Financial Check-up Tengah Tahun: Sudah Sehatkah Keuangan Anda?
Tak terasa 2026 telah berjalan melewati paruh pertama sehingga menjadi momen yang tepat bagi kita untuk mengevaluasi kesehatan keuangan selama sisa tahun ini.
Evaluasi ini menjadi penentu apakah rencana keuangan awal tahun sudah berjalan optimal atau justru jadi lampu kuning akibat pengeluaran tidak terkontrol.
Perencana Keuangan OneShildt Consulting Budi Rahardjo menjelaskan dalam perencanaan keuangan terdapat tahapan monitoring atau evaluasi untuk melihat realisasi perencanaan keuangan berjalan dengan baik atau mengalami penyimpangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Penyimpangan bisa terjadi karena iklim investasi yang kurang mendukung, situasi makro ekonomi, kehilangan pekerjaan, biaya risiko kesehatan ataupun bisa juga karena dinamika kehidupan keluarga," ujar Budi kepada CNNIndonesia.com, Jumat (17/7).
Lihat Juga : |
Budi menyampaikan monitoring tengah tahun dapat membantu dalam mendeteksi sejak dini berbagai risiko yang bisa mengganggu rencana keuangan sehingga kita bisa lebih optimistis target finansial di akhir tahun dapat tercapai.
"Menunda monitoring hingga akhir tahun akan memperbesar gap apabila rencana keuangan perlu mendapatkan perhatian dan revisi," terangnya.
Oleh karena itu, mari tinjau kondisi keuangan Anda lewat sejumlah ceklis dari perencana keuangan berikut ini.
1. Apakah Dana Darurat Cukup untuk Minimal 6 Bulan?
Jika pos dana darurat belum menyentuh angka ideal 6 bulan pengeluaran, Budi membagikan empat langkah taktis untuk mengejarnya di sisa tahun ini.
Lihat Juga : |
Pertama, kalkulasi ulang nominal pasti yang dibutuhkan, lalu buat target tabungan bulanan yang terukur dengan mengatur ulang prioritas pengeluaran.
Kedua, cek potensi pendapatan ekstra seperti bonus atau dividen tahunan yang belum tercatat. Terakhir, manfaatkan keahlian atau aset yang ada untuk mencari penghasilan tambahan.
"Mencari peluang penghasilan tambahan dengan memanfaatkan keahlian dan aset yang sudah dimiliki agar tidak ada biaya modal besar yang justru menggerus tabungan," ujar Budi.
Lihat Juga : |
2. Cek Rasio Cicilan di Bawah 30 Persen
Batas aman cicilan utang adalah maksimal 30 persen dari penghasilan. Jika rasio utang sudah melewati angka tersebut, langkah awal yang harus dilakukan adalah mengevaluasi dampaknya terhadap arus kas (cash flow).
Jika cicilan tinggi mulai mengacaukan pos investasi, proteksi, hingga menggerus dana darurat, maka harus segera mengambil langkah penyelamatan.
"Maka berarti kenaikan cicilan ini perlu dipertimbangkan untuk diturunkan atau direstrukturisasi agar menjadi lebih sehat. Misalnya dengan meminta keringanan suku bunga, perpanjangan tenor, pelunasan sebagian utang, atau lainnya agar semua jadi lebih baik," terangnya.
Lihat Juga : |
3. Punya Proteksi Kesehatan
Perencana Keuangan Tatadana Consulting Tejasari menyarankan untuk memiliki proteksi kesehatan, tetapi jangan terburu-buru menambah asuransi dari pihak swasta jika kondisi finansial belum stabil.
Tambahan proteksi mandiri tersebut baru tepat dipertimbangkan jika tabungan, investasi rutin, dan dana darurat sudah aman, serta utang konsumtif telah lunas.
"Tapi kalau pengeluaran kita masih banyak masalah, sebaiknya tidak menambah biaya hidup dengan dobel-dobel asuransi kesehatan," ujar Tejasari.
Lihat Juga : |
4. Investasi Rutin
Tejasari merekomendasikan instrumen reksa dana pasar uang (RDPU) dan emas sebagai pilihan investasi rutin yang aman bagi pemula.
Pasalnya, RDPU dinilai sangat ramah pemula karena risikonya rendah dan stabil, sedangkan emas disukai karena memiliki rekam jejak jangka panjang yang terbukti selalu naik.
Jika ingin mencoba instrumen dengan risiko lebih tinggi, pemula disarankan untuk memulainya dengan nominal kecil terlebih dahulu.
"Mulai dari yang jumlahnya kecil-kecil dulu sampai kita nyaman dan mengerti tentang produk itu," jelasnya.
5. Buat Target Keuangan Hingga Akhir Tahun
Tejasari menyarankan agar rencana akhir tahun disesuaikan kembali dengan kondisi finansial saat ini.
Evaluasi tengah tahun merupakan momen tepat untuk memperbaiki strategi, baik dengan cara mengubah produk keuangan maupun menambah porsi investasi secara realistis.
"Pastinya dengan cara yang nyaman buat kita, jangan terlalu ngoyo (memaksakan diri) dan berlebihan," pungkas Tejasari.
(sfr) Add
as a preferred source on Google