BP Bakal PHK 700 Pekerja di Seluruh Dunia demi Efisiensi
Perusahaan migas asal Inggris, BP berencana melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) sekitar 700 pekerja non-frontline di seluruh dunia sebagai upaya menyederhanakan organisasi, meningkatkan profitabilitas dan memperkuat bisnis inti minyak dan gas.
Rencana tersebut tertuang dalam surat elektronik internal perusahaan, Kamis (30/7).
Pemangkasan akan berdampak pada sekitar 8 persen dari total 8.500 posisi non-frontline yang selama ini berada di bawah unit produksi dan operasional perusahaan. Sementara itu, BP memastikan posisi frontline seperti operator, teknisi, dan petugas pemeliharaan tidak akan mengalami perubahan signifikan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jika posisi Anda terdampak, itu bisa berarti peran tersebut tidak lagi ada dalam organisasi baru, berubah secara material, atau dipindahkan ke bagian lain dalam organisasi," demikian isi surat elektronik internal BP yang dikutip Reuters.
Lihat Juga : |
Langkah tersebut merupakan bagian dari strategi BP untuk menyederhanakan operasional di tengah upaya menekan utang, meningkatkan laba, dan memperbesar imbal hasil bagi pemegang saham.
Perusahaan juga tengah memfokuskan kembali bisnisnya pada sektor minyak dan gas setelah mengurangi investasi di bidang energi terbarukan.
Sejak Meg O'Neill menjabat sebagai CEO pada April lalu, BP telah merombak struktur organisasinya dari tiga menjadi dua segmen bisnis, yakni upstream dan downstream. Struktur baru tersebut mulai berlaku pada awal bulan ini.
Berdasarkan laporan tahunan perusahaan, BP mempekerjakan sekitar 93.700 orang di 61 negara hingga akhir 2025.
Juru bicara BP membenarkan perusahaan tengah mengusulkan perubahan organisasi yang berpotensi mengurangi jumlah pekerja, meski tidak mengonfirmasi angka 700 posisi tersebut.
"Kami sedang membangun BP yang lebih sederhana, lebih kuat, dan lebih bernilai. Sebagai bagian dari proses ini, kami mengusulkan perubahan yang akan mengakibatkan pengurangan sejumlah posisi," ujar juru bicara BP kepada Reuters.
Sebelumnya, media industri energi Upstream Online lebih dulu melaporkan rencana pemangkasan tenaga kerja tersebut.