Sampah Kota Belum Diolah Optimal, ESDM Dorong Sulap Jadi Listrik

CNN Indonesia
Jumat, 21 Agu 2026 03:45 WIB
Jalan Raya Terusan Ryacudu yang tidak jauh dari arah pintu tol Kota dijadikan tempat pembuangan sampah sembarangan. Kondisi tumpukkan sampah di badan jalan itu, selain merusak pemandangan juga menimbulkan bau tidak sedap dan terkesan jorok. (CNNIndon
Kementerian ESDM mengungkapkan timbunan sampah perkotaan yang mencapai 71 juta ton per tahun belum diolah optimal. Ilustrasi. (CNNIndonesia/Zainal).
Jakarta, CNN Indonesia --

Kementerian ESDM mengungkapkan timbunan sampah perkotaan yang mencapai 71 juta ton per tahun belum diolah optimal. Padahal, sampah bisa diolah menjadi sumber listrik.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengungkapkan berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), sampah yang berhasil dikelola atau diproses baru sekitar 25 persen atau setara 17,8 juta ton.

"Total sampah perkotaan di Indonesia diproyeksikan mencapai sekitar 71 juta ton setiap tahun. Namun, tingkat sampah yang berhasil dikelola atau diproses baru sekitar 25 persen, setara dengan 17,8 juta ton," ujar Yuliot dalam Indonesia Sustainable Energy Week (ISEW) 2026 di Jakarta, Rabu (19/8).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Artinya, sekitar 75 persen atau 53,2 juta ton sampah masih belum dikelola dengan baik dan berpotensi mencemari lingkungan.

Yuliot menilai jumlah tersebut sekaligus menunjukkan besarnya potensi sampah untuk diolah menjadi sumber energi apabila pemilahan dilakukan sejak dari sumbernya.

Ia menjelaskan sampah organik memiliki potensi pengolahan sekitar 50 persen. Jenis sampah tersebut didominasi sisa makanan rumah tangga yang dapat diolah menjadi kompos, biogas, maupun melalui teknologi fermentasi.

Sementara itu, sekitar 25 persen sampah lainnya merupakan material yang dapat didaur ulang, seperti plastik, kertas, kaca, dan logam.

Khusus sampah plastik, Yuliot menyebut Indonesia menghasilkan sekitar 9 juta ton per tahun. Namun, tingkat daur ulangnya masih rendah, yakni hanya sekitar 7-12 persen.

"Jika sampah dipilah sejak dari sumbernya, terdapat potensi besar untuk mengolah sampah tersebut. Sampah organik berpotensi diolah menjadi kompos, biogas, atau melalui teknologi fermentasi," katanya.

Selain pengolahan dan daur ulang, pemerintah juga menyiapkan kebijakan untuk memanfaatkan sampah residu yang tidak dapat didaur ulang maupun terurai sebagai sumber energi alternatif.

Yuliot mengatakan sampah residu tersebut dapat dimanfaatkan melalui teknologi waste-to-energy atau pembangkit listrik tenaga sampah serta produksi bahan bakar terbarukan.

"Pemerintah telah menerbitkan kebijakan mengenai sampah residu dengan potensi energi tertentu, sehingga sampah yang tidak dapat didaur ulang atau terurai dapat diproses menjadi sumber energi alternatif melalui teknologi waste-to-energy dan bahan bakar terbarukan," ujarnya.

Menurut Yuliot, pengembangan energi berbasis sampah menjadi salah satu bagian dari strategi pemerintah untuk memperluas pemanfaatan energi nonfosil sekaligus mengatasi persoalan pengelolaan sampah di perkotaan.

[Gambas:Video CNN]

(lau/sfr)