Lebih dari 1.000 Perusahaan Jepang Bangkrut, Tumpuk Utang Rp26,4 T
Sebanyak 1.028 perusahaan bangkrut dengan meninggalkan utang 236,6 miliar yen atau sekitar Rp26,4 triliun (asumsi kurs Rp111,75 per yen).
Mengutip Japan Today, Senin (11/8), Tokyo Shoko Research menyebut jumlah perusahaan bangkrut meningkat 6,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu dan menembus 1.000 kasus selama 2 bulan berturut-turut.
Adapun total utang perusahaan melonjak 41,4 persen secara tahunan (yoy).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penyebab utama lonjakan utang dipengaruhi oleh Zentoshin, perusahaan penyedia sistem transaksi kartu kredit asal Osaka.
Perusahaan yang banyak melayani restoran dan pelaku usaha lainnya itu menyatakan bangkrut pada Juli dengan total utang mencapai 115,16 miliar yen (Rp12,87 triliun).
Perusahaan Riset Kredit Teikoku Databank Ltd menyebut kebangkrutan Zentoshin kemungkinan menjadi kasus kebangkrutan terbesar di Jepang sepanjang tahun ini.
Selain itu, kebangkrutan juga diakibatkan kekurangan tenaga kerja, yang mencapai rekor 63 kasus pada Juli lalu. Dari jumlah tersebut 36 kasus disebabkan oleh kenaikan biaya tenaga kerja atau dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya
"Perusahaan tidak dapat mengatasi kenaikan upah untuk mengamankan tenaga kerja, tapi arus kas mereka memburuk karena menaikkan upah di luar kemampuan ketika tidak mampu menghasilkan pendapatan yang cukup," ujar seorang pejabat perusahaan riset tersebut.
Kebangkrutan yang disebabkan oleh kenaikan harga juga meningkat menjadi 93 kasus, tertinggi sejak 2022. Pelemahan yen juga juga mendorong kenaikan biaya material dan bahan baku.
Berdasarkan sektor usaha, perusahaan bangkrut meningkat secara tahunan pada tujuh dari sepuluh sektor, termasuk konstruksi, ritel, dan transportasi.
Sektor informasi dan komunikasi mencatat lonjakan kebangkrutan 62,5 persen. Kasus tersebut mencakup perusahaan perangkat lunak yang semakin terdampak akibat luasnya penggunaan teknologi yang menggunakan artificial intelligence (AI).
Selanjutnya, sektor jasa mencatat kebangkrutan sebanyak 342 kasus.
Lebih lanjut, perusahaan kecil dengan total utang kurang dari 100 juta yen menyumbang hampir 80 persen dari keseluruhan kasus kebangkrutan di pada Juli 2026.
(lil/sfr)