Renovasi Rumah Impian, Mulai dari Perencanaan Keuangan

Bank Jago | CNN Indonesia
Jumat, 31 Jul 2026 14:58 WIB
Bank Jago
(Foto: Arsip Bank Jago)
Jakarta, CNN Indonesia --

Memiliki rumah sendiri menjadi salah satu pencapaian yang diimpikan banyak orang. Namun, tanggung jawab sebagai pemilik rumah tidak berhenti saat proses pembelian selesai.

Setelah rumah dimiliki, ada komitmen jangka panjang yang perlu dipersiapkan agar bangunan tetap nyaman dihuni sekaligus mampu mempertahankan nilainya yakni anggaran khusus untuk perawatan dan renovasi.

Sayangnya, masih banyak pemilik rumah yang hanya fokus pada pembelian di awal. Kebutuhan perawatan rutin hingga renovasi berkala sering kali luput dari perencanaan keuangan. Akibatnya, ketika muncul kerusakan mendadak, kondisi finansial keluarga bisa ikut terganggu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Padahal, rumah memerlukan perawatan secara berkala agar kondisinya tetap optimal. Mulai dari servis AC, pengurasan tangki air (toren), pengecatan ulang, pembersihan talang air menjelang musim hujan, hingga pengendalian rayap (termite control) untuk melindungi kusen, pintu, maupun rangka atap berbahan kayu dari kerusakan.

Berbagai kebutuhan tersebut memang terlihat kecil jika dilakukan satu per satu, tetapi nilainya dapat menjadi cukup besar jika tidak dipersiapkan sejak awal.

Kesalahan lain yang masih sering dilakukan adalah mencampurkan seluruh pengeluaran terkait rumah dalam satu rekening. Idealnya, pemilik rumah harus memisahkan antara biaya perawatan rutin, budget renovasi berkala, dan dana darurat rumah.

Dengan pemisahan anggaran, pemilik rumah dapat lebih mudah mengatur arus kas tanpa mengorbankan kebutuhan lainnya.

Anggaran yang Harus Disiapkan

Certified Financial Planner-CFP® Annisa Steviani menyarankan, pemilik rumah sebaiknya mengalokasikan dana khusus untuk biaya perawatan agar kondisi hunian tetap terjaga dan tidak mengganggu kondisi keuangan saat muncul kebutuhan renovasi mendadak.

"Sebagai panduan, dan tentu bisa disesuaikan sesuai kebutuhan ya, kita bisa menyisihkan sekitar 1% hingga 2% dari nilai rumah setiap tahun untuk biaya maintenance dan renovasi ringan," katanya dalam keteranga resmi, Kamis (30/7).

Artinya, jika nilai rumah mencapai Rp500 juta, dana perawatan yang ideal berkisar Rp5 juta hingga Rp10 juta per tahun atau sekitar Rp416 ribu hingga Rp833 ribu setiap bulan.
Dengan menyisihkan dana secara rutin, biaya perawatan tidak lagi terasa berat ketika waktunya tiba.

Ia juga menyarankan, lebih ideal lagi jika pemilik rumah memiliki dana darurat khusus kebutuhan properti yang terpisah dari dana darurat pribadi.

"Idealnya, siapkan dana sekitar Rp5 juta hingga Rp10 juta yang disimpan secara khusus dan tidak digunakan untuk kebutuhan lain. Dana ini baru digunakan ketika terjadi kondisi darurat atau kerusakan besar yang sifatnya tidak terduga, seperti atap ambruk, pohon tumbang yang merusak rumah, atau korsleting listrik yang memerlukan perbaikan segera," ujar Annisa.

Menurutnya, pemisahan kedua pos tersebut penting karena fungsi masing-masing berbeda. Anggaran maintenance digunakan untuk kebutuhan yang sudah dapat diprediksi, seperti servis AC, pengecatan ulang, atau perbaikan ringan.

Sementara itu, dana darurat properti hanya digunakan untuk kondisi yang tidak terduga dan membutuhkan penanganan segera, misalnya atap bocor, pipa pecah, atau kerusakan akibat bencana.

Dengan memisahkan kedua pos ini, kebutuhan darurat tidak akan mengganggu anggaran perawatan rutin maupun rencana renovasi.

Solusi Praktis Atur Pos Anggaran Rumah Pakai Kantong Jago/Jago Syariah

Bank JagoFoto: Arsip Bank Jago


Mengatur beberapa pos anggaran tidak selalu berarti harus membuka banyak rekening. Kini, pengelolaan keuangan rumah tangga dapat dilakukan lebih praktis melalui fitur Kantong Jago atau Kantong Jago Syariah.

Di mana melalui fitur Kantong Jago/Jago Syariah, pengguna dapat membuat Kantong terpisah untuk setiap tujuan, seperti Dana Darurat Rumah, Budget Renovasi, dan Maintenance Rutin sehingga anggaran lebih rapi dan mudah dikelola.

Pengguna juga dapat memanfaatkan fitur auto-budgeting untuk mengalokasikan dana secara otomatis setiap bulan.

Dengan pencatatan transaksi yang secara otomatis didasarkan berdasarkan kategori, pengeluaran rumah tangga menjadi lebih mudah dipantau dan anggaran tetap terjaga.

(inh)