S&P Catat PMI Manufaktur RI Juni 2026 Bangkit ke Zona Ekspansi 50,2

CNN Indonesia
Senin, 03 Agu 2026 17:00 WIB
Karyawan mengoperasikan alat industri yang dipamerkan dalam Manufacturing Indonesia 2019 di JIExpo, Kemayoran, Jakarta, Rabu, 4 Desember 2019. Pameran tentang teknologi peralatan industri baik dari dalam dan luar negeri tersebut berlangsung 4-7 Desem
S&P Global merilis Indeks Manajer Pembelian (PMI) manufaktur Indonesia kembali masuk zona ekspansi pada Juli 2026 dengan naik ke level 50,2. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia --

Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers' Index/PMImanufaktur Indonesia kembali masuk zona ekspansi pada Juli 2026 dengan naik ke level 50,2, berbalik dari posisi 46,9 pada Juni yang mencerminkan kontraksi aktivitas industri.

Kenaikan ini menjadi yang pertama dalam empat bulan terakhir.

Ekonom S&P Global Market Intelligence Usamah Bhatti mengatakan pemulihan tersebut ditopang oleh kembali meningkatnya volume produksi seiring stabilnya pesanan baru.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, kenaikan harga bahan baku masih menjadi faktor yang membatasi laju ekspansi sektor manufaktur.

"Data survei Juli menunjukkan sektor manufaktur Indonesia kembali mencatat kenaikan volume produksi, yang sebagian didorong oleh stabilnya penerimaan pesanan baru. Perusahaan mulai melihat tanda-tanda kepercayaan pelanggan menguat, meski ekspansi yang lebih kuat masih tertahan oleh tingginya harga," ujar Bhatti dalam laporan S&P Global Indonesia Manufacturing PMI yang dirilis Senin (3/8).

S&P Global menjelaskan kenaikan PMI ke level di atas 50 menunjukkan kondisi operasional sektor manufaktur membaik dibandingkan bulan sebelumnya.

Produksi kembali meningkat untuk pertama kalinya sejak Februari, meski pertumbuhannya masih terbatas. Sejumlah perusahaan melaporkan permintaan mulai membaik dan kepercayaan pelanggan meningkat, tetapi kenaikan harga bahan baku masih menahan ekspansi yang lebih kuat.

Di sisi permintaan, volume pesanan baru berangsur stabil setelah mengalami kontraksi cukup dalam pada Juni. Pelaku industri mengaitkan kondisi tersebut dengan meningkatnya kepercayaan pelanggan dan dimulainya sejumlah proyek baru.

Namun, persaingan yang semakin ketat antarprodusen serta kenaikan harga produk masih menekan permintaan. Sementara itu, pesanan ekspor baru kembali turun dan telah mengalami penurunan selama lima bulan berturut-turut.

Stabilnya permintaan mulai meningkatkan tekanan terhadap kapasitas produksi. Hal itu tercermin dari penumpukan pekerjaan yang belum terselesaikan (backlogs of work) yang menjadi yang tertinggi sejak November 2025.

Bersamaan dengan itu, perusahaan kembali merekrut tenaga kerja untuk pertama kalinya dalam lima bulan terakhir, meski jumlah penambahannya masih terbatas.

Di sisi lain, aktivitas pembelian bahan baku masih menurun untuk bulan kelima berturut-turut. Sejumlah produsen mengurangi pembelian karena harga bahan baku yang masih tinggi dan pasokan yang terbatas.

Persediaan bahan baku juga terus dikurangi sebagai bagian dari penyesuaian terhadap permintaan yang dinilai belum sepenuhnya pulih.

Meski tekanan biaya produksi masih dirasakan pelaku usaha, S&P Global mencatat laju inflasi biaya input mulai melandai ke level terendah dalam empat bulan terakhir.

Kenaikan biaya masih dipicu oleh mahalnya harga bahan baku di dalam maupun luar negeri, termasuk dampak penguatan dolar AS terhadap harga barang impor. Kondisi tersebut membuat produsen kembali menaikkan harga jual untuk menutup sebagian kenaikan biaya.

Bhatti menilai meredanya tekanan biaya menjadi salah satu sinyal positif bagi sektor manufaktur. Menurut dia, pelaku usaha juga semakin optimistis terhadap prospek bisnis dalam 12 bulan ke depan, dengan tingkat keyakinan yang menjadi yang tertinggi dalam enam bulan terakhir.

"Optimisme pelaku usaha meningkat ke level tertinggi dalam enam bulan, didukung harapan bahwa pertumbuhan penjualan dan kepercayaan pelanggan akan terus membaik. Sejumlah produsen juga berharap tekanan harga semakin mereda sehingga dapat mendukung pertumbuhan pada bulan-bulan mendatang," ujar Bhatti.

[Gambas:Video CNN]

(del/sfr)