Bentoel Tinggalkan CSR Sekali Jalan, Kejar Efek Sosial Jangka Panjang
Bentoel Group mengubah pendekatan program tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR).
Head of Corporate & Regulatory Affairs Bentoel Group Dian Widyanarti menyebut pendekatan CSR perusahaan yang sebelumnya bersifat satu kali (one-off) kini menjadi investasi sosial (community investment) yang berorientasi pada dampak jangka panjang.
Dian menjelaskan perubahan pendekatan tersebut dilakukan setelah perusahaan mengevaluasi berbagai program sosial yang selama ini dijalankan. Banyak program yang hanya memberikan manfaat sesaat dan tidak meninggalkan dampak berkelanjutan bagi masyarakat.
"Perjalanan kami sebenarnya cukup berproses, karena dari cara pendekatan yang sifatnya CSR yang filantropi kepada yang sifatnya community investment. Kami melihat inisiatif-inisiatif yang tujuannya memberikan dampak sosial, apabila diberikan one-off, ketika beberapa tahun kemudian kami kembali melihat, apakah dampaknya masih bersisa? Ternyata itu menjadi pembelajaran kami," ujar Dian pada Bangun Bangsa Conference 2026 bertajuk Sustainable Community Growth: Shaping Indonesia's Future Inclusive Economy di Menara Bank Mega, Jakarta, Kamis (6/8).
Ia mengatakan sebelumnya perusahaan lebih banyak menjalankan program pembangunan fasilitas fisik, seperti taman. Namun, pendekatan tersebut dinilai belum mampu meningkatkan kapasitas masyarakat dalam jangka panjang.
"Dulu fokus kami banyak pada pembangunan fisik, misalnya bikin taman. Dalam satu tahun branding-nya sudah hilang, dampaknya juga tidak ada. Orang cuma melihat tamannya bagus, tetapi dampak sosialnya tidak ada," katanya.
Karena itu, Bentoel Group mulai mengalihkan program sosialnya ke pengembangan kapasitas masyarakat, khususnya melalui pemberdayaan ekonomi kelompok rentan.
Salah satu program yang dijalankan perusahaan adalah Empower Academy yang memberikan pelatihan, pendampingan, hingga inkubasi usaha bagi perempuan dari kelompok masyarakat kurang mampu agar mampu mengembangkan usaha mikro secara mandiri.
"Yang kami bantu adalah masyarakat, ibu-ibu yang sehari-hari peran utamanya mengurus keluarga. Mereka kami beri edukasi, penataan keuangan, pemasaran produk, sampai masuk ke marketplace," jelasnya.
Dian menambahkan perusahaan juga melibatkan karyawan sebagai mentor dalam program tersebut. Karyawan dari berbagai divisi, seperti pemasaran, keuangan, hingga sumber daya manusia (SDM), diminta membagikan keahlian yang dimiliki kepada para peserta.
Menurutnya, keterlibatan karyawan tidak hanya memberikan manfaat bagi masyarakat, tetapi juga membangun rasa memiliki (ownership) terhadap program sosial perusahaan.
"Kami membangun ownership-nya dulu dengan melibatkan karyawan sebagai volunteer. Mereka berbagi keahlian kepada masyarakat. Ketika peserta yang mereka dampingi berhasil meningkatkan penjualannya, kegembiraannya luar biasa. Bahkan teman-teman di kantor dengan senang hati membeli produk mereka," ujarnya.
Ia menegaskan perusahaan juga sengaja tidak menjadikan bantuan dana sebagai daya tarik utama program. Sebaliknya, perusahaan lebih mengedepankan peningkatan kemampuan agar masyarakat mampu mandiri setelah program selesai.
"Kami sudah menyampaikan sejak awal bahwa tidak ada cash. Kami memberi kail, bukan ikannya. Yang kami berikan adalah kesempatan belajar, pendampingan, dan mentoring. Kami ingin masyarakat bergerak bukan karena ada pendanaan, tetapi karena mereka memiliki kemampuan untuk berkembang," katanya.