Rupiah Lemah Lagi ke Rp18.009 per Dolar AS usai Gubernur BI Mundur

CNN Indonesia
Senin, 27 Jul 2026 16:00 WIB
Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.002 per dolar AS pada perdagangan pasar spot, Jakarta, 18 April 2019. Rupiah melesat 0,59 persen terhadap dolar AS dibandingkan Selasa (16/4) di angka Rp14.085 per dolar AS. (CNN Indonesia/ Hesti Rika)
Rupiah Lemah Lagi ke Rp18.009 per Dolar AS usai Gubernur BI Mundur (FOTO:CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia --

Nilai tukar rupiah ditutup di level Rp18.009 per dolar AS pada perdagangan Senin (27/7). Mata uang Garuda melemah 46 poin atau 0,26 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.

Pergerakan rupiah sejalan dengan mata uang di kawasan Asia yang bergerak bervariasi terhadap dolar AS. Yuan China menguat 0,06 persen, peso Filipina terapresiasi 0,26 persen, ringgit Malaysia naik 0,09 persen, dolar Singapura menguat 0,02 persen, serta yen Jepang menguat 0,18 persen.

Di sisi lain, won Korea Selatan melemah 0,89 persen, sementara dolar Hong Kong bergerak stabil.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara itu, mata uang utama negara maju juga bergerak variatif terhadap dolar AS. Euro Eropa menguat 0,22 persen, poundsterling Inggris naik 0,07 persen, dolar Australia terapresiasi 0,32 persen, dan franc Swiss menguat 0,35 persen.

Sebaliknya, dolar Kanada melemah tipis 0,01 persen terhadap mata uang Negeri Paman Sam.

Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan rupiah seharusnya berpeluang menguat seiring pelemahan indeks dolar AS di tengah meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

[Gambas:Youtube]

"Rupiah seharusnya menguat hari ini oleh pelemahan indeks dolar AS di tengah meredanya tensi geopolitik Timur Tengah," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com, Senin (27/7).

Namun, menurutnya, sentimen domestik justru menekan pergerakan rupiah setelah pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memicu kekhawatiran pasar terhadap independensi bank sentral.

"Namun pengunduran diri Gubernur BI menekan sentimen terkait kekhawatiran independensi BI terhadap rupiah maupun pasar ekuitas," katanya.

(lau/ins) Add as a preferred
source on Google