Mentan Amran Respons Demo Peternak Ayam Petelur soal Harga Pakan
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman merespon unjuk rasa para peternak ayam petelur yang terjadi di wilayah Jawa Timur dan Sulawesi Selatan akibat tingginya harga pakan hingga mereka mengalami kerugian.
"Pakan SPHP. Sekarang kami sudah perintahkan Bulog agar disalurkan sampai Desember, itu sudah aman. Nah, kemudian yang ketiga adalah harga pakan, DOC dan seterusnya," kata Andi Amran di Unhas, Selasa (11/8).
Amran menyatakan bahwa harga pakan SPHP telah disubsidi oleh pemerintah, kemudian disalurkan oleh pihak Bulog, sehingga para peternak dapat membeli pakan dengan harga yang terjangkau.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"kita sudah memberi harga SPHP disubsidi pemerintah dan itu disalurkan oleh Bulog. Kami sudah putuskan, kami sudah tanda tangan. Hanya saja mungkin, kemarin kan demonya mau besar-besaran, mungkin ini terlanjur sudah persiapan. Tapi sebelum demo, kami sudah dahului, sudah tanda tangan SK-nya SPHP. SPHP itu adalah pakan yang murah disubsidi pemerintah kepada peternak kecil," jelas Amran.
Amran menyatakan bahwa pemerintah harus berpihak kepada peternak kecil, untuk itu Kementerian Pertanian akan mengundang para peternak ayam petelur untuk bersama-sama membahas kondisi saat ini.
"Tidak boleh biarkan peternak kecil dipermainkan oleh perusahaan besar. Pasti kami gilas, enggak boleh, kami diangkat jadi menteri, disumpah untuk berpihak pada rakyat bukan untuk basa-basi, bukan untuk pencitraan saja. Kami langsung minta karena kami kunjungan Jawa Timur, sebentar rapat se-Indonesia. Semua yang produsen pakan, kemudian MBG, dari pertanian, dari satgas hadir semua sebentar," ungkapnya.
Selanjutnya, Amran telah meminta Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) agar menyerap langsung ayam dan telur ke seluruh SPPG.
"Permintaannya adalah MBG. MBG agar menyerap telur ayam. Kami sudah tertulis resmi dan telepon langsung Kepala MBG, sudah setuju. Ke MBG, ayam, daging ayam dengan telur. Kalau dulu makan satu kali, kalau dia turun harga (bisa makan) tiga kali. Sekarang harganya (telur) kan sudah naik, merangkak naik kan," ungkap Amran.
Sebelumnya, sejumlah peternak ayam petelur yang tergabung dalam Aksi Damai Peternak Rakyat Sulawesi menyuarakan kondisi usaha peternakan yang dinilai semakin tertekan, sambil membagikan ayam dan telur gratis kepada masyarakat dan pengendara yang melintas.
Aksi itu dilakukan sebagai bentuk penyampaian aspirasi kepada pemerintah sekaligus menggambarkan kondisi yang dihadapi peternak akibat tingginya biaya produksi dan anjloknya harga telur.
Penanggung Jawab Aksi Damai, Basuki Suyuti, yang juga merupakan peternak asal Kabupaten Maros dan Gowa, mengatakan krisis yang dialami peternak telah berlangsung selama sekitar empat bulan. Kondisi tersebut membuat sebagian peternak bahkan tidak lagi mampu menanggung biaya pakan.
"Peternak terpaksa membagikan ayam secara gratis kepada masyarakat karena sudah tidak mampu lagi membiayai pakan ayam," ujar Basuki, Senin (10/8).
Selain ayam, peternak juga membagikan telur kepada masyarakat. Menurutnya, rendahnya harga jual telur membuat hasil produksi tidak lagi sebanding dengan biaya yang dikeluarkan.
"Saat ini, harga pakan di tingkat lapangan disebut berada di kisaran Rp20 ribu hingga Rp21 ribu per kilogram. Kondisi tersebut turut meningkatkan beban operasional peternak.
Basuki menyebut, peternak harus menanggung kerugian sekitar Rp3.000 hingga Rp4.000 per rak telur setiap hari. Dalam kondisi tertentu, biaya operasional disebut dapat mencapai sekitar Rp38 ribu hingga Rp40 ribu per rak.
"Angka ini masih jauh dari target awal (Rp24 ribu) maupun target HAP (Harga Acuan Pemerintah) sebesar Rp26.500 per kilogram. Jika dikalkulasikan, hal ini berdampak pada biaya operasional sebesar Rp38 ribu hingga Rp40 ribu per rak," ungkapnya.