Pertamina dan Boeing Jajaki Peluang Kembangkan Ekosistem SAF Indonesia

Pertamina | CNN Indonesia
Kamis, 09 Jul 2026 10:00 WIB
Pertamina
(Foto: dok Pertamina)
Jakarta, CNN Indonesia --

PT Pertamina (Persero) dan Boeing [NYSE: BA] sepakat menjajaki pengembangan ekosistem Sustainable Aviation Fuel (SAF) di Indonesia sebagai bagian dari upaya mendukung dekarbonisasi sektor penerbangan dan percepatan transisi energi menuju Net Zero Emission (NZE).

Melalui kerja sama ini, Pertamina dan Boeing akan berkolaborasi mengeksplorasi berbagai aspek pengembangan ekosistem SAF di Indonesia, termasuk identifikasi potensi bahan baku (feedstock), pengembangan teknologi, serta dukungan terhadap pengembangan kebijakan yang diperlukan guna mempercepat implementasinya.

Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, mengatakan bahwa bagi Pertamina, kolaborasi ini merupakan investasi jangka panjang untuk membangun ekosistem industri SAF nasional.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dengan potensi sumber daya domestik yang melimpah, kapabilitas pengolahan Pertamina, serta keahlian global Boeing di sektor aviasi, kami optimistis kolaborasi ini akan mempercepat pengembangan industri SAF yang berdaya saing, menciptakan nilai tambah bagi perekonomian nasional, sekaligus mendukung dekarbonisasi sektor penerbangan," kata Simon.

Adapun Boeing memperkirakan, lalu lintas penumpang udara di Asia Tenggara akan tumbuh rata-rata 7 persen per tahun, dengan kebutuhan mencapai 4.885 pesawat baru hingga tahun 2044. Di tengah pertumbuhan tersebut, pemanfaatan SAF menjadi salah satu solusi penting untuk menekan emisi karbon sektor aviasi.

Dalam bentuk murni (neat SAF), bahan bakar ini berpotensi mengurangi jejak karbon penerbangan hingga 80 persen dibandingkan bahan bakar jet konvensional.

Managing Director Boeing Indonesia, Indra Duivenvoorde menyatakan bahwa Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis untuk memimpin pengembangan penerbangan berkelanjutan di Asia Tenggara. Ia berharap, kolaborasi dengan Pertamina dapat mendukung masa depan industri penerbangan Indonesia yang lebih berkelanjutan, serta berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

"Kami menyambut baik kolaborasi dengan Pertamina dalam berbagai inisiatif pengembangan SAF, mulai dari identifikasi potensi bahan baku hingga dukungan terhadap program edukasi dan pelatihan guna mempercepat pengembangan ekosistem SAF di Indonesia," ujar Indra.

Sebagai bagian dari pengembangan ekosistem SAF nasional, Pertamina telah menjalankan sejumlah inisiatif, mulai dari produksi dan sertifikasi Pertamina Sustainable Aviation Fuel (SAF), implementasi penggunaannya bersama Pelita Air, hingga pengembangan proyek Cilacap Biorefinery oleh PT Pertamina Patra Niaga untuk memproduksi SAF dan Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) berbahan baku Used Cooking Oil (UCO) serta bahan baku berkelanjutan berbasis limbah lainnya.

Sinergi ini juga sejalan dengan visi Asta Cita, di mana Indonesia terus mendorong pengembangan SAF sebagai salah satu solusi mengurangi emisi karbon di sektor penerbangan, serta mendukung penciptaan industri penerbangan yang lebih berkelanjutan.

Berdasarkan laporan ASEAN 2050 SAF Outlook, Indonesia menempati peringkat tiga besar di ASEAN dengan potensi surplus produksi SAF terbesar, diproyeksikan mencapai 2,2 juta barel per hari pada tahun 2050.

(rea/rir) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]