PLTA Punya Umur Panjang, Operasi Bisa Lebih dari 100 Tahun
Pembangkit listrik tenaga air (PLTA) memiliki usia operasional yang sangat panjang. Bahkan, ada PLTA di Indonesia yang berumur lebih dari 100 tahun dan masih beroperasi hingga saat ini.
Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan PT PLN (Persero) Suroso Isnandar mengatakan salah satu keunggulan utama pembangkit hidro memang umur asetnya yang sangat panjang dibandingkan jenis pembangkit lain.
Menurut dia, salah satu contohnya adalah PLTA Lamajan yang dibangun pada masa pemerintahan kolonial Belanda.
Perencanaan PLTA Lamajan dimulai sekitar tahun 1920, selesai dibangun 1923, dan beroperasi sejak 1925.
Lihat Juga : |
Ia mengaku sudah mengenal PLTA tersebut sejak masih menjadi mahasiswa karena lokasinya kerap menjadi tempat kegiatan orientasi.
"Sewaktu saya masih mahasiswa, dulu kalau diospek itu di dekat-dekat PLTA Lamajan. Itu sudah tua sekali, sampai detik ini masih beroperasi," katanya dalam acara Indonesia Hydropower Summit yang diselenggarakan Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) di kantor pusat PLN, Jakarta Selatan, Rabu (5/8).
Selain PLTA Lamajan, Suroso menyebut sejumlah PLTA besar lain juga masih menjadi tulang punggung sistem kelistrikan Jawa-Bali hingga saat ini.
Salah satunya adalah PLTA Cirata berkapasitas 1.008 megawatt (MW) yang telah beroperasi lebih dari 35 tahun dan masih berfungsi sangat baik.
Lihat Juga :BANGUN BANGSA CONFERENCE 2026 Bappenas: Ekonomi Hijau Prioritas Utama Pembangunan Nasional |
Kemudian ada PLTA Saguling berkapasitas sekitar 700 MW yang hingga kini juga masih beroperasi dalam kondisi prima.
Ia menjelaskan pembangkit hidro memiliki sejumlah keunggulan lain selain umur operasional yang panjang.
Menurut dia, pembangkit hidro merupakan pembangkit energi terbarukan yang berkelanjutan karena memanfaatkan aliran air sebagai sumber energi.
Pembangkit hidro juga dinilai andal dan stabil karena mampu beroperasi secara konsisten, sehingga cocok dijadikan pembangkit energi baru terbarukan pemikul beban dasar (baseload) dengan faktor kapasitas rata-rata di atas 60 persen.
Selain itu, emisi karbon yang dihasilkan PLTA jauh lebih rendah dibandingkan pembangkit berbasis bahan bakar fosil dengan kapasitas yang sama.
Dalam kesempatan sama, Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Umum METI Norman Ginting menilai pembangkit hidro juga dapat menjadi mitra strategis bagi pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt (GW) yang tengah didorong Pemerintahan Prabowo Subianto.
Menurut dia, karakteristik PLTS yang bersifat intermiten membuat keberadaan PLTA menjadi penting untuk menjaga keandalan sistem kelistrikan.
Norman menjelaskan PLTA dapat berfungsi sebagai pembangkit baseload sekaligus peaker, sehingga mampu menyeimbangkan pasokan listrik ketika produksi PLTS berfluktuasi.
Lihat Juga : |
"Program PLTS 100 gigawatt itu bisa bersinergi dengan pembangkit-pembangkit hidro dalam menjadikan listrik yang andal, bersih, berkeadilan, dan bisa diakses oleh seluruh masyarakat Indonesia," ujar Norman.
Ia menilai tantangan terbesar saat ini bukan lagi pada besarnya potensi energi hidro Indonesia, melainkan bagaimana mempercepat realisasi proyek-proyek yang sudah masuk dalam pipeline pengembangan.
Menurut dia, percepatan pembangunan PLTA membutuhkan proyek yang layak secara finansial atau bankable agar menarik minat investor.
Selain itu, proses perizinan juga perlu dipercepat tanpa mengabaikan aspek tata kelola yang baik.
"Sehingga, dalam waktu 5-10 tahun yang akan datang, pengembangan PLTA baru itu bisa terelaisasi hingga bisa memberikan kontribusi terhadap porsi energi baru terbarukan Indonesia," ujar Norman.
Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034, pihak swasta dilibatkan secara masif dalam pengembangan proyek PLTA dan pembangkit listrik tenaga minihidro (PLTM).
Total proyek PLTA dan PLTM yang masuk dalam RUPTL 2025-2034 mencapai 315 proyek dengan kapasitas 11.689,99 megawatt (MW) atau 11,7 gigawatt (GW).
Untuk proyek PLTA, IPP mendapat alokasi kapasitas 9.441 MW yang tersebar dalam 48 proyek. Sementara untuk PLTM, pengembang swasta akan mengerjakan proyek dengan kapasitas 1.110,16 MW yang tersebar dalam 214 proyek.
Dengan demikian, total proyek hidro yang digarap swasta mencapai 262 proyek.
Di sisi lain, PLN akan mengembangkan PLTA berkapasitas 361 MW melalui tujuh proyek dan PLTM berkapasitas 51,15 MW melalui 20 proyek.
Sementara itu, subholding PLN mendapat porsi pengembangan PLTA berkapasitas 698,1 MW melalui 17 proyek dan PLTM berkapasitas 28,58 MW melalui sembilan proyek.
(dhz/sfr)