Ketika Sebuah Foto Keluarga Menjadi Hadiah untuk Masa Depan

Fujifilm | CNN Indonesia
Jumat, 14 Agu 2026 14:34 WIB
President and CEO, Representative Director Fujifilm Holdings Corporation, Teiichi Goto, berinteraksi dan berfoto bersama anak-anak menggunakan kamera Instax. (Foto: Arsip Fujifilm)
Jakarta, CNN Indonesia --

Suasana di ruangan itu hening, tetapi penuh antusiasme. Anak-anak duduk menunggu sambil sesekali melirik ke arah kamera instax yang perlahan mengeluarkan foto-foto yang baru saja mereka abadikan.

Begitu hasil cetakan muncul, senyum mereka langsung merekah. Ada yang memperlihatkan fotonya kepada teman di sebelah, ada pula yang memandangi hasil cetakan itu lebih lama sebelum menyimpannya dengan hati-hati.

Pemandangan sederhana itu menjadi salah satu momen yang paling membekas bagi President, CEO, dan Representative Director Fujifilm Holdings Corporation, Teiichi Goto, saat mengunjungi program instaxnesia di Indonesia. Di tengah perkembangan teknologi digital, ia justru melihat bagaimana sebuah foto cetak masih mampu menghadirkan pengalaman yang berbeda.

"Saya senang melihat anak-anak saling menunjukkan foto yang baru saja dicetak dan berbagi kebahagiaan dengan teman-temannya. Momen seperti inilah yang membuat sebuah foto menjadi benar-benar bermakna," katanya kepada CNN Indonesia, Rabu (20/5).

Menurut Goto, momen ketika mereka berbagi foto instax memperlihatkan bagaimana sebuah gambar dapat menjadi medium yang menghadirkan kedekatan. Senyum yang muncul bukan hanya berasal dari hasil foto itu sendiri, tetapi juga dari interaksi yang tercipta setelahnya.

Bagi Goto, apa yang ia lihat hari itu menjadi gambaran nyata dari tujuan Fujifilm, 'Giving our world more smiles'. Di balik kata senyum yang sederhana, tersimpan makna yang lebih dalam. Tentang kehidupan yang dipulihkan, harapan yang dihadirkan kembali, serta ikatan manusia yang saling menguatkan.

Senyuman tidak hanya lahir dari kebahagiaan, tetapi juga dari rasa terhubung, dari kepedulian yang menjembatani jarak, dan dari momen-momen kecil yang membuat hidup terasa lebih utuh.

"Bagi saya, tujuan hidup bukanlah sesuatu yang dicari, melainkan alasan mengapa saya hadir di dunia ini. Senyum memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar ekspresi wajah. Di dalamnya terdapat makna yang jauh lebih berarti. Tentang kesejahteraan, kebahagiaan, dan hubungan dengan manusia lain," ujar Goto.

Menghidupkan Kembali Kenangan

Foto: Arsip Fujifilm

Dalam kesempatan yang sama, Goto menjelaskan alasan mengapa fotografi tetap memiliki peran penting meski masyarakat kini semakin terbiasa menyimpan gambar di perangkat digital.

Menurutnya, foto memiliki kemampuan unik untuk menghidupkan kembali suasana yang pernah dialami seseorang. Sebuah gambar dapat memunculkan kembali ingatan tentang suara, aroma, hingga perasaan yang hadir pada saat foto tersebut diambil.

"Dengan melihat foto, kita bisa membayangkan suara yang terdengar saat itu atau suasana yang dirasakan di sana. Itulah kekuatan foto," imbuh dia.

Hubungan emosional dengan fotografi sudah ia rasakan sejak kecil. Goto tumbuh di lingkungan yang akrab dengan kamera karena sang ayah gemar mengabadikan berbagai momen keluarga.

Ketika beranjak remaja, ia mulai memiliki kamera sendiri dan aktif memotret. Hingga kini, banyak foto lama yang masih mampu membawanya kembali pada kenangan masa lalu.

"Saat melihat foto lama, saya bisa mengingat suara yang saya dengar waktu itu dan perasaan yang saya rasakan saat itu. Semua memori itu kembali muncul," ucapnya.

Maka dari itu, Goto meyakini bahwa fungsi fotografi sebagai penyimpan dan penghubung kenangan akan tetap relevan di masa depan. Ia menilai pengalaman melihat foto yang dicetak memiliki kesan yang berbeda dibanding hanya melihat gambar di layar ponsel.

Menurutnya, foto cetak lebih mudah menjadi bagian dari keseharian. Ketika dipajang di meja kerja, ruang keluarga, atau tempat yang mudah terlihat, foto dapat terus mengingatkan seseorang pada momen dan orang-orang yang bermakna dalam hidupnya.

"Saya melihat budaya itu juga ada di Indonesia. Banyak orang meletakkan foto keluarga atau orang-orang penting bagi mereka di meja kerja. Menurut saya, kita bisa menciptakan budaya melalui foto," kata Goto.

Budaya yang dimaksud adalah kebiasaan untuk menjaga kedekatan dengan orang-orang terdekat melalui foto-foto yang hadir dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan tersebut juga ia terapkan sendiri.

Goto selalu membawa beberapa foto pribadi, termasuk foto cucunya. Foto itu menjadi salah satu pengingat yang selalu menghadirkan rasa hangat setiap kali ia melihatnya.

Ketika Nilai Perusahaan Diterjemahkan Secara Lokal

Foto: Arsip Fujifilm

Bagi Fujifilm, kunjungan Teiichi Goto ke Indonesia bukan sekadar agenda perusahaan. Kehadiran orang nomor satu di Fujifilm Corporation itu menjadi cerminan bagaimana filosofi global perusahaan diterjemahkan menjadi aksi nyata di tingkat lokal.

Selama puluhan tahun, Fujifilm berkembang dari perusahaan fotografi menjadi perusahaan global yang menghadirkan beragam solusi dan teknologi inovatif di berbagai bidang, mulai dari healthcare, imaging, electronics hingga business innovation.

Di balik beragam lini bisnis tersebut, perusahaan tetap berpegang pada satu tujuan yang sama, yakni Giving our world more smiles. Filosofi tersebut menjadi landasan Fujifilm untuk tumbuh bersama masyarakat dan menciptakan nilai yang lebih luas dari sekadar menghadirkan produk atau teknologi baru.

Salah satu wujud nyatanya terlihat melalui program instaxnesia yang dijalankan Fujifilm Indonesia. Menariknya, inisiatif ini tidak lahir dari arahan kantor pusat, melainkan dari aspirasi para karyawan di Indonesia yang ingin menerjemahkan group purpose perusahaan ke dalam kegiatan yang dekat dengan kebutuhan masyarakat.

Fujifilm meyakini bahwa dampak sosial yang berkelanjutan lahir ketika nilai perusahaan tidak hanya dipahami, tetapi juga dijalankan oleh karyawan dalam keseharian mereka.

Melalui tema First Family Photo: A Gift for the Future, program ini mengajak anak-anak panti asuhan merasakan pengalaman memiliki foto keluarga bersama orang-orang yang menjadi bagian penting dalam kehidupan mereka di panti asuhan, mulai dari para pengasuh hingga teman-teman terdekat.

Momen kebersamaan tersebut diabadikan dalam bentuk foto cetak sebagai kenangan yang merekam hubungan dan rasa kekeluargaan yang tumbuh di antara mereka.

Di tengah minimnya dukungan emosional yang mereka dapati, foto tersebut diharapkan menjadi kenangan berharga yang dapat mereka simpan sekaligus pengingat bahwa mereka pernah merasakan perhatian, kasih sayang, dan kebersamaan.

Teknologi untuk Menjawab Tantangan Sosial

Bagi Goto, peran teknologi tidak berhenti pada inovasi. Yang lebih penting, menurutnya, adalah bagaimana teknologi dapat menjawab kebutuhan masyarakat dan memberikan manfaat yang nyata.

Ke depan, ia berharap Fujifilm dapat terus memanfaatkan teknologi yang dimiliki untuk menjawab berbagai tantangan sosial sekaligus menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Ia menegaskan bahwa semangat tersebut telah menjadi bagian dari perjalanan panjang Fujifilm sejak berdiri puluhan tahun lalu. Bagi perusahaan, inovasi tidak hanya diukur dari kecanggihan teknologi, tetapi juga dari kemampuan teknologi tersebut menghadirkan nilai bagi kehidupan manusia.

Pada akhirnya, bagi Goto, inovasi selalu kembali pada satu pertanyaan sederhana, apakah teknologi yang dimiliki Fujifilm dapat membantu menjawab persoalan yang dihadapi Masyarakat? Pertanyaan inilah yang menjadi salah satu dorongan bagi Fujifilm untuk terus berkembang dan menghadirkan manfaat yang lebih luas.

"Kami ingin menghadirkan perubahan di dunia, satu senyuman pada satu waktu," tutupnya.

(rir)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK