OJK Buka Suara soal Bank Asing Tarik Dana Besar-besaran
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) buka suara soal isu penarikan dana atau cash out deviden dari Indonesia oleh sejumlah bank asing.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan penarikan dana berupa laba ke lokasi bank asal negara tersebut adalah hal yang wajar dilakukan. Ia pun menyinggung soal Undang-Undang No. 24 Tahun 1999 yang memperkenankan penarikan dana mereka.
"Karena namanya orang (bank asing) yang mau investasi duit gede di sini (Indonesia), terus ada untung, ya boleh dong. Kan undang-undang devisa bebas kita jelas. Kita lihat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 99 itu. Nah, itu jelas itu mengandung (diperbolehkan menarik dana)," ujar Dian kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat, Rabu (8/7).
Dian menegaskan penarikan dana oleh bank asing tersebut telah sesuai aturan yang disetujui oleh OJK, melainkan bukan transaksi yang melanggar hukum.
"Yang tidak boleh itu kalau melakukan pelanggaran-pelanggaran hukum, melakukan transaksi-transaksi yang tidak benar untuk mengirimkan (dana) ke luar. Ini enggak. Mereka itu berapa jumlahnya pun melalui OJK. Kapan dilakukan, tahapannya seperti apa itu sudah diatur atas persetujuan kita. Nah, jadi enggak ada sesuatu yang aneh," tegasnya.
Sejumlah bank asing sebelumnya dikabarkan menarik uang atau cash out dalam jumlah besar dari Indonesia.
Mengutip Bloomberg, unit usaha Citigroup Inc., Standard Chartered Plc., dan HSBC Holdings Plc menarik total Rp11,5 triliun dalam dua tahun terakhir. Angka tersebut itu melebihi akumulasi laba mereka pada periode yang sama.
Menurut sumber dalam pemberitaan tersebut, penarikan dana tersebut dilakukan karena kekhawatiran atas arah kebijakan negara.
Dalam laporan keuangan 2025, HSBC membagikan dividen tunai senilai sekitar Rp2,95 triliun, terdiri atas dividen tunai tahunan Rp1,32 triliun dan dividen tunai khusus Rp1,64 triliun.
Laporan tahunan perseroan menunjukkan dividen khusus tersebut berasal dari laba ditahan, sementara dividen tahunan merupakan penggunaan saldo laba tahun 2024 yang telah disetujui pemegang saham.
Pihak HSBC Indonesia mengatakan penarikan tersebut seiring dengan kawasan Asia yang sedang menyesuaikan kembali peta perdagangan dan rantai pasoknya. Adapun Indonesia disebut memiliki peluang yang tepat untuk pertumbuhan kawasan.
"Indonesia membawa skala dan momentum bagi fase pertumbuhan Asia berikutnya. Seiring kawasan menyesuaikan kembali peta perdagangan dan rantai pasoknya, HSBC berada pada posisi yang unik untuk menghubungkan ambisi industrial Indonesia dengan modal global. Kami akan terus memprioritaskan fokus pada peluang pertumbuhan ini," ujar perwakilan HSBC Indonesia kepada CNBC Indonesia, Rabu (1/7).
Sementara itu, laporan tahunan Standard Chartered Indonesia dan Citibank N.A. Indonesia (Citi Indonesia) menunjukkan adanya distribusi laba kepada kantor pusat sepanjang 2025. Namun, pada saat yang sama keduanya juga masih mencatat kenaikan saldo laba yang belum dipindahkan ke kantor pusat.
Standard Chartered Indonesia mencatatkan pemindahan laba ke kantor pusat sebesar Rp388 miliar dengan saldo laba yang belum diremitansikan sebesar Rp967,6 miliar. Angka ini naik dari Rp442,4 miliar pada tahun sebelumnya.
Head of Corporate Affairs, Brand & Marketing, Standard Chartered Indonesia Puni Anjungsari, menjelaskan remitansi yang dirujuk dalam artikel Bloomberg berasal dari laba pada tahun-tahun sebelumnya dan merupakan proses distribusi laba Standard Chartered yang dilakukan secara rutin.
Menurut Puni, seluruh remitansi dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia dan telah memperoleh persetujuan sesuai ketentuan dari OJK.
"Standard Chartered tetap berkomitmen penuh terhadap Indonesia dan tidak ada perubahan atas komitmen tersebut. Kami terus mendukung pembangunan ekonomi Indonesia, melalui berbagai peran strategis yang kami jalankan, termasuk sebagai sovereign rating advisor bagi Republik Indonesia, serta melalui dukungan kami dalam memobilisasi pendanaan bagi Pemerintah Indonesia maupun entitas strategis nasional, termasuk Danantara," ujar Puni.
Kemudian, laporan keuangan tahunan 2025 Citi Indonesia mencatatkan remitansi laba sebesar Rp2,44 triliun.
Bank asal Amerika Serikat itu juga membukukan unremitted profit sebesar Rp10,17 triliun, meningkat dari Rp10,05 triliun pada akhir 2024.
Mengenai hal ini, pihak Citi Indonesia menolak untuk berkomentar.
(fln/sfr)