Pakar Wanti-wanti Program Sosial Sulit Berdampak Tanpa Data Valid
Guru Besar sekaligus Head of Trisakti Sustainability Center (TSC) Juniati Gunawan menegaskan data tidak valid menjadi tantangan terbesar dalam penerapan prinsip keberlanjutan (sustainability) serta pengambilan kebijakan.
Hal itu disampaikan Juniati dalam panel diskusi Understanding Why Social Programs Do Not Translate into Real and Lasting Impact pada Bangun Bangsa Conference 2026 bertajuk Sustainable Community Growth: Shaping Indonesia's Future Inclusive Economy di Menara Bank Mega, Jakarta, Kamis (6/8).
Juniati mengungkapkan bahwa membludaknya informasi kerap memicu pengolahan data yang tidak terukur dan minim pembuktian.
"Tantangan terbesar sustainability, apalagi untuk mengambil keputusan, adalah ketidakvalidan, ketidakreliabelan data. Kenapa? Terlalu banyak informasi," ujar Juniati.
Ia memaparkan bahwa data tidak valid berarti informasi yang disampaikan tidak terukur dan tidak memiliki bukti konkret. Sementara, data tidak reliabel terjadi ketika penyampai data bukanlah pihak yang memiliki kompetensi di bidang tersebut.
"Kalau datanya tidak valid, tidak reliable, terus apa yang akan dihasilkan? Ya tentu sebuah pengambilan keputusan yang salah juga," tegasnya.
Dampak dari data yang keliru ini terbukti signifikan, terutama pada program community impact atau investasi sosial. Menurut Juniati, kegiatan keberlanjutan tidak akan berhasil jika dari awal tidak ditopang oleh data awal yang kuat, social mapping, serta penyesuaian kearifan lokal.
Tanpa pemetaan dan data yang akurat, Juniati mengatakan program keberlanjutan hanya akan menjadi tumpukan kegiatan tanpa hasil jangka panjang.
Kemudian, Juniati juga menyoroti pentingnya keterukuran program dari sekadar output menuju impact atau dampak berkelanjutan. Banyak perusahaan terlalu fokus membuat banyak kegiatan atau output tanpa pemantauan dan evaluasi yang berkesinambungan.
Ia menegaskan keberlanjutan harus berjalan secara integratif dan berputar terus-menerus, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, evaluasi, hingga tindakan perbaikan (action).
"Mending kegiatannya jangan banyak-banyak, tetapi terukur dengan jelas sehingga sampai ke impact," pungkas Juniati.