CORE Indonesia Tanggapi Target Ekonomi 6 Persen di RAPBN 2027

CNN Indonesia
Jumat, 14 Agu 2026 18:46 WIB
Masyarakat berburu perlengkapan sekolah dan alat tulis di Pasar Asemka, Tamansari, Jakarta Barat, Rabu, menjelang tahun ajaran baru yang akan dimulai. (CNN Indonesia/Adi ibrahim)
CORE Indonesia menilai target pertumbuhan ekonomi Indonesia 6 persen dalam RAPBN 2027 terlalu optimistis, mengingat pertumbuhan 5,5 persen jarang tercapai. (FOTO:CNN Indonesia/Adi ibrahim).
Jakarta, CNN Indonesia --

Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia menanggapi pidato nota keuangan Presiden Prabowo Subianto yang menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di rentang 5,8 persen hingga 6,5 persen dalam Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (RAPBN) 2027. 

Angka tersebut juga lebih tinggi dari target APBN 2026, yakni 5,4 persen.

Direktur Riset Bidang Makroekonomi, Kebijakan Fiskal dan Moneter CORE Indonesia Akbar Susamto menilai target tersebut terlalu optimistis, mengingat angka pertumbuhan RI jarang menyentuh level 5,5 persen. 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain itu, CORE Indonesia menilai belum ada alasan kuat untuk meyakini ekonomi Indonesia bisa bertumbuh ke kisaran 6 persen tahun depan.

"Jika benar bahwa asumsi pertumbuhan ekonominya adalah 5,8-6,5 persen tentu saja kita tahu itu asumsi yang sangat optimis," ujar Akbar dalam forum bertajuk Mengupas Pidato Presiden RI & Nota Keuangan dan RAPBN 2027, Jumat (14/8).

Akbar juga menyebutkan secara historis pertumbuhan ekonomi Indonesia masih jarang menembus level 5,5 persen, bahkan nyaris belum pernah terjadi. Kondisi ini sekaligus mencerminkan kualitas kemampuan RI dalam mendorong pertumbuhan ekonomi signifikan.

"Sehingga kalau sekarang targetnya (RAPBN 2027) 5,8 persen misalnya, apalagi sampai 6,5 persen itu jelas sangat optimistik," jelas Akbar.

[Gambas:Youtube]

Selain rekam historis, Akbar menilai belum ada sentimen kuat baik saat ini maupun proyeksi tahun depan yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi ke level 6 persen. 

"Rasanya belum ada alasan yang bisa membuat kita menjadi sangat optimistik, di mana pertumbuhan ekonomi sekitar 6 persen," kata Akbar.

Ia menjelaskan sentimen untuk mendorong pertumbuhan ekonomi tak hanya dipengaruhi faktor domestik, tetapi juga faktor eksternal. Sejak Februari 2026, kondisi ekonomi global terus dihantui situasi geopolitik, hal ini turut memengaruhi ketidakpastian ekonomi di Indonesia.

"Jadi faktor eksternal dan internal itu belum ada yang bisa memberikan kita alasan untuk begitu yakin bahwa kita akan mencapai itu," tandas Akbar.

(lil/ins)