Diinterupsi saat Kuliah Umum, Amran Minta Mahasiswa Tak Terprovokasi

CNN Indonesia
Rabu, 15 Jul 2026 18:15 WIB
Mentan Amran meminta mahasiswa tidak mudah terprovokasi saat kuliah umum di Universitas Sumatera Utara (USU), Medan pada Rabu (15/7). (FOTO:CNN Indonesia/Dela Naufalia Fitriyani).
Medan, CNN Indonesia --

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman meminta mahasiswa tidak mudah terprovokasi saat kuliah umum di Universitas Sumatera Utara (USU), Medan pada Rabu (15/7).

Pesan itu ia sampaikan setelah acara sempat diinterupsi dua mahasiswa yang menerobos masuk ke dalam auditorium dan menyampaikan orasi mengenai situasi di Papua.

Berdasarkan pantauan CNNIndonesia.com di lokasi, interupsi terjadi ketika Amran tengah menyampaikan materi kuliah umum bertajuk Inovasi dan Kolaborasi Generasi Muda Menuju Swasembada Pangan di hadapan ratusan mahasiswa, jajaran pimpinan kampus, dan unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).

Dua mahasiswa memasuki ruangan sambil membawa megafon dan berorasi.

"Merdeka! Hidup rakyat Indonesia! Hidup pendapatan rakyat Indonesia!" ucap mereka sebelum menyinggung isu Papua

"Tolong jangan bohongi diri kami, Pak. Papua Selatan tanah kosong! Papua bukan tanah kosong! Papua tanah damai! Proyek negara kapitalis yang akan membabat negara masyarakat rakyatnya. Stop! Tolong jangan serang kami! Kami masyarakat sipil!" seru salah seorang mahasiswa.

Aksi itu sempat memicu kericuhan di dalam auditorium. Sejumlah peserta terdengar meneriakkan "turun" kepada kedua mahasiswa tersebut.

Di tengah situasi itu, Amran justru meminta ajudannya membawa mahasiswa yang berorasi mendekat ke panggung agar dapat berdialog secara langsung.

"Anak-anakku, kita harus komunikasi. Kenapa? Kalian yang akan melanjutkan perjuangan Republik Indonesia. Kalian adalah harapan bangsa. Menteri itu hanya seperti daki. Dua tiga tahun di-reshuffle, kembali ke kampung. Nanti yang melanjutkan kalian nanti," kata Amran dari atas podium.

Ia kemudian melanjutkan kuliah umumnya sembari mengingatkan mahasiswa agar siap menghadapi kritik dan tekanan apabila ingin berhasil.

"Kalau mau berhasil, ini pesan saya, Anda siap dikritik. Anda siap dihina. Anda siap difitnah. Orang sukses itu adalah yang mendapatkan tekanan yang tinggi," ujarnya.

Amran juga mengajak peserta melihat interupsi tersebut sebagai bagian dari ruang dialog. Menurut dia, mahasiswa yang menyampaikan protes juga memiliki keinginan agar Indonesia menjadi lebih baik.

"Mari kita buka-bukaan. Supaya membantu, anak-anak kita tadi yang berteriak pasti yang berteriak tadi ingin Republik ini lebih baik. Jadi jangan dipandang bahwa itu salah. Generasi muda tatap matanya diberi pemahaman, seperti ini lagi diinginkan pemerintah sekarang," ujarnya.

Usai acara, Amran mengatakan dirinya tidak mempermasalahkan aksi interupsi tersebut. Menurut dia, kritik dari mahasiswa merupakan hal yang wajar selama disampaikan secara konstruktif dan didasarkan pada fakta.

"Itu (aksi) sangat bagus. Kenapa? Kalau mau berhasil, mau sukses harus mendapatkan tekanan lebih. Yang penting konstruktif. Kita harus mendengarkan aspirasi," kata Amran kepada wartawan.

Ia mengaku berdialog langsung dengan kedua mahasiswa setelah acara berlangsung. Menurut Amran, setelah dijelaskan menggunakan data, keduanya memahami penjelasan yang disampaikan pemerintah.

"Kami bangga itu luar biasa. Kritikannya konstruktif, begitu kami jelaskan, (mereka bilang) 'oh iya Pak benar'. Kami jelaskan pakai data, bukan narasi yang kosong. Tapi tunjukkan fakta. Dan mereka langsung paham. Ada dua tiga orang yang menangis, sampai menangis saya terharu. Ternyata cuma ingin tahu apa sebenarnya capaian pemerintah," ujarnya.

Amran pun mengingatkan agar kritik tidak berubah menjadi fitnah atau narasi yang dapat memecah belah.

"Kita butuh kritikan tapi konstruktif. Jangan fitnah. Jangan membuat narasi ingin menjatuhkan atau merusak tatanan negara kita. Kita ini harus berjuang bersama," katanya.

Berdasarkan pantauan, setelah sempat diwarnai interupsi, acara kuliah umum kembali berlangsung. Di akhir kegiatan, kedua mahasiswa akhirnya bersedia naik ke atas panggung dan berdialog langsung dengan Amran selama lebih dari 15 menit.

Dalam dialog tersebut, mereka tidak hanya membahas isu Papua, tetapi juga menyampaikan pertanyaan mengenai persoalan pertanian, termasuk ketimpangan petani dan komoditas kedelai. Kegiatan kemudian ditutup sesuai agenda yang telah dijadwalkan.

(fnr/del)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK