Harga Minyak Dunia Jebol ke US$91,5 usai AS Lanjutkan Serangan ke Iran

CNN Indonesia
Rabu, 22 Jul 2026 10:44 WIB
Oil Refinery, Chemical & Petrochemical plant abstract at night.
Sementara itu, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 30 sen atau 0,36 persen ke level US$84,64 per barel. (Foto: iStock/zorazhuang)
Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak dunia naik tipis pada perdagangan Rabu (22/7), setelah Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangan ke target militer Iran, memperbesar kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent naik 50 sen atau 0,55 persen menjadi US$91,51 per barel pada awal perdagangan. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 30 sen atau 0,36 persen ke level US$84,64 per barel.

Kenaikan tersebut terjadi setelah harga minyak ditutup di level tertinggi dalam lima pekan pada perdagangan Selasa (21/7), menyusul serangan AS ke sejumlah target di wilayah selatan dan barat Iran. Di saat bersamaan, Iran melancarkan serangan ke fasilitas militer AS di Bahrain, Kuwait, dan Yordania.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Militer AS mengatakan serangan terbaru ke Iran dimulai pada Selasa malam waktu setempat atau Rabu dini hari waktu Iran. Operasi tersebut menandai malam ke-11 berturut-turut AS menggempur target-target militer Iran.

Lihat Juga :

Tak lama setelah itu, militer Kuwait melaporkan sistem pertahanan udaranya mencegat sejumlah drone Iran yang memasuki wilayah negara tersebut. Rangkaian serangan balasan antara kedua negara kembali memicu kekhawatiran pasar terhadap pasokan minyak dunia.

Risiko itu semakin meningkat setelah kelompok Houthi di Yaman, yang didukung Iran, mengancam akan menyerang kapal-kapal pengangkut minyak Saudi di Selat Bab el-Mandeb serta mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi.

[Gambas:Youtube]

Bab el-Mandeb di pintu selatan Laut Merah kini menjadi jalur ekspor minyak yang semakin penting bagi Arab Saudi, terutama setelah arus pelayaran melalui Selat Hormuz menurun tajam sejak gencatan senjata AS-Iran runtuh pada awal bulan ini.

Di sisi lain, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengungkapkan perang yang berlangsung dengan Iran telah menghabiskan biaya sekitar US$37,5 miliar, atau meningkat hampir US$8 miliar dibandingkan estimasi terakhir yang dipublikasikan.

Sementara itu, data American Petroleum Institute (API) menunjukkan persediaan minyak mentah dan produk distilat AS meningkat pada pekan lalu, sedangkan stok bensin mengalami penurunan.

Pelaku pasar kini menantikan data resmi persediaan energi dari Energy Information Administration (EIA) yang akan dirilis pada Rabu waktu setempat.

(ldy/ins) Add as a preferred
source on Google