Harga Minyak Meledak ke US$86 Usai Trump Sasar Fasilitas Energi Iran

CNN Indonesia
Rabu, 15 Jul 2026 10:06 WIB
Kilang Minyak Laut
Harga minyak dunia berpeluang kembali mendekati US$100 per barel apabila infrastruktur energi di kawasan Teluk mengalami kerusakan. (Foto: iStock/nielubieklonu)
Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Rabu (15/7), setelah konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas.

Kenaikan dipicu keputusan Presiden Donald Trump memberlakukan kembali blokade laut terhadap seluruh pelabuhan Iran, serta serangan balasan Teheran ke infrastruktur militer AS di kawasan Timur Tengah.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent naik US$1,46 atau 1,72 persen menjadi US$86,19 per barel pada awal perdagangan. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat US$1,11 atau 1,4 persen menjadi US$80,40 per barel.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penguatan tersebut melanjutkan reli pada sesi sebelumnya. Brent dan WTI sama-sama ditutup di level tertinggi sejak pertengahan Juni, setelah sehari sebelumnya harga minyak melonjak sekitar 2 persen ke posisi tertinggi dalam satu bulan.

Kenaikan harga dipicu kekhawatiran gangguan pasokan energi dari Selat Hormuz, yang menjadi jalur sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia sebelum pecahnya konflik.

Militer AS pada Rabu dini hari kembali melancarkan serangan ke Iran. Washington menyebut operasi tersebut ditujukan untuk melemahkan kemampuan Iran dalam menyerang kapal-kapal komersial yang melintas di Selat Hormuz.

Di sisi lain, Iran menyatakan kembali menutup Selat Hormuz setelah konflik dengan AS kembali pecah pekan lalu, sekaligus memperburuk gencatan senjata yang telah disepakati kedua negara pada Juni lalu.

Trump juga mengisyaratkan fasilitas energi Iran dapat menjadi sasaran serangan berikutnya.

"Saya akan menyimpan target energi untuk yang terakhir, tetapi pada akhirnya kami akan menyerang target-target energi," kata Trump dalam wawancara dengan Fox News.

Sebagai balasan, militer Iran mengklaim telah meluncurkan serangan pesawat nirawak ke pangkalan militer AS di Azraq, Yordania.

Sementara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan telah menyerang fasilitas penyimpanan senjata di Bahrain dan Kuwait, meski laporan tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

Kepala Analis Pasar KCM Trade Tim Waterer mengatakan eskalasi konflik meningkatkan peluang harga minyak kembali mendekati US$100 per barel apabila infrastruktur energi di kawasan Teluk mengalami kerusakan.

"Jika eskalasi terus berlanjut hingga merusak infrastruktur energi di kawasan Teluk, peluang harga minyak kembali menuju US$100 per barel dalam waktu dekat masih cukup besar," jelasnya.

Meski demikian, Waterer menilai harga Brent masih berpotensi bertahan di kisaran US$75 hingga US$80 per barel apabila jalur diplomasi berhasil membuka kembali Selat Hormuz.

[Gambas:Video CNN]

(ldy/pta) Add as a preferred
source on Google