Menteri P2MI Buka Peluang Kerja Sama Penempatan TKI ke Malaysia-Jerman

CNN Indonesia
Jumat, 17 Jul 2026 17:19 WIB
Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Mukhtarudin menyampaikan paparan saat rapat kerja bersama Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (8/4/2026). Dalam rapat tersebut Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2
Menteri (P2MI)/ Kepala BP2MI Mukhtarudin membuka peluang perluasan skema penempatan pekerja migran Indonesia (PMI) melalui kerja sama antarpemerintah (G to G). (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga).
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI)/BP2MI Mukhtarudin membuka peluang perluasan skema penempatan pekerja migran Indonesia (PMI) melalui kerja sama antarpemerintah atau government to government (G to G).

Pemerintah menjajaki skema tersebut untuk penempatan PMI ke sejumlah negara, mulai dari Jerman, Jepang, hingga Malaysia. Namun, skema penempatan nantinya disesuaikan dengan kebijakan dan kebutuhan masing-masing negara tujuan.

"Kita juga membuka ruang lagi-lagi membuka penempatan pemerintah ke Jerman dan Jepang. Kemudian juga penempatan pemerintah ke Malaysia yang nanti akan kita bicarakan. Termasuk juga ada beberapa negara lain yang dengan polanya G to G," kata Mukhtarudin dalam Rapat Kerja dengan Komisi IX DPR RI, Jumat (17/7).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menjelaskan pemerintah tidak dapat secara sepihak menentukan seluruh penempatan dilakukan melalui skema G to G. Menurutnya, terdapat negara yang justru menghendaki penempatan dilakukan melalui skema private to private (P to P).

"Kita mau G to G tapi biar negara penempatan menginginkan agar P to P. Jadi variabelnya tidak bisa kita tentukan sendiri harus G to G atau P to P," ujarnya.

Mukhtarudin menjelaskan secara keseluruhan target penempatan pekerja migran Indonesia pada 2025 yang ditetapkan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mencapai 250 ribu orang dari seluruh skema penempatan, mulai dari G to G, P to P, untuk kepentingan perusahaan sendiri (UKPS), hingga skema lainnya.

Menurut dia, realisasi penempatan justru melampaui target tersebut. Hingga akhir 2025, jumlah pekerja migran Indonesia yang berhasil ditempatkan mencapai 296 ribu orang.

"Target dari Bappenas 250 ribu, tapi kita bisa mencapai 296 ribu. Jadi sebenarnya kita 100 persen lebih penempatan kita tahun 2025 dari seluruh skema penempatan," ujar Mukhtarudin.

Meski demikian, Mukhtarudin mengakui realisasi penempatan melalui skema G to G, khususnya ke Korea Selatan, belum mencapai target yang ditetapkan. Dari target 8.200 penempatan yang menjadi dasar penerimaan negara bukan pajak (PNBP), realisasinya baru mencapai sekitar 6.800 orang.

Ia mengatakan capaian tersebut menyebabkan masih terdapat sisa anggaran pada program penempatan sekitar Rp19,457 miliar, sehingga realisasi serapan anggaran pada pos penempatan hanya mencapai sekitar 75 persen.

Menurut Mukhtarudin, rendahnya realisasi pada skema G to G tidak mencerminkan kinerja keseluruhan penempatan pekerja migran Indonesia.

Pasalnya, capaian penempatan terbesar justru berasal dari skema P to P yang dilakukan melalui Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI).

Ia menilai skema tersebut memberi dampak ekonomi yang lebih luas karena melibatkan sektor riil dan menciptakan efek berganda (multiplier effect) bagi masyarakat.

"Jadi penempatan kita yang terbesar memang dari P3MI ataupun dari private to private, yang P to P. Jadi sekarang ini yang P to P ini yang berdampak secara ekonomi kepada masyarakat. Karena pelakunya adalah sektor riil. Jadi memang kita mendorong agar sektor riil ini bergerak. Karena begitu sektor riil bergerak di bawah, multiplier effect-nya besar," ujar Mukhtarudin.

[Gambas:Video CNN]

(del/sfr) Add as a preferred
source on Google