Swadharma Bhakti Nagara, 80 Tahun BNI Bersama Negeri

Perjalanan ekonomi Indonesia tidak dibangun dalam semalam. Sejak awal kemerdekaan, berbagai tantangan silih berganti mewarnai perjalanan bangsa, mulai dari menjaga stabilitas ekonomi, membangun kepercayaan masyarakat, hingga menciptakan sistem keuangan menopang pembangunan.

Di balik perjalanan panjang tersebut, perbankan menjadi salah satu fondasi penting yang menjaga aktivitas ekonomi tetap bergerak. Bukan hanya menghimpun dana dan menyalurkan pembiayaan, tetapi juga membangun kepercayaan publik yang menjadi modal utama sebuah negara untuk tumbuh.

Di antara berbagai institusi keuangan yang hadir di Indonesia, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI memiliki sejarah yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan Republik Indonesia.

Didirikan pada 5 Juli 1946, hanya 11 bulan setelah Proklamasi Kemerdekaan, BNI menjadi bank pertama yang lahir dari Republik Indonesia. Kehadirannya menandai langkah awal bangsa dalam membangun sistem keuangan sendiri, sekaligus memperkuat kedaulatan ekonomi di tengah situasi politik dan ekonomi yang masih penuh tantangan.

Pada masa itu, Indonesia belum memiliki sistem moneter yang mapan. Mata uang NICA masih beredar, blokade ekonomi membatasi aktivitas perdagangan, sementara republik yang baru berdiri membutuhkan lembaga keuangan yang mampu menopang jalannya pemerintahan sekaligus membangun kepercayaan masyarakat.

Di tengah kondisi tersebut, RM Margono Djojohadikusumo bersama sejumlah tokoh bangsa mendirikan BNI. Kehadiran BNI tidak hanya menjadi simbol lahirnya institusi keuangan nasional, tetapi juga bagian dari upaya memperkuat fondasi ekonomi Indonesia yang merdeka.

Peran BNI pada masa awal kemerdekaan bahkan mampu melampaui fungsi perbankan pada umumnya. Bank ini turut mengedarkan Oeang Republik Indonesia (ORI), menghimpun dana masyarakat, serta mendukung pembiayaan perjuangan ketika republik masih berupaya mempertahankan kemerdekaannya.

Kepercayaan masyarakat menjadi modal terbesar pada masa itu. Menitipkan simpanan di BNI bukan sekedar aktivitas perbankan, melainkan bentuk keyakinan terhadap masa depan republik yang baru lahir.

Nilai tersebut kemudian tumbuh menjadi fondasi perjalanan BNI selama delapan dekade. Hingga kini, kepercayaan tetap menjadi aset utama yang dijaga perusahaan, seiring pertumbuhan bisnis yang terus berkembang mengikuti dinamika zaman. Per Maret 2026, total aset BNI telah mencapai lebih dari Rp1.426 triliun, mencerminkan transformasi sebuah institusi yang berawal dari bank perjuangan menjadi salah satu bank nasional terbesar di Indonesia.

Semangat itu pula yang kini diwujudkan melalui tema Swadharma Bhakti Nagara. Bagi BNI, pengabdian kepada negara tidak berhenti pada sejarah pendiriannya, tetapi terus diwujudkan melalui upaya memperluas akses layanan keuangan, mendukung pembangunan nasional, serta menghadirkan inovasi yang menjawab kebutuhan masyarakat di berbagai generasi.

Delapan puluh tahun kemudian, Indonesia telah berubah jauh dibandingkan masa awal kemerdekaan. Namun, satu hal tetap sama: pertumbuhan ekonomi membutuhkan lembaga keuangan yang mampu tumbuh bersama masyarakat. Dari titik itu lah perjalanan BNI terus berlanjut, mengikuti setiap fase pembangunan ekonomi Indonesia.

Menopang Pembangunan Nasional

Seiring waktu, peran BNI berkembang sejalan dengan arah pembangunan nasional. Memasuki dekade 1970-an hingga 1980-an, Indonesia mulai berfokus membangun fondasi ekonomi melalui sektor pertanian, infrastruktur, dan industrialisasi.

Sebagai bank milik negara, BNI menjadi salah satu institusi yang turut mengambil bagian dalam proses tersebut. Melalui penyaluran pembiayaan ke berbagai sektor produktif, BNI membantu menjembatani dana masyarakat menjadi investasi yang mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Salah satu kontribusi yang menonjol adalah dukungan terhadap pembiayaan pembangunan infrastruktur dasar, mulai dari jalan, bendungan, jaringan irigasi, hingga pelabuhan. Berbagai proyek tersebut menjadi fondasi penting yang mendorong aktivitas ekonomi di berbagai wilayah Indonesia.

Pada periode tersebut, peran BNI tidak hanya tercermin melalui pertumbuhan bisnis perusahaan, tetapi juga melalui kontribusinya terhadap agenda pembangunan nasional. Semangat Swadharma Bhakti Nagara diterjemahkan ke dalam dukungan nyata terhadap sektor-sektor yang menjadi penggerak perekonomian Indonesia.

Adaptasi di Tengah Perubahan

Memasuki penghujung dekade 1980-an, industri perbankan Indonesia mulai memasuki babak baru. Pemerintah mengeluarkan Paket Kebijakan Oktober 1988 atau Pakto 88 yang membuka kompetisi lebih luas di sektor perbankan. Kehadiran berbagai bank baru membuat persaingan semakin dinamis, sekaligus mendorong setiap institusi untuk terus berinovasi.

Bagi BNI, perubahan tersebut menjadi momentum untuk bertransformasi.

Bank yang sebelumnya dikenal sebagai salah satu instrumen pembangunan nasional mulai memperkuat layanan komersial, meningkatkan kualitas pelayanan kepada nasabah, hingga melakukan modernisasi sistem operasional.

Pembangunan teknologi informasi mulai diperluas, sementara jaringan layanan terus berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat yang semakin beragam.

Langkah besar lainnya dilakukan pada 1996 ketika BNI menjadi bank BUMN pertama yang melaksanakan Initial Public Offering (IPO).

Melalui pencatatan saham di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya, BNI memperkuat penerapan tata kelola perusahaan yang baik sekaligus meningkatkan transparansi sebagai perusahaan publik.

Namun, perubahan terbesar justru datang tidak lama kemudian.

Krisis moneter Asia pada 1997-1998 mengguncang hampir seluruh sektor ekonomi Indonesia. Nilai tukar rupiah melemah tajam, kredit bermasalah meningkat, dan industri perbankan menghadapi salah satu ujian terberat dalam sejarahnya.

Sebagai salah satu bank dengan portofolio pembiayaan yang besar, BNI turut merasakan dampaknya. Pemerintah kemudian menjalankan program rekapitalisasi untuk menjaga stabilitas sistem perbankan nasional, sementara BNI melakukan restrukturisasi dan memperkuat tata kelola perusahaan agar mampu bangkit dari tekanan tersebut.

Pengalaman melewati krisis menjadi pelajaran penting dalam perjalanan BNI. Sejak saat itu, perusahaan terus memperkuat manajemen risiko, meningkatkan kualitas pengelolaan bisnis, dan membangun fondasi yang lebih kokoh untuk menghadapi berbagai tantangan di masa mendatang.

Perlahan, kepercayaan masyarakat kembali tumbuh. BNI pun mulai memperluas fokus bisnisnya, tidak hanya pada pembiayaan korporasi, tetapi juga memperbesar dukungan kepada segmen ritel serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat sekaligus memperkuat kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Transformasi Menuju Bank Digital

Memasuki abad ke-21, tantangan industri perbankan kembali berubah. Digitalisasi mengubah cara masyarakat bertransaksi, mengelola keuangan, hingga mengakses berbagai layanan perbankan.

Persaingan tidak lagi ditentukan oleh banyaknya kantor cabang, tetapi oleh kemampuan menghadirkan layanan yang cepat, aman, dan mudah diakses kapan saja.

BNI merespons perubahan tersebut melalui transformasi digital yang berlangsung secara bertahap.

Perusahaan mengembangkan berbagai platform digital untuk menjawab kebutuhan nasabah, baik individu maupun pelaku usaha. Salah satunya melalui wondr by BNI.

wondr by BNI merupakan platform transaksi personal yang terus berkembang sebagai bagian dari ekosistem layanan digital perusahaan.

Hingga akhir Maret 2026, jumlah pengguna wondr by BNI telah melampaui 13,5 juta. Peningkatan tersebut diikuti dengan tingkat aktivitas transaksi yang terus bertumbuh, mencerminkan semakin besarnya adopsi layanan digital oleh masyarakat.

Transformasi juga dilakukan pada segmen bisnis melalui pengembangan BNIdirect. Platform ini menghadirkan layanan cash management, trade finance, bank guarantee, hingga supply chain financing yang dirancang untuk mendukung kebutuhan pelaku usaha.

Hingga Maret 2026, BNIdirect mencatat pertumbuhan jumlah pengguna sebesar 28% dibandingkan tahun sebelumnya menjadi 268.100 akun dan nilai transaksi tumbuh 16,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Di balik berbagai layanan tersebut, BNI turut memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) serta analitik data untuk meningkatkan pengalaman nasabah.

Teknologi digunakan untuk membaca pola transaksi, membantu mendeteksi potensi penipuan, memberikan rekomendasi layanan yang lebih personal, hingga memperkuat sistem keamanan siber.

Meski demikian, transformasi digital tidak membuat BNI meninggalkan pendekatan yang berorientasi pada manusia.

Perusahaan tetap memperkuat kualitas layanan di kantor cabang sebagai pelengkap layanan digital, sebab, kebutuhan setiap nasabah berbeda. Sebagian masyarakat telah terbiasa melakukan transaksi secara digital, sementara sebagian lainnya masih mengandalkan layanan tatap muka untuk memperoleh informasi maupun pendampingan dalam menggunakan layanan perbankan.

Komitmen tersebut juga diwujudkan melalui berbagai layanan bagi diaspora Indonesia di berbagai negara. Mulai dari fasilitas pengiriman uang, produk tabungan, hingga solusi keuangan yang membantu masyarakat Indonesia di luar negeri tetap terhubung dengan keluarga maupun peluang investasi di tanah air.

Transformasi digital yang dijalankan BNI pada akhirnya tidak hanya berfokus pada pengembangan teknologi, tetapi juga memastikan inovasi tersebut mampu menghadirkan layanan yang semakin inklusif dan relevan bagi kebutuhan masyarakat yang terus berkembang.

Menjaga Denyut Ekonomi Bangsa

Delapan dekade setelah berdiri, perjalanan BNI tidak hanya tercermin dari panjangnya usia perusahaan, tetapi juga kontribusinya terhadap berbagai sektor ekonomi nasional.

Hingga Maret 2026, portofolio kredit BNI telah menembus Rp919,3 triliun atau tumbuh 20,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut didorong oleh pembiayaan di berbagai sektor produktif, termasuk penguatan pembiayaan bagi pelaku UMKM sebagai bagian dari upaya memperluas akses permodalan di berbagai daerah.

Komitmen tersebut juga tercermin melalui dukungan terhadap berbagai proyek strategis nasional. BNI turut berperan dalam pembiayaan pembangunan infrastruktur, termasuk Jalan Tol Trans Sumatera, sekaligus memperkuat pembiayaan berkelanjutan melalui portofolio sustainable finance.

Hingga Maret 2026, BNI telah menyalurkan Sustainability-Linked Loan (SLL) sebesar USD382 juta atau setara Rp6,86 triliun (pada kurs Rp17.966/USD) disalurkan BNI kepada berbagai

sektor industri strategis, meliputi Agrifood Manufacture, Cement Manufacture, Packaging Manufacture, Coal-Derivative Manufacture, dan Petrochemical Industry.

Pembiayaan ini mendorong para debitur mencapai target keberlanjutan yang terukur, seperti meminimalkan dampak pencemaran air, menurunkan emisi CO2 dan GHG, meningkatkan praktik daur ulang, memperkuat kesetaraan gender dan pengembangan SDM, serta mengurangi intensitas emisi pada operasi kilang dan petrokimia. Melalui skema ini, BNI turut mempercepat implementasi praktik ESG dan mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon yang berkelanjutan.

Kontribusi BNI juga terlihat dari dampaknya terhadap aktivitas ekonomi yang lebih luas.

Melalui jaringan internasional yang tersebar di delapan negara, yakni Singapura, Hong Kong, Jepang, Korea Selatan, Amerika Serikat, Inggris, Belanda, dan Australia, BNI mendukung pelaku usaha Indonesia untuk memperluas akses ke pasar global melalui berbagai layanan trade finance, hedging, hingga pendampingan ekspor.

Kehadiran jaringan internasional tersebut juga menjadi penghubung bagi diaspora Indonesia yang ingin tetap terhubung dengan layanan keuangan maupun peluang investasi di Tanah Air.

Delapan Dekade Terus Berlanjut

Perjalanan BNI selama 80 tahun berjalan beriringan dengan perjalanan Indonesia sebagai sebuah bangsa.

Bank yang lahir pada masa awal kemerdekaan itu telah melewati berbagai fase penting, mulai dari menjaga sistem keuangan negara yang baru berdiri, mendukung pembangunan nasional, menghadapi krisis moneter, hingga bertransformasi menjadi institusi keuangan yang mengandalkan inovasi digital.

Setiap periode menghadirkan tantangan yang berbeda. Namun, satu hal yang tetap dipertahankan adalah upaya untuk menjaga kepercayaan masyarakat sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Memasuki dekade kesembilan, tantangan baru kembali bermunculan. Perubahan iklim, dinamika geopolitik, perkembangan teknologi, hingga perubahan kebutuhan generasi muda akan terus membentuk lanskap industri jasa keuangan.

Berbekal pengalaman selama delapan dekade, BNI terus memperkuat transformasi bisnis, memperluas layanan, serta menghadirkan inovasi yang relevan dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan komitmennya dalam mendukung pembangunan nasional.

Pada akhirnya, perjalanan BNI bukan sekadar tentang bertambahnya usia sebuah institusi. Lebih dari itu, perjalanan tersebut menjadi bagian dari kisah panjang perkembangan ekonomi Indonesia.

Dari bank yang lahir di tengah perjuangan mempertahankan kemerdekaan hingga menjadi institusi keuangan modern yang melayani jutaan masyarakat, BNI terus mengambil bagian dalam menjaga denyut ekonomi bangsa.