Desa Energi Berdikari, Daya Kemandirian Ramah Lingkungan

CNN Indonesia
Senin, 27 Jul 2026 14:16 WIB
Pertamina Patra Niaga memasang panel surya untuk memperluas cakupan desa energi berdikari, di Desa Besakih, Kabupaten Karangasem, Bali, Sabtu (11/7/2025). ANTARA/HO-Pertamina Patra Niaga
Pertamina Patra Niaga memasang panel surya untuk memperluas cakupan desa energi berdikari, di Desa Besakih, Kabupaten Karangasem, Bali, Sabtu (11/7/2025). ANTARA/HO-Pertamina Patra Niaga
Jakarta, CNN Indonesia --

Di Kampung Eduwisata Bhineka, Kelurahan Kebon Kosong, Kecamatan Kemayoran, Jakarta Pusat terpasang 12 unit panel surya dengan sistem hybrid off-grid berkapasitas 8,8 kWh serta energy storage sebesar 20 kWh.

Infrastruktur energi surya ini dipasang untuk mendukung operasional kampung eduwisata tersebut mulai dari dari pengelolaan bank sampah, budidaya maggot, perikanan rakyat, hingga urban farming.

Pemanfaatan energi surya ini mampu menekan biaya operasional listrik sekaligus meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan aktivitas ekonomi dan lingkungan masyarakat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara di Desa Besakih, Kabupaten Karangasem, Bali, terdapat Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 6,6 kWp dengan baterai penyimpanan 20 kWh dipasang. PLTS ini menjadi daya operasional ekstraktor madu otomatis dan penerangan di kawasan wisata camping.

Sumber listrik ini mendorong pertumbuhan ekonomi lokal dengan potensi peningkatan pendapatan hingga Rp123 juta per bulan dari sektor pariwisata dan hasil hutan non-kayu.

PLTS juga jadi penyuplai energi di Desa Sobokerto, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. PLTS memberi daya pada sumur pompa untuk mengairi lahan pertanian. Dengan begitu, petani bisa tetap mengolah lahan meski di musim kemarau. Petani tak lagi ketar-ketir tak bisa bercocok tanam di musim panas.

Salah seorang petani Sobokerto, Khoirul mengatakan program tersebut mengubah kondisi pertanian masyarakat secara signifikan.

"Waktu musim kemarau, kami sulit menanam. Lahan yang luas hanya bisa ditanami sekitar 20 persen. Setelah mendapat pendampingan dari Pertamina, kami diberi solusi untuk mengairi pertanian sehingga bisa berkembang seperti sekarang," kata Khoirul.

Cuan limbah ikan hingga desa wisata Papua

Tak cuma di tiga desa itu. Penggunaan energi alternatif untuk mendukung kehidupan dan perekonomian warga ada di desa-desa yang lain di seantero nusantara.

Di desa Rawa Meneng, Subang, Jawa Barat misalnya. Mulanya, ikan-ikan kecil hasil tangkapan nelayan di desa ini dibuang begitu saja. Tak punya nilai ekonomis, tak ada yang berminat membelinya.

Jika tak dibuang, ikan-ikan kecil itu dibiarkan begitu saja menjadi limbah, membusuk dan menimbulkan bau tak sedap. Ikan-ikan kecil itu kini dikeringkan dan dijadikan tepung ikan.

Operasionalnya memanfaatkan PLTS untuk melistriki alat pengeringan ikan, sekaligus memberikan edukasi peningkatan ekonomi melalui pengolahan limbah ikan menjadi tepung ikan. Penggunaan PLTS diakui membuat operasional pengeringan ikan jadi lebih hemat.

"Biasanya ikan rucah ini kami buang karena harganya sangat rendah. Tapi dengan adanya program ini ikan rucah yang tidak bernilai jual itu bisa kami olah jadi tepung ikan sehingga menjadi bernilai ekonomi. Apalagi mesin pengeringnya dioperasikan dengan menggunakan PLTS, biaya produksi jadi lebih hemat," kata Ketua KUD Mina Karya Baru Karyono.

Tepung ikan yang diolah dari ikan rucah tersebut bisa menjadi pakan unggas dan ikan yang bernilai gizi tinggi.

Dari Timur Indonesia, Papua Barat Daya tepatnya, sebuah desa bernama Malasigi, Distrik Klayili, Sorong meraih juara 1 Desa Wisata Rintisan. Ajang ini merupakan Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024 dari Kementerian Pariwisata. Malasigi mengungguli 6.000 lebih desa wisata karena potensinya.

Malasigi menjadi satu-satunya kampung di Distrik Klayili yang bertahan dari gempuran alih fungsi lahan dan menjadi kampung percontohan yang mengandalkan ekowisata sebagai penghasilannya. Masyarakat bisa berdaya dan mandiri secara ekonomi dengan tetap menjaga kelestarian hutan.

Kegiatan program meliputi pengembangan ekowisata dengan memanfaatkan sumber daya hutan secara berkelanjutan dan menggunakan energi terbarukan melalui PLTS dengan kapasitas panel Surya 8,72 kilowatt peak (kWp).

Inisiatif yang memadukan pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) untuk mendorong kemandirian masyarakat inilah yang menjadi jiwa program Desa Energi Berdikari (DEB) yang dilaksanakan oleh PT Pertamina (Persero).

DEB tak sekadar menghadirkan akses energi yang lebih ramah lingkungan, tetapi juga membangun kemandirian desa melalui sektor pertanian, perikanan, pariwisata, hingga pengelolaan lingkungan.

Dengan konsep tersebut, energi bersih menjadi penggerak utama aktivitas ekonomi yang mendorong kemandirian masyarakat sekaligus mendukung target nasional menuju Net Zero Emission 2060.

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muhammad Baron mengatakan DEB mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan masyarakat lokal, mengurangi dampak lingkungan, dan mengatasi ketimpangan akses energi melalui adopsi energi terbarukan.

Sampai dengan Mei 2026, Pertamina telah memiliki 262 lokasi DEB. DEB ini dikelompokkan menjadi 3 tematik program yaitu DEB Ketahanan Pangan sebanyak 163 lokasi, DEB Wisata Energi sebanyak 46 lokasi dan DEB Pesisir Modern sebanyak 43 lokasi.

"Sebagai perusahaan energi nasional, Pertamina memiliki tanggung jawab menyediakan energi bagi Indonesia. Namun di saat yang sama kami juga melihat adanya potensi masyarakat yang dapat dikembangkan bersama untuk mewujudkan kemandirian sesuai dengan potensinya masing-masing. Kolaborasi itulah yang diwujudkan melalui Desa Energi Berdikari," ujar Baron.

Implementasi DEB menunjukkan bahwa energi terbarukan dapat menjadi solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.

Data per Mei 2026, sumber EBT yang terpasang meliputi 230 unit panel surya, 21 metana & biogas, 8 mikrohidro, 1 hybrid dan 2 biodiesel. Sumber energi listrik yang dihasilkan dari tenaga surya, mikrohidro, hibrida surya & angin sekitar 1,3 juta Wattpeak, 959 ribu meter kubik produksi biogas dan metana/tahun.

Terhadap lingkungan, program ini menurunkan emisi lebih dari 1 juta ton CO2eg per tahun. Program ini juga memberikan manfaat kepada sekitar 283 ribu jiwa di DEB seluruh Indonesia.

"Program ini bukan hanya tentang teknologi energi baru terbarukan, tapi tentang membentuk ekosistem masyarakat yang mandiri, sadar lingkungan, dan siap menghadapi masa depan," kata Baron.

DEB juga menjadi model nyata bahwa transisi energi bisa dimulai dari akar rumput, yaitu dari desa, bukan hanya dari kota atau industri besar.

(lid/sur) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]