Bos OJK Ungkap Pasar Modal Mulai Putih, IHSG Tumbuh 10% pada Juli

CNN Indonesia
Senin, 03 Agu 2026 19:49 WIB
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menyebut pasar modal Indonesia mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan pada awal kuartal III 2026. (CNBC Indonesia/Faisal Rahman).
Jakarta, CNN Indonesia --

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi menyebut pasar modal Indonesia mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan pada awal kuartal III 2026.

Indeks bangkit setelah tertekan sepanjang kuartal II lalu akibat tingginya ketidakpastian global.

Friderica mengatakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 5.643,19 pada akhir kuartal II 2026 atau terkoreksi 19,93 persen secara kuartalan (quarter to quarter/qtq).

"Pasar modal Indonesia mengalami fase konsolidasi pada triwulan II tahun 2026, namun mulai menunjukkan arah pemulihan di awal triwulan III tahun 2026," ujar Friderica dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) III Tahun 2026 di Kantor Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Jakarta, Senin (3/8).

Namun, memasuki Juli 2026, IHSG mulai berbalik menguat. Per 31 Juli 2026, IHSG ditutup di level 6.236,13, atau naik 10,51 persen secara bulanan (month to date/MTD).

"Memasuki bulan Juli 2026, indeks menunjukkan arah pemulihan. Per 31 Juli 2026, IHSG ditutup pada level 6.236,13 atau menguat 10,51 persen month to date," katanya.

Di tengah perbaikan pasar saham, Friderica menyebut kinerja industri pengelolaan investasi juga tetap terjaga. Nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana pada akhir kuartal II 2026 mencapai Rp652,9 triliun.

Tren positif itu berlanjut pada Juli. Hingga 30 Juli 2026, NAB reksa dana tercatat sebesar Rp653,26 triliun, atau tumbuh 1,59 persen secara kuartalan.

Selain itu, penghimpunan dana korporasi melalui pasar modal juga dinilai masih kuat. Hingga 31 Juli 2026, nilai penghimpunan dana di pasar modal mencapai Rp113,13 triliun secara year to date, terutama ditopang penerbitan efek bersifat utang dan sukuk senilai Rp98,27 triliun.

"Menunjukkan terjaganya minat fundraising di pasar modal Indonesia, terutama melalui penerbitan efek bersifat utang dan atau sukuk," ujar Friderica.

(lau/sfr)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK