OJK Catat Kredit Perbankan Tembus Rp8.918 T pada Mei 2026

CNN Indonesia
Kamis, 09 Jul 2026 05:30 WIB
A teller counts Indonesian rupiah bank notes at a money changer in Jakarta, Indonesia, October 14, 2022. REUTERS/Willy Kurniawan
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat penyaluran kredit industri perbankan mencapai Rp8.918 triliun pada Mei 2026 atau tumbuh 11,51 persen secara tahunan (yoy). Ilustrasi. (REUTERS/WILLY KURNIAWAN).
Jakarta, CNN Indonesia --

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat penyaluran kredit perbankan mencapai Rp8.918 triliun pada Mei 2026 atau tumbuh 11,51 persen secara tahunan (year on year/yoy). Pertumbuhan tersebut diiringi profil risiko perbankan yang dinilai masih terjaga.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan pertumbuhan kredit meningkat dibandingkan April 2026 yang tercatat sebesar 9,98 persen secara tahunan.

"Kinerja intermediasi perbankan tumbuh positif dengan profil risiko yang tetap terjaga. Pada Mei 2026, kredit tumbuh sebesar 11,51 persen year on year menjadi sebesar Rp8.918 triliun," ujar Dian dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK, Selasa (7/7).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berdasarkan jenis penggunaan, kredit investasi mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 21,95 persen secara tahunan. Sementara itu, kredit modal kerja tumbuh 8,09 persen dan kredit konsumsi naik 5,89 persen.

Dari sisi debitur, pertumbuhan tertinggi berasal dari kredit korporasi yang meningkat 18,39 persen secara tahunan.

Sementara itu, kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mulai menunjukkan perbaikan dengan tumbuh 0,60 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 0,16 persen pada April.

Ditinjau berdasarkan kelompok bank, kredit bank BUMN mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 15,98 persen secara tahunan.

Dana pihak ketiga (DPK) juga meningkat 13,49 persen menjadi Rp10.294 triliun. Pertumbuhan tersebut ditopang kenaikan giro sebesar 20,53 persen, deposito 10,17 persen, dan tabungan 10,21 persen secara tahunan.

Dian mengatakan kondisi likuiditas perbankan masih memadai. Hal itu tercermin dari rasio alat likuid terhadap non-core deposit (AL/NCD) tercatat sebesar 108,20 persen, sedangkan rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) berada di level 24,74 persen, atau masih jauh di atas ambang batas masing-masing sebesar 50 persen dan 10 persen.

Adapun liquidity coverage ratio (LCR) tercatat sebesar 186,54 persen.

Kualitas kredit juga tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) bruto sebesar 2,17 persen dan NPL neto 0,84 persen. Sementara rasio loan at risk (LaR) tercatat sebesar 8,72 persen.

Dari sisi profitabilitas, tingkat pengembalian aset (return on assets/ ROA) perbankan berada di level 2,45 persen. Ketahanan modal industri juga dinilai kuat dengan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) sebesar 23,74 persen.

OJK juga mencatat baki debet kredit buy now pay later (BNPL) perbankan tumbuh 37,72 persen secara tahunan menjadi Rp30,1 triliun per Mei 2026, dengan jumlah rekening mencapai 31,76 juta.

[Gambas:Video CNN]

(sfr/sfr) Add as a preferred
source on Google