tersebut membuat posisi industri sangat tidak nyaman.
"Permintaan melemah ketika biaya produksi justru meningkat. Pada akhirnya, akar persoalannya tetap bermuara pada melemahnya daya beli masyarakat sehingga konsumsi domestik yang selama ini menjadi penopang utama pertumbuhan mulai kehilangan tenaga," katanya.
Senada, Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) Ronny P Sasmita menekankan penurunan PMI manufaktur bukan hanya fluktuasi biasa. Jika PMI bertahan di bawah 50 selama beberapa bulan, ini menunjukkan sektor manufaktur sedang kehilangan momentum.
"Ini cukup krusial, karena manufaktur adalah salah satu motor utama penciptaan lapangan kerja dan nilai tambah. Jadi, ini adalah early warning bahwa mesin pertumbuhan berbasis industri sedang melemah," ungkap Ronny.
Kendati demikian, Ronny menilai penurunan PMI manufaktur belum tentu langsung berisiko terhadap meningkatnya jumlah PHK. PMI yang turun biasanya diikuti oleh penyesuaian di pasar tenaga kerja, tetapi ada jeda waktu (lag).
"Perusahaan biasanya akan menahan rekrutmen terlebih dahulu, kemudian mengurangi jam kerja, baru jika tekanan berlanjut mereka masuk ke PHK," tambahnya.
Namun, apabila tren PMI kontraktif ini berlanjut dan meluas ke sektor lain, Ronny mengingatkan risiko PHK bisa menjadi lebih sistemik, terutama di sektor padat karya seperti tekstil, alas kaki, dan elektronik.
Menurutnya, yang perlu diwaspadai adalah kombinasi dari beberapa tekanan sekaligus seperti pelemahan permintaan global, kenaikan biaya (termasuk energi dan logistik), serta tekanan nilai tukar.
"Jika ini terjadi bersamaan, maka perusahaan akan terdorong melakukan efisiensi yang lebih agresif, termasuk pengurangan tenaga kerja," kata Ronny.
Meski penurunan PMI manufaktur belum bisa diterjemahkan langsung sebagai badai PHK, Ronny menilai hal tersebut jelas merupakan leading indicator bahwa risiko ke arah sana sedang meningkat.
"Respons kebijakan menjadi krusial di fase ini, terutama untuk menjaga daya beli, mendorong permintaan, dan memastikan sektor industri tidak masuk ke kontraksi yang lebih dalam," pungkasnya.
(fln/pta)