Harga Minyak Dunia Turun Lagi ke US$87 usai AS Tunda Serang Iran

CNN Indonesia
Selasa, 28 Jul 2026 10:32 WIB
Infrastruktur bahan bakar minyak (BBM) milik PT AKR Corporindo Tbk. (Dok. AKR Corporindo).
Harga minyak dunia kembali turun ke US$87 per barel pada Selasa (28/7) setelah AS menghentikan sementara serangan terhadap Iran. (Dok. AKR Corporindo)
Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak dunia kembali turun ke US$87 per barel pada perdagangan Selasa (28/7) setelah Amerika Serikat (AS) menghentikan sementara serangan terhadap Iran.

Langkah itu memunculkan harapan penyelesaian diplomatik yang dapat memulihkan kembali arus pasokan energi dari Timur Tengah.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent turun US$0,54 atau 0,6 persen menjadi US$87,82 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun US$0,66 atau 0,8 persen menjadi US$81,95 per barel.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kedua kontrak sempat merosot sekitar 1 persen pada awal perdagangan dan menyentuh level terendah dalam lebih dari sepekan.

Presiden AS Donald Trump pada Senin mengatakan Washington tengah melakukan pembicaraan yang baik dengan Iran dan masih melihat peluang tercapainya penyelesaian konflik.

Namun, ia menegaskan serangan militer dapat kembali dilakukan apabila negosiasi gagal. Sementara Iran juga memberikan pernyataan serupa terkait kemungkinan aksi balasan.

Analis IG Tony Sycamore mengatakan meredanya ketegangan sementara telah mengurangi tekanan terhadap harga minyak.

"Untuk saat ini, kelegaan karena adanya jalan keluar telah mengurangi tekanan pada harga dan meredakan kekhawatiran atas serangan Houthi terhadap infrastruktur Arab Saudi. Namun, situasi masih sangat dinamis," kata Sycamore.

Di sisi lain, kekhawatiran terhadap gangguan pelayaran di kawasan Teluk masih membayangi pasar.

Menteri Luar Negeri Yaman Afrah al-Zouba mengatakan kelompok Houthi berupaya meniru strategi Iran dalam mengendalikan jalur pelayaran di Selat Bab el-Mandeb sebagaimana pengaruh Teheran di Selat Hormuz.

Analis Marex Edward Meir menilai kemampuan Houthi untuk melakukan blokade penuh masih diragukan. Meski demikian, lalu lintas kapal di Laut Merah dan Selat Hormuz telah menurun signifikan.

Ia juga mengatakan harga minyak belum melonjak lebih tinggi karena permintaan global, terutama dari kawasan Asia, masih melemah.

Sementara itu, analis Barclays mencatat arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz masih berada di level rendah.

Dalam sepekan hingga 24 Juli, ekspor bersih minyak mentah dan produk olahan melalui selat tersebut hanya mencapai rata-rata 2,9 juta barel per hari, turun dari 5,9 juta barel per hari pada pekan sebelumnya.

Di Amerika Serikat, jajak pendapat awal Reuters menunjukkan persediaan minyak mentah kemungkinan menyusut pada pekan lalu, diikuti penurunan stok bensin. Sebaliknya, stok produk distilat diperkirakan mengalami peningkatan.

[Gambas:Youtube]

(ldy/pta) Add as a preferred
source on Google