Trump Umumkan Operasi Ekonomi Besar-besaran Buat Kucilkan Iran

CNN Indonesia
Kamis, 20 Agu 2026 11:53 WIB
U.S. President Donald Trump gestures during a press conference on the day of a NATO leaders' summit in Ankara, Turkey, July 8, 2026. REUTERS/Stoyan Nenov
Trump mengumumkan operasi ekonomi besar-besaran untuk mengisolasi Iran. Negara mana pun yang membantu atau berbisnis dengan Teheran bakal dihukum berat. (Foto: REUTERS/Stoyan Nenov)
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan operasi ekonomi besar-besaran untuk mengisolasi Iran.

Tekanan ekonomi yang semakin intensif ini dilakukan Trump ketika perang melawan Iran memasuki bulan keenam. Hingga kini belum terlihat jalan keluar diplomatik maupun militer dalam waktu dekat.

"Hari ini saya mengumumkan operasi ekonomi paling menghancurkan yang pernah diterapkan terhadap negara mana pun! Ini akan menjadi perang ekonomi dan isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya," tulis Trump di Truth Social, Kamis (20/8).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Operasi ekonomi Trump itu menyasar negara mana pun yang membantu atau melakukan bisnis dengan Iran. Ia mengancam akan memberikan hukuman ekonomi 'luar biasa berat' kepada negara tersebut.

"Saya juga mengumumkan bahwa setiap negara yang mengizinkan lembaga keuangan, perusahaan, bandara, atau entitas pemerintahnya memberikan bantuan dalam bentuk apa pun kepada Iran akan menghadapi konsekuensi ekonomi yang luar biasa berat," imbuhnya.

Trump tidak menjelaskan secara spesifik hukuman yang akan dikenakan terhadap negara yang membantu atau berbisnis dengan Iran tersebut.

Pengumuman operasi ekonomi ala Trump itu disampaikan hampir sepekan setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan Washington akan memberlakukan isolasi ekonomi terhadap Iran.

Meski aksi saling serang baru-baru ini mereda, Iran masih menerapkan blokade efektif terhadap pelayaran melalui Selat Hormuz. Blokade dilakukan setelah kesepakatan sementara AS-Iran untuk membuka kembali jalur strategis tersebut gagal tercapai.

Dalam beberapa hari terakhir, kedua pihak mengatakan masih saling bertukar pesan.

Namun pada Selasa kemarin (19/8) Trump menegaskan pembicaraan telah dihentikan. Ia juga mengunggah pesan di media sosial yang mengisyaratkan bahwa Selat Hormuz dapat menjadi 'wilayah baru AS'.

[Gambas:Youtube]

(pta/ins)