Peternak Apresiasi Mentan Tahan Harga Pakan & Genjot Penyerapan Telur
Kebijakan pemerintah menahan kenaikan harga pakan, mempercepat distribusi jagung, dan mendorong penyerapan telur melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mendapat respons positif dari peternak ayam petelur. Langkah tersebut dinilai memberi harapan bagi peternak yang beberapa waktu terakhir menghadapi tekanan akibat harga telur berada di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) pemerintah sebesar Rp26.500 per kilogram.
Apresiasi itu datang dari Koperasi Peternak Rakyat Kendal setelah Kementerian Pertanian (Kementan) menggelar rapat koordinasi bersama Badan Pangan Nasional, Satgas Pangan Polri, Bulog, koperasi peternak, industri pakan, dan pelaku usaha di Kantor Pusat Kementan, Jakarta, Senin (3/8). Pertemuan itu menghasilkan sejumlah langkah yang diharapkan dapat menjaga stabilitas harga sekaligus pasokan pangan nasional.
Ketua Koperasi Peternak Unggas Sejahtera (KPUS) Kendal, Suwardi, mengatakan hasil rapat tersebut menjadi kabar baik bagi peternak. Menurut dia, kepastian tidak adanya kenaikan harga pakan dan penguatan penyerapan telur menjadi langkah yang selama ini dinantikan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mulai hari ini disepakati tidak ada kenaikan harga pakan maupun konsentrat. Kami juga mendapat kepastian pemerintah akan memperkuat penyerapan telur dan mempercepat distribusi jagung SPHP. Ini menjadi angin segar bagi peternak," ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (6/8).
Ia menjelaskan program jagung Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) telah membantu menekan biaya produksi peternak. Hingga kini, penyaluran jagung SPHP kepada peternak telah mencapai lebih dari 9.000 ton.
Meski demikian, kebutuhan jagung di tingkat peternak masih cukup besar. Suwardi menyebut anggota KPUS yang berasal dari delapan kabupaten/kota di Jawa Tengah membutuhkan sekitar 2.000 ton jagung sehingga distribusi SPHP diharapkan terus diperkuat.
"Kami tidak saling berebut anggota dengan koperasi lain, tetapi bersama-sama memperkuat peternak di daerah. Karena itu, kami berharap penyaluran jagung SPHP terus diperkuat agar kebutuhan peternak rakyat dapat terpenuhi," kata dia.
Dirinya juga menilai langkah Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, yang mempertemukan seluruh pemangku kepentingan berhasil menghasilkan solusi yang dibutuhkan peternak. Menurut dia, kebijakan tersebut mendorong optimisme bahwa harga telur dapat segera membaik.
Sebelumnya, Koperasi Peternak Rakyat Kendal membatalkan rencana aksi unjuk rasa yang dijadwalkan berlangsung pada 10 Agustus 2026. Sebagai bentuk syukur, mereka juga berkomitmen menggelar kegiatan berbagi ayam apabila harga telur kembali normal.
"Kami merasakan pemerintah benar-benar hadir. Langkah cepat Pak Menteri memberikan harapan agar harga telur segera membaik dan usaha peternak rakyat bisa terus berjalan," ujar Suwardi.
Dalam rapat tersebut, Amran menegaskan pemerintah tidak akan membiarkan peternak rakyat terus menanggung kerugian. Selain menunda kenaikan harga pakan, pemerintah akan memperkuat pengawasan perdagangan telur agar tidak ada transaksi yang merugikan peternak.
"Selama di tangan saya, persoalan peternak harus selesai. Pemerintah berpihak kepada peternak kecil," tegasnya melalui sambungan telepon dalam rapat tersebut.
Sebagai tindak lanjut, Kementan akan menyurati Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) agar seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menyerap telur dari peternak di wilayah masing-masing sesuai Harga Acuan Pembelian. Pemerintah juga akan mengusulkan penyerapan telur melalui skema Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) sebagai instrumen stabilisasi harga.
Amran juga meminta Satgas Pangan memperketat pengawasan terhadap pelaku usaha yang membeli atau menjual telur jauh di bawah harga acuan. Langkah itu dilakukan untuk menjaga stabilitas harga di tingkat peternak.
"CPP akan kami dorong melalui Kemenko Pangan. Siapa pun yang membeli atau menjual telur jauh di bawah harga acuan akan kami periksa. Satgas Pangan sudah saya perintahkan untuk bertindak," imbuh dia.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Agung Suganda, mengatakan pemerintah bergerak dari sisi produksi dan permintaan secara bersamaan agar harga telur segera pulih. Di saat yang sama, industri pakan berkomitmen menunda kenaikan harga meski menghadapi kenaikan harga bahan baku impor dan pelemahan nilai tukar rupiah.
Ia menambahkan distribusi jagung melalui program SPHP juga dipercepat untuk membantu menekan biaya produksi peternak. Sementara itu, Satgas Pangan Polri memastikan akan mengawal pelaksanaan hasil rapat melalui pengawasan harga, distribusi, hingga penegakan hukum terhadap praktik perdagangan yang merugikan peternak.
Melalui rangkaian kebijakan tersebut, pemerintah menargetkan harga telur kembali berada pada tingkat yang sehat, biaya produksi tetap terkendali, dan keberlanjutan usaha peternak rakyat dapat terjaga. Pemerintah juga berharap pasokan telur sebagai sumber protein hewani tetap tersedia dengan harga yang terjangkau bagi masyarakat.
(rir)