Livin' by Mandiri Tembus 41 Juta Pengguna, Digitalisasi Kian Efisien

Bank Mandiri | CNN Indonesia
Jumat, 14 Agu 2026 15:28 WIB
Foto: Arsip Bank Mandiri
Jakarta, CNN Indonesia --

Perpindahan transaksi nasabah ke kanal digital mulai mengubah cara PT Bank Mandiri (Persero) Tbk menjalankan bisnis. Tak hanya mengejar pertumbuhan pengguna, digitalisasi kini menjadi salah satu instrumen perseroan untuk meningkatkan skala layanan tanpa harus menambah beban operasional secara sebanding.

Gambaran itu terlihat dari pertumbuhan pengguna aplikasi Livin' by Mandiri yang telah mencapai sekitar 41 juta pengguna terdaftar hingga Juni 2026. Jumlah tersebut tumbuh 24,3 persen secara tahunan (year on year/yoy), dengan akuisisi rata-rata sekitar 27 ribu pengguna baru setiap hari.

Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini mengatakan peningkatan pemanfaatan kanal digital memberikan dampak terhadap produktivitas dan efisiensi perseroan.

Hal tersebut tercermin dari rasio Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) bank only yang berada di level 57,6 persen pada semester I 2026. Rasio itu membaik 6,2 poin dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Menurut Novita, besarnya volume transaksi yang berpindah ke kanal digital membuat bank dapat melayani nasabah dengan biaya yang lebih efisien dibandingkan jika seluruh transaksi dilakukan melalui jaringan kantor cabang.

Ia mengungkapkan, volume transaksi di Livin' apabila harus dilayani melalui jaringan konvensional akan setara dengan sekitar 11.500 transaksi per hari atau sekitar 1.700 transaksi per jam layanan di setiap kantor cabang.

"Digital bukan sekadar kanal transaksi, melainkan fondasi utama dalam menghadirkan layanan yang lebih cepat, lebih efisien, dan mampu menjangkau lebih banyak masyarakat maupun pelaku usaha di seluruh Indonesia," kata Novita.

Transformasi serupa juga berlangsung di segmen bisnis. Platform Kopra by Mandiri mencatat sekitar 354 ribu pengguna terdaftar hingga Juni 2026, meningkat 26,8 persen secara tahunan.

Menariknya, sekitar 84 persen pengguna Kopra merupakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Bank Mandiri pun terus menambah fitur untuk mendukung aktivitas bisnis, termasuk DHE Tracker serta layanan e-Documents untuk trade dan bank garansi.

Dengan demikian, digitalisasi tidak hanya menyasar nasabah ritel melalui Livin', tetapi juga mulai menjadi bagian dari aktivitas operasional pelaku usaha melalui Kopra.

Pergeseran transaksi ke platform digital juga memberi dampak terhadap sumber pendapatan Bank Mandiri.

Hingga Juni 2026, Bank Mandiri mencatat laba bersih konsolidasi sebesar Rp30,4 triliun, tumbuh 24,4 persen secara tahunan. Dari sisi kredit bank only, penyaluran mencapai Rp1.592 triliun atau tumbuh 19,9 persen yoy. Sementara dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp1.710 triliun atau naik 17,1 persen yoy.

Pertumbuhan laba tersebut turut ditopang pendapatan nonbunga, terutama fee-based income yang bersifat berulang. Fee dari Livin' tercatat tumbuh 46 persen, sedangkan fee dari Kopra meningkat 22,8 persen.

Artinya, digitalisasi bagi Bank Mandiri tidak berhenti pada pengurangan ketergantungan terhadap transaksi di kantor cabang. Kanal digital juga menjadi sumber aktivitas ekonomi baru yang menghasilkan pendapatan berbasis transaksi.

Di sisi lain, ekspansi tersebut tetap dibarengi pengelolaan risiko. Rasio kredit bermasalah atau NPL gross bank only tercatat 0,98 persen pada Juni 2026, sementara cost of credit berada di level 0,52 persen. NPL coverage ratio juga terjaga di 242 persen.

Dengan kombinasi pertumbuhan pengguna, peningkatan transaksi digital, efisiensi biaya, dan kenaikan pendapatan berbasis komisi, Bank Mandiri menempatkan transformasi digital bukan sekadar sebagai strategi layanan, tetapi sebagai bagian dari model pertumbuhan bisnis perseroan.

(ory/ory)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK