Harga Bawang Putih Naik di 269 Daerah, Ada yang Tembus Rp100 Ribu

CNN Indonesia
Senin, 13 Jul 2026 12:07 WIB
Suasana los pedagang bawang putih di pasar induk Kramat jati, Jakarta, Kamis, 16 Desember 2021. Kementerian Pertanian (Kementan) mengungkapkan impor bawang putih Indonesia didominasi oleh China. Catatan ini sekaligus membuat Indonesia sebagai negara
BPS mencatat harga bawang putih naik di 269 kabupaten/kota pada pekan kedua Juli 2026, bahkan di sejumlah daerah harganya tembus Rp100 ribu per kg. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat harga bawang putih naik di 269 kabupaten/kota atau sekitar 74,72 persen wilayah Indonesia hingga pekan kedua Juli 2026.

Di sejumlah daerah, harga komoditas tersebut bahkan telah menembus Rp100 ribu per kilogram (kg).

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan kenaikan harga bawang putih perlu mendapat perhatian karena kini menjadi komoditas dengan penyebaran kenaikan harga paling luas dibanding komoditas pangan lainnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Yang perlu mendapatkan perhatian kita saat ini adalah bawang putih. Saat ini 269 kabupaten/kota atau 74,72 persen wilayah di Indonesia sudah mengalami kenaikan harga bawang putih," kata wanita yang akrab disapa Winny itu dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026, Senin (13/7).

Winny mengungkapkan rata-rata harga bawang putih secara nasional kini mencapai Rp42.611 per kg atau sudah berada di atas harga acuan penjualan (HAP) konsumen.

Menurut dia, harga tertinggi tercatat di Papua Pegunungan yang telah mencapai Rp100 ribu per kg.

Selain itu, sejumlah daerah lain juga mencatat harga jauh di atas HAP, seperti Aceh Selatan dan Gorontalo Utara yang masing-masing mencapai Rp50 ribu per kg, serta Kabupaten Deiyai, Papua Tengah, yang menyentuh Rp79 ribu per kg.

Ia mengatakan bawang putih juga menjadi salah satu penyumbang inflasi kelompok makanan pada Juni 2026, bersama bawang merah, beras, wortel, dan ikan segar.

Meski demikian, Winny menilai kenaikan harga tersebut bukan disebabkan minimnya pasokan impor. BPS mencatat volume impor bawang putih justru meningkat.

Sepanjang Januari-Juni 2026, Indonesia mengimpor 229,76 ribu ton bawang putih atau naik 28,44 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sebanyak 98,31 persen impor tersebut berasal dari China, sementara sekitar 96,83 persen berupa bawang putih segar maupun dingin.

Namun, kenaikan impor itu tidak otomatis menahan harga. BPS mencatat nilai impor meningkat di tengah perlambatan volume pada Juni, yang menunjukkan harga bawang putih impor ikut naik.

"Beberapa dinamika yang terjadi adalah kenaikan harga bawang putih salah satunya dipengaruhi pelemahan nilai tukar rupiah dan meningkatnya biaya logistik internasional," ujar Amalia.

Senada, Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyebut tekanan harga paling besar terjadi di kawasan timur Indonesia.

Direktur Bina Pasar Dalam Negeri Kemendag Nawandaru mengatakan per 10 Juli 2026 harga rata-rata bawang putih honan secara nasional mencapai Rp39.315 per kg atau 5,5 persen di atas harga acuan.

Di wilayah Maluku dan Papua, rata-rata harga bawang putih honan bahkan telah mencapai Rp64.867 per kg atau sekitar 62 persen di atas HAP. Sementara bawang putih jenis kating dipatok rata-rata Rp63.353 per kg di kawasan tersebut, atau sekitar 58,38 persen di atas harga acuan.

Menurut Nawandaru, kenaikan harga dipicu pelemahan rupiah terhadap dolar AS yang membuat harga bawang putih dari negara asal, terutama China, ikut meningkat. Selain itu, biaya logistik internasional juga melonjak setelah krisis di Selat Hormuz.

"Pasca adanya krisis Selat Hormuz, kapal-kapal berbendera China diperebutkan banyak negara. Ini menjadi salah satu pemicu kenaikan biaya logistik atau distribusi dari negara produsen, yaitu China, ke Indonesia," katanya.

Kemendag kini berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri untuk mendorong importir mengarahkan kapal pembawa bawang putih langsung bersandar di pelabuhan-pelabuhan utama di kawasan timur Indonesia.

Langkah itu diharapkan dapat memangkas biaya distribusi sekaligus menekan harga bawang putih di wilayah timur yang saat ini mengalami kenaikan paling tinggi.

"Kami berharap pelaku usaha dapat mengarahkan dropping langsung ke pelabuhan utama di kawasan timur sehingga biaya logistik berkurang dan distribusi ke daerah-daerah yang saat ini mengalami tekanan harga tinggi menjadi lebih efisien," ujar Nawandaru.

[Gambas:Youtube]

(del/pta) Add as a preferred
source on Google