Influencer Mimpi Karier Baru, Kampus AS Buka Jurusan Kreator Konten

CNN Indonesia
Rabu, 05 Agu 2026 04:45 WIB
Influencer vlogging while spending time alone in forest.
Sejumlah universitas di AS mulai membuka program studi khusus kreator konten seiring meningkatnya minat generasi muda menjadi influencer. Ilustrasi. (iStock/mixetto).
Jakarta, CNN Indonesia --

Sejumlah universitas di Amerika Serikat (AS) mulai membuka program studi khusus kreator konten (content creator) seiring meningkatnya minat generasi muda menjadikan pemengaruh (influencer) sebagai pilihan karier.

Arizona State University (ASU) menjadi salah satu kampus yang meluncurkan program sarjana bidang content creation. Program tersebut ditujukan bagi mahasiswa yang ingin membangun karier melalui media sosial atau memperoleh penghasilan dari platform digital.

Di situs resminya, ASU menyebut program itu ditujukan bagi mereka yang "bermimpi memonetisasi kanal video atau menjadikan media sosial sebagai karier."

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Langkah serupa juga diambil Syracuse University yang mulai membuka program minor lintas disiplin pada musim gugur tahun ini.

Program tersebut dirancang untuk membekali mahasiswa menghadapi karier di bidang kreator konten, kewirausahaan digital, hingga industri pendukung ekonomi kreator.

Munculnya jurusan tersebut mencerminkan perubahan aspirasi karier gen Z di AS. Di tengah pasar kerja yang semakin kompetitif, perkembangan kecerdasan buatan (AI), serta ketidakpastian peluang kerja bagi lulusan baru, profesi kreator konten dinilai semakin menarik.

Bank investasi Goldman Sachs memperkirakan nilai creator economy secara global dapat mencapai hampir US$500 miliar atau setara Rp9.017,50 triliun (asumsi kurs Rp18.035 per dolar AS) pada 2027.

Program di ASU tidak hanya berfokus pada profesi influencer. Mahasiswa juga dipersiapkan untuk bekerja di bidang brand storytelling, podcast, hingga produksi konten digital.

Beberapa mata kuliah yang ditawarkan antara lain How to Become an Influencer, serta proyek akhir di Los Angeles Content Creation Studio milik kampus.

Direktur Eksekutif Center for the Creator Economy Syracuse University Ryan Schram mengatakan minat mahasiswa terhadap industri kreator terus meningkat meski tidak semuanya ingin menjadi figur publik.

"Banyak mahasiswa yang kami ajak bicara menginginkan karier di creator economy, tetapi tidak semuanya ingin berada di balik mikrofon," ujar Schram, melansir CNN.

Menurut Schram, ekonomi kreator juga membuka berbagai profesi baru yang bahkan belum dikenal satu dekade lalu.

Pendiri organisasi REACH Dylan Huey mengatakan jejak dan reputasi seseorang di dunia digital kini menjadi nilai tambah di dunia kerja, bahkan bagi mereka yang tidak berkarier sebagai kreator konten.

"Sekarang, membangun personal branding di dunia digital bisa membuka peluang untuk mendapatkan pekerjaan," ujarnya.

Menurut Huey, hal itu juga berlaku di platform profesional seperti LinkedIn.

"Kebanyakan orang yang terkena PHK akan lebih dulu membuka LinkedIn. Kalau Anda tidak punya personal branding, tidak punya pengikut, dan tidak punya jaringan di LinkedIn, lalu siapa yang akan melihat profil Anda?" ujarnya.

Meski demikian, akademisi mengingatkan profesi kreator konten tidak selalu menjanjikan kesuksesan.

[Gambas:Youtube]

Profesor komunikasi Cornell University Brooke Erin Duffy mengatakan profesi tersebut memang semakin populer sejak pandemi covid-19 dan mencapai titik perkembangan penting pada 2024. Namun, menurutnya, hanya sebagian kecil kreator yang benar-benar memperoleh pendapatan besar.

"Kita memang sering mendengar kisah sukses seperti Alix Earle, tetapi kenyataannya banyak kreator yang hanya mampu bertahan hidup dari pekerjaannya," ujarnya.

Associate Professor University of Southern California Freddy Tran Nager juga menilai industri influencer kini semakin padat sehingga persaingan menjadi sangat ketat.

"Peluang sukses menjadi influencer kurang lebih sama sulitnya dengan meniti karier sebagai aktor," katanya.

Karena itu, ia menyarankan calon kreator konten tetap memiliki keahlian atau bidang studi lain sebagai bekal menghadapi persaingan industri yang semakin ketat dan perkembangan AI yang terus melaju.

(del/sfr)