Tekan Gejolak Harga, Kementan Siapkan Sentra Cabai 135 Ha di Papua

CNN Indonesia
Senin, 13 Jul 2026 18:35 WIB
Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan pengembangan kawasan sentra cabai seluas 135 hektare di sejumlah provinsi di Papua. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Febria Adha L).
Jakarta, CNN Indonesia --

Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan pengembangan kawasan sentra cabai seluas 135 hektare di sejumlah provinsi di Papua.

Langkah itu sebagai upaya menjaga pasokan dan menekan gejolak harga komoditas tersebut di wilayah timur Indonesia.

Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementan Muhammad Agung Sunusi mengatakan langkah tersebut ditempuh menyusul masih adanya kenaikan harga cabai di sejumlah wilayah Papua, meski secara nasional tren harga mulai membaik.

"Khusus untuk wilayah Papua yang masih mengalami peningkatan harga, kami laporkan ada alokasi khusus untuk menjaga harga," ujar Agung dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026, Senin (13/7).

Ia merinci pengembangan kawasan cabai tersebut tersebar di Papua Barat seluas 45 hektare, Papua Barat Daya 21 hektare, Provinsi Papua 45 hektare, Papua Selatan 14 hektare, dan Papua Tengah 10 hektare.

"Harapannya, kawasan aneka cabai ini dapat menjaga ketersediaan dan stabilisasi pasokan di wilayah Papua. Meskipun pada intinya juga kami meminta khusus di wilayah Papua untuk tetap melakukan penanaman yang reguler di samping alokasi APBN kita," ujarnya.

Secara nasional, Agung mengatakan kondisi pasokan cabai mulai menunjukkan perbaikan. Jumlah kabupaten/kota yang mengalami kenaikan harga cabai merah turun dari 123 daerah pada pekan sebelumnya menjadi 96 daerah. Di sisi lain, 245 kabupaten/kota telah mencatat penurunan harga cabai merah.

Menurut Agung, neraca bulanan cabai merah juga masih surplus sebesar 8.087 ton sehingga pasokan dinilai masih mencukupi.

Tren serupa juga terjadi pada cabai rawit. Jumlah daerah yang mengalami kenaikan harga turun dari 64 kabupaten/kota menjadi 51 kabupaten/kota, sementara 238 kabupaten/kota sudah mencatat penurunan harga.

Agung berharap kondisi musim kemarau dapat mendorong harga cabai kembali mendekati harga acuan penjualan (HAP). Namun, ia mengingatkan pemerintah daerah tetap perlu mengantisipasi risiko kekeringan agar produksi tidak terganggu.

"Oleh karena itu, dengan kondisi musim kemarau juga kami berharap pembuatan sumur dangkal dan sumur dalam menjadi perhatian, pemantauan pola tanam dan tentunya pemantauan panen cabai di lokasi-lokasi sentra produksi tetap menjadi perhatian untuk kita semuanya," ujarnya.

Selain itu, Kementan telah menginstruksikan optimalisasi irigasi perpompaan melalui kerja sama dengan Direktorat Lahan dan Irigasi sebagai langkah mengantisipasi dampak musim kemarau terhadap produksi cabai.

Agung menambahkan pelaksanaan program pengembangan cabai tahap pertama juga mulai berjalan di berbagai sentra produksi. Pendampingan di lapangan telah dilakukan di sejumlah daerah seperti Sumedang, Bandung, Lumajang, Banjarnegara, Kulon Progo, Maros, Lombok Barat, dan Tanggamus untuk menjaga produktivitas dan pasokan cabai.

(del/sfr)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK