TKDN 71,14%: Kontribusi Nyata Pertamina dan Motor Penggerak Industri

CNN Indonesia
Senin, 24 Agu 2026 18:12 WIB
Stasiun Pengumpul Pertamina EP di Subang, Jawa Barat. Produksi rata-rata Lapangan Subang sebesar 1.484 barel per hari (bph) untuk minyak dan 255,61 MMSCFD untuk gas. Produksi minyak dari lapangan dialirkan ke kilang minyak Refinery Unit VI di Balonga
PT Pertamina (Persero) mencatat capaian Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebesar71,14 persen sepanjang 2025. Foto: (www.pertamina-ep.com)
Jakarta, CNN Indonesia --

PT Pertamina (Persero) mencatat capaian Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebesar 71,14 persen sepanjang 2025. Angka tersebut menjadi salah satu indikator upaya perusahaan energi pelat merah itu dalam meningkatkan penggunaan produk dalam negeri sekaligus memperkuat rantai pasok industri nasional.

Realisasi tersebut diperoleh berdasarkan hasil verifikasi TKDN terhadap pekerjaan maupun kontrak yang dilaksanakan di holding dan seluruh subholding Pertamina selama 2025.

Untuk mencapai angka tersebut, Pertamina menjalankan berbagai strategi peningkatan penggunaan produk dalam negeri (P3DN).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Langkah yang ditempuh meliputi penyusunan regulasi dan roadmap peningkatan TKDN, substitusi produk impor dengan produk lokal, pengelolaan sertifikasi TKDN, verifikasi pengadaan barang dan jasa, hingga digitalisasi sistem perencanaan, monitoring, dan verifikasi implementasi TKDN di seluruh Pertamina Group.

Selain itu, perusahaan juga memperkuat koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari kementerian, lembaga pemerintah, asosiasi industri, hingga seluruh subholding Pertamina untuk mempercepat implementasi P3DN.

Upaya tersebut merupakan kelanjutan dari komitmen Pertamina dalam memperbesar belanja produk dalam negeri. Pada 2024, nilai penggunaan produk lokal di seluruh lini usaha Pertamina mencapai Rp415,4 triliun, meningkat dibandingkan Rp374 triliun pada 2023.

Apresiasi Menperin

Capaian TKDN Pertamina ini mendapat apresiasi Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita. Dalam acara P3DN Summit 2026 Lintas Kementerian di Jakarta, Rabu (22/7), Agus menyatakan Pertamina Group yang telah menjadikan P3DN sebagai bagian penting dalam strategi pengadaan barang dan jasa perusahaan.

Menurutnya pada tahun 2025, realisasi belanja Produk Dalam Negeri Pertamina mencapai sekitar Rp531,5 triliun. Sekitar Rp309,6 triliun di antaranya dialokasikan untuk pengadaan infrastruktur, operasional, dan pemeliharaan yang menyerap berbagai produk manufaktur nasional.

Agus mengatakan Pertamina juga merealisasikan pengadaan barang dan jasa kepada UMKM melalui platform digital dengan nilai mencapai Rp14,2 triliun.

Besarnya belanja tersebut dinilai Agus memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan utilisasi industri nasional, memperkuat rantai pasok domestik, serta memperluas penyerapan tenaga kerja.

"Pemerintah mengapresiasi komitmen Pertamina yang telah menempatkan penggunaan produk dalam negeri sebagai bagian dari strategi bisnis perusahaan. Komitmen seperti ini perlu terus diperkuat oleh seluruh BUMN maupun BUMD agar manfaat ekonomi yang dihasilkan semakin besar bagi industri nasional," kata Agus.

P3DN, menurutnya, merupakan instrumen strategis untuk memperkuat daya saing industri manufaktur nasional sekaligus mengakselerasi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Optimalisasi belanja pemerintah, BUMN, dan BUMD terhadap produk dalam negeri diyakini mampu meningkatkan utilisasi industri, memperkuat rantai pasok domestik, memperluas investasi, serta menciptakan lapangan kerja.

"P3DN bukan sekadar kebijakan pengadaan barang dan jasa, tetapi merupakan strategi besar untuk memperkuat struktur industri nasional. Setiap belanja terhadap produk dalam negeri akan memberikan efek berganda yang menggerakkan sektor industri, meningkatkan permintaan bahan baku lokal, memperluas kesempatan kerja, dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional," kata Agus.

Pakar ekonomi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Toto Pranoto juga memberikan apresiasi capaian TKDN Pertamina ini.

Menurut Toto, industri migas, khususnya Pertamina, memiliki posisi strategis sebagai penggerak permintaan sehingga dapat mendorong tumbuhnya industri manufaktur dalam negeri.

"Jadi industri migas, terutama Pertamina, bisa menjadi motor penggeraknya," kata Toto saat dihubungi.

Sementara itu Anggota Komisi XII Ramson Siagian capaian TKDN Pertamina ini baik di tengah banyaknya peralatan canggih dalam industri migas.

Menurutnya angka TKDN 71,14 persen sangat siginifikan untuk tetap menjaga produktivitas dan efisiensi.

"TKDN 71, 14 % cukup signifikan dengan tetap terjaganya produktivitas dan efisiensi. Dari sisi kualitas dan spesifikasi dan lifetime yang lama," kata Ramson.

Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron juga menilai kebijakan P3DN menjadi instrumen penting untuk memperkuat industri nasional.

"Kebijakan ini telah membawa dampak yang sangat positif bagi perekonomian negara, menggerakkan sektor industri, hingga meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui penciptaan tenaga kerja dan ekonomi rakyat, serta multiplier effect dari pertumbuhan industri tersebut," kata Baron.

Menurutnya, Pertamina berkomitmen untuk terus meningkatkan belanja produk dalam negeri. Pertamina berharap semakin banyak industri kecil dan menengah yang dapat mendukung operasional perusahaan, mulai dari sektor hulu, pengolahan, hingga pemasaran dan niaga.

(lau/sur)
placeholder