BGN Temukan SPPG Punya Dua Virtual Account
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Agustina Arumsari membeberkan temuan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang memiliki dua rekening virtual (virtual account) untuk mencairkan dana dari pusat.
Awalnya Agustina menceritakan saat dirinya baru menjabat di BGN sempat kebingungan terkait jumlah pasti SPPG yang telah berjalan untuk melayani program makan bergizi gratis (MBG).
"Saya ini waktu datang ke sini terus terang bingung dengan berapa sebenarnya jumlah SPPG. Karena dulu, kedeputian tuh bekerja masing-masing dengan anggaran yang sudah dicatat tadi, masing-masing mengeluarkan data sendiri-sendiri," cerita Agustina dalam konferensi pers di kantor BGN, Jakarta Pusat, Selasa (21/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat itu pihaknya yang terdiri dari Biro Umum dan Keuangan, Pusat Data dan Sistem Informasi (Pusdatin), Deputi Sistem dan Tata Kelola (Sistakol), bersama dengan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengidentifikasi rekening SPPG yang bermasalah. Akhirnya, BGN menemukan terdapat SPPG yang mempunyai dobel virtual account.
"Waktu itu mengidentifikasi virtual account yang trouble-trouble dari SPPG. Ternyata selama ini ada SPPG yang virtual account-nya bisa dua," bebernya.
Ketika menemukan hal tersebut, Agustina menyampaikan pihaknya langsung bergerak cepat untuk mengembalikan dana sekitar Rp311 miliar ke kas negara yang saat itu mengendap dalam rekening-rekening tersebut.
"Dan waktu itu beliau (Lili Khamiliyah saat itu sebagai Kepala Biro Umum dan Keuangan BGN) yang menyetorkan langsung ke kas negara sekitar Rp311 miliar, setelah kami tahu bahwa ada SPPG yang dobel virtual account-nya," tutur Agustina.
Oleh karena itu, BGN berencana merombak total terhadap sistem pertanggungjawaban dan pencairan anggaran di tingkat SPPG. Menurut Agustina, mekanisme pengawasan dan validasi keuangan yang berjalan selama ini belum akuntabel, lantaran masih sangat bergantung pada validasi manual oleh masing-masing kepala SPPG.
"Kami akan membangun sistem untuk memastikan bahwa setelah uang keluar dari kas negara melalui virtual account yang sekarang ini belum dipertanggungjawabkan dengan baik, nantinya kami akan bikin sistemnya," terang Agustina.
Melalui sistem baru yang tengah digodok BGN ini, alokasi anggaran belanja bahan baku hingga operasional akan dipantau secara otomatis berbasis sistem (by system).
Langkah tersebut dilakukan untuk memangkas keterlibatan manusia dalam proses validasi yang dinilai rentan memicu praktik korupsi di lapangan.
Dalam kesempatan sama, Agustina juga membocorkan temuan satu sekolah yang justru mendapat pasokan makanan dari lebih dari satu SPPG. Hal ini terjadi lantaran pendataan sasaran penerima manfaat saat itu belum terintegrasi by name dan by address.
Dengan begitu, BGN menargetkan tidak ada lagi duplikasi peran SPPG maupun sekolah yang menerima pasokan ganda.
"Jadi dari mulai perencanaan sasaran, penetapan target, distribusi secara berjenjang dari pusat hingga fasilitas pelayanan pencatatan penerima manfaat, nah ini yang penting, by name, by address. Itu yang sedang kami bangun," pungkasnya.
as a preferred source on Google