Eksplorasi Pertamina dan Kunci Menjaga Ketahanan Energi

CNN Indonesia
Selasa, 20 Okt 2026 10:20 WIB
Kapal PT Elnusa Trans Samudera (ETSA), anak usaha PT Elnusa Tbk, melaksanakan Survei Seismik Offshore 2D Southeast Java milik PT Pertamina Hulu Energi (PHE). Foto: Dok. Pertamina
Jakarta, CNN Indonesia --

Upaya memperkuat ketahanan energi nasional terus dilakukan melalui kegiatan eksplorasi dan produksi migas yang masif dan berkelanjutan. Kegiatan eksplorasi menjadi strategi penting untuk menemukan cadangan baru guna menjaga keberlanjutan pasokan energi sekaligus mendukung target peningkatan produksi minyak dan gas bumi nasional.

Komisaris Independen PT Pertamina (Persero) Raden Adjeng Sondaryani pada acara Policy Series bertema "Darurat Eksplorasi, Mutlaknya Kolaborasi Mendukung Ketahanan Energi Nasional" di Jakarta, Rabu (14/10) menyampaikan untuk meningkatkan volume cadangan migas diperlukan suatu terobosan seperti eksplorasi di area frontier ataupun deep water maupun penemuan potensi-potensi cadangan migas raksasa (giant fields) yang baru.

Di forum yang sama, Koordinator Anggota Pemangku Kepentingan Dewan Energi Nasional Satya Widya Yudha menyampaikan perlunya peningkatan eksplorasi, penemuan cadangan baru, dan optimalisasi produksi minyak bumi.

"Selain itu, diperlukan urgensi percepatan eksplorasi, pengembangan lapangan gas baru, dan penguatan infrastruktur untuk menjaga ketahanan pasokan gas nasional," kata Satya.



PT Pertamina Hulu Energi (PHE) sebagai bagian dari PT Pertamina (Persero) juga terus memperkuat strategi menjaga produksi minyak dan gas bumi di tengah penurunan alamiah produksi pada wilayah kerja eksisting.

PHE juga terus memperluas portofolio eksplorasi melalui akuisisi wilayah kerja baru dan kerja sama dengan mitra strategis.

Direktur Eksplorasi PHE Asep Samsul Arifin mengungkap langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi penurunan produksi alamiah sekaligus membuka peluang penemuan sumber daya migas baru.

Asep mengatakan Eksplorasi merupakan investasi jangka panjang bagi keberlanjutan industri hulu migas.

"Melalui perluasan wilayah kerja, penguatan kolaborasi dengan mitra global, serta penerapan teknologi eksplorasi yang semakin maju, kami terus membangun portofolio yang berkualitas untuk meningkatkan peluang penemuan sumber daya migas baru. Langkah ini menjadi bagian dari komitmen PHE dalam mendukung ketahanan dan kemandirian energi nasional," kata Asep dalam keterangan tertulis.

Dalam lima tahun terakhir, PHE memperluas wilayah operasinya melalui akuisisi wilayah kerja baru serta pelaksanaan joint study bersama sejumlah perusahaan energi internasional.

Hingga Juli 2026, PHE telah memiliki 12 joint study, dengan 10 studi masih berjalan, satu studi selesai, dan satu studi menunggu persetujuan pemerintah.

Kerja sama tersebut melibatkan sejumlah mitra global. Selain itu, sepanjang 2023-2026 PHE memperoleh delapan wilayah kerja eksplorasi baru di Indonesia, yakni Bunga, Peri Mahakam, East Natuna, Melati, Binaiya, Lavender, Bobara, dan North Ketapang.

PHE juga memperoleh satu wilayah kerja eksplorasi di Malaysia, yakni Blok SK-510.

Asep mengatakan perluasan wilayah kerja dan kerja sama dengan mitra global menjadi bagian dari upaya PHE membangun portofolio eksplorasi yang berkelanjutan.

Berdasarkan data S&P Global 2026 untuk periode 2021-2025, PHE tercatat sebagai National Oil Company (NOC) dengan penambahan luas area eksplorasi baru terbesar di dunia, mencapai lebih dari 90 ribu kilometer persegi.

Pengamat ekonomi energi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi menilai PHE sudah melakukan cukup banyak upaya mulai dari penggunaan teknologi hingga eksplorasi di tengah penurunan produksi alamiah yang menjadi tantangan besar bagi industri hulu migas.

"Ya, saya kira sudah cukup banyak upaya yang dilakukan. Misalnya penggunaan teknologi EOR, kemudian juga eksplorasi di sumur-sumur tua," ujar Fahmy kepada CNN Indonesia beberapa waktu lalu.

Fahmy pun mendorong pengeboran dan eksplorasi di wilayah yang masih memiliki potensi.

"Penggunaan teknologi yang canggih di daerah-daerah sulit, di situ masih ada harapan. Itu memang sulit karena butuh investasi cukup besar," ujar Fahmy.

Sementara itu Pengamat Ekonomi Energi Universitas Padjadjaran Yayan Satyakti mengatakan langkah Pertamina terkait produksi selama ini sudah benar arahnya.

Di tengah tantangan laju penurunan alamiah sumur minyak 24 persen, Pertamina menurutnya masih bisa mempertahankan produksi minyaknya.

Hal ini menurut Yayan tak lepas dari eksplorasi baru sumur-sumur minyak. Misalnya dua sumur pengembangan lepas pantai di Lapangan Sejadi, Kalimantan Timur yang bisa menambah 1.865 bph.Lalu di lapangan tua PHR Zona 4, 27 sumur pengembangan menambah minyak sebanyak 1.549 bph.

Yayan mengatakan dengan asumsi rata-rata tiap sumur bisa menghasilkan sekitar 57 bph, dibutuhkan ratusan sumur pengembangan baru untuk mengompensasi tren penurunan alamiah.

"Persis skala 887 sumur yang memang dikerjakan PHE pada 2025," kata Yayan.

Kerja keras Pertamina untuk memproduksi minyak di ratusan sumur-sumur ini dilakukan untuk tetap menjamin ketersediaan pasokan.

"Pengeboran pengembangan wajib terus berjalan, tanpanya produksi runtuh," kata Yayan.

Sementara itu, Corporate Secretary PHE Hermansyah Y Nasroen mengatakan perusahaan juga terus menjalankan berbagai strategi untuk meningkatkan produktivitas lapangan dan menjaga produksi.

Saat ini, PHE berkontribusi sebesar 65 persen terhadap produksi minyak nasional dan 35 persen terhadap produksi gas nasional. Perusahaan juga mengoperasikan 27 persen blok migas di Indonesia.

PHE pun terus memperkuat kinerja melalui berbagai program strategis untuk meningkatkan produksi dan cadangan migas.

Upaya tersebut difokuskan pada revitalisasi aset eksisting, pengembangan lapangan baru (greenfield), implementasi Enhanced Oil Recovery (EOR), eksplorasi migas konvensional maupun nonkonvensional, optimalisasi fiskal, serta pengembangan teknologi Carbon Capture and Storage/Carbon Capture, Utilization and Storage (CCS/CCUS).

"Di tengah tantangan natural decline yang semakin tinggi, kami mampu menjaga pertumbuhan produksi melalui pengembangan lapangan secara agresif, penerapan teknologi, eksplorasi yang berkelanjutan, serta pengelolaan operasi yang unggul," ujar Hermansyah dalam keterangannya.

Sepanjang 2025, PHE mencatatkan produksi migas sebesar 1,032 juta barel setara minyak per hari (MMBOEPD). Angka tersebut terdiri atas produksi minyak sebesar 556 ribu barel per hari dan produksi gas sebesar 2.757 juta kaki kubik per hari.

Kinerja tersebut didukung pemboran eksploitasi sebanyak 887 sumur, workover pada 1.288 sumur, serta well service pada 37.266 sumur.

Di bidang eksplorasi, PHE melakukan pemboran 20 sumur eksplorasi, survei seismik 2D sepanjang 2.931 kilometer, dan survei seismik 3D seluas 855 kilometer persegi.

Kegiatan eksplorasi tersebut menghasilkan penemuan sumber daya kontingen (2C) sebesar 1.097,43 juta barel setara minyak (MMBOE). Salah satu kontribusi utama berasal dari temuan migas nonkonvensional di Wilayah Kerja Rokan sebesar 724,22 juta barel minyak (MMBO).

PHE juga membukukan tambahan cadangan terbukti (P1) sebesar 314 MMBOE melalui aktivitas merger dan akuisisi, termasuk kontribusi aset di Aljazair melalui proyek MLN Phase 5 di Blok 405a.

Pada 2026, PHE akan melanjutkan sejumlah program strategis, mulai dari pengembangan lapangan baru, rejuvenasi aset, penerapan teknologi EOR, hingga eksplorasi laut dalam.

Sejumlah proyek yang dikembangkan antara lain Lapangan Akasia Prima, Padang Pancuran, OO OX ONWJ, Sisi Nubi AOI, South Senoro, Manpatu, dan Masela.

Selain itu, PHE menjalankan program rejuvenasi aset di Benuang, Lima ONWJ, ABAB, Tanjung Miring Barat, Lembak Kemang Tapus, dan Salawati.

Untuk memperkuat eksplorasi jangka panjang, PHE juga mengembangkan eksplorasi laut dalam di Natuna Timur serta proyek CCS.

(dhz/sur)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK